SEMALAM SAYA naik taksi dari Jl. Sudirman sampai ke rumah di Meruya dan jalanan macet sekali sehingga memerlukan waktu 1.5 jam. Seperti biasanya saya selalu memulai percakapan tanpa memperkenalkan diri dengan topik yang ringan sampai berat, tergantung respon dari sopir itu sendiri. Mengapa saya ingin menulis tentang dia karena orang ini memang unik, ceria dan senang ngobrol. Namanya Edi tapi katanya sering dipanggil Yahya juga oleh orang di kampungnya yaitu Cikeas. 

Percakapan awal saya adalah :  “Tahun depan pilpres nih, bapak pilih siapa?” Dia menjawab : “Prabowo lah bu, dari dulu juga saya mah pilih Prabowo, kakak saya saja setengah bodoh dan memilih petahana tapi sekarang dia menyesal ! hidup makin susah !” . Kemudian mulailah dia bercerita tentang kondisi ekonomi keluarga dan pekerjaannya sebagai sopir taksi yang sudah dijalani selama 30 tahun tetapi beberapa tahun terakhir ini pekerjaannya sebagai sopir taksi tidak dapat lagi menghidupi keluarga dengan layak. Sudah beberapa hari ini setoran dia juga tekor sehingga tidak ada lagi uang yang bisa dia kirim ke kampung. Dia tinggal di mess yang disediakan oleh perusahaan dan beberapa minggu sekali pulang kampung untuk menengok keluarga. Setiap beberapa hari misalnya 3 hari dia titip uang sebesar Rp. 100.000 kepada temannya yang mau pulang kampung.

Dia bercerita kalau minggu lalu ketika pulang kampung uang yang ada di dompet dia hanya sebesar Rp. 30.000 dan itu untuk ongkos pulang dari Cikeas ke Jakarta. Tiba tiba cucunya yang masih balita minta uang untuk membeli es krim. Dia pura pura tidak mendengar sampai istrinya berteriak :”dasar pelit lu, cucu mau minta es krim aja ga lu kasih”. Dalam hati dia menangis karena ingin membelikan cucu es krim tapi nanti dia ga ada ongkos untuk bekerja. Akhirnya dia mengambil radio menimang nimang cucu sampai dia tertidur dan membatin, “Ya Alloh, kalau saya meninggal besok maka saya akan menyesal karena tidak bisa membelikan cucu es krim”. 

Anaknya yang bungsu SMA kelas 1 dan  per hari harus ada uang Rp. 20.000 untuk transportasi dan uang jajan. Akhir akhir ini anak itu mengeluh tidak mau sekolah lagi karena kalau tidak ada uang Rp. 20.000 per hari maka dia tidak mau pergi ke sekolah. 

Dia bilang sama istrinya kalau dia tidak punya uang, eh malah diomelin katanya jangan jangan uang dipakai buat selingkuh . “Aduh bu….boro boro saya mau selingkuh, buat makan saja susah dan hanya bisa makan warteg Rp 10.000 per kali makan, itu pun sering kali berhutang sama warung. Lagipula istri saya cantik dan saya masih cinte sama die, walaupun istri saya begimana begimana tetep saja saya mah sabar”.  Kemudian dia mengutip ayat ayat dalam Al Quran dengan bahasa Arab yang sangat fasih mengenai filosofi hidup suami istri. Dia bilang bahwa dia tidak pernah mengenal perempuan lain dan begitu pula sang istri tidak pernah mengenai pria lain karena mereka menikah muda saat 22 dan 17 tahun. Mereka saling setia. Jarang jarang tuh.. 

Istrinya sering bilang : “kalau ga punya duit, jangan mancing aja lu kerjaannya kalau pulang ke rumah”. “ Aduh bu…padahal mancing itu cuma jalan beberapa langkah dari rumah saya dan juga cuma di kali ga pake duit. Mancing itu hiburan saya satu satunya setelah berminggu minggu penat dengan kehidupan di Jakarta, dasar perempuan, emang bawel ya bu”.  Saya hanya tersenyum. 

Tidak hanya sampai disitu kutipan dia mengenai ayat ayat suci yang dia lafalkan sepanjang percakapan yaitu mengenai amal ibadah, hidup dalam gotong royong, bagaimana kita harus menghormati sesama,  beriman dalam menghadapi hidup dan sebenarnya yang sedang dia lakukan adalah berdakwah tanpa dia sadari, masyalloh…

Sampai sampai saya bertanya apakah bapak ini sekolah di pesantren atau bagaimana. Dia bilang tidak tetapi sewaktu kecil orang di kampungnya harus belajar agama dengan baik. 

Sampailah saya di rumah dengan selamat, tetapi sungguh…..he is so inspiring…. percakapan dengan dia mengalir, orangnya easy going dan saya berdoa semoga dia dan keluarga dimudahkan dalam mencari rejeki, sehat walafiat dan tetap menjadi orang orang beriman sekalipun banyak kesulitan yang dihadapi. 

Melihat banyaknya orang yang masih hidup di bawah standar yang layak dan miskin serta jauh dari sejahtera maka tentu ada yang salah dengan tata kelola negara dan bangsa ini selama puluhan tahun merdeka dan ini tidak boleh terus dibiarkan. Harus ada keadilan sosial. Orang orang yang bekerja dengan rajin harus dapat menghidupi keluarga dengan layak, pangan, sandang, papan dan pendidikan harus terpenuhi. Harus ada perubahan ! Negara tidak boleh lupa dengan sila ke 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat INDONESIA. 

“2019 ganti presiden pak?”  “pasti bu, Prabowo Presiden !”. Amin….

Salam Indonesia Raya,

[Oleh : Agnes Marcellina, politisi dan penulis]


Redaksi media Opiniindonesia.com menerima artikel opini dari para pembacanya. Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, dapat dikirimkan kepada : redaksi@opiniindonesia.com. Terima kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here