by

Kalau Tak Ingin PKI Bangkit, Menangkan Prabowo

MALAM INI menjelang dini hari, persis 53 tahun silam, Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan pengkhianatan dan percobaan kudeta berdarah. Di bawah komando Kolonel Untung, pasukan dari resimen Cakrabirawa menculik dan membunuh enam (6) jenderal dan satu pama. Alhamdulillah, perbuatan makar ini bisa ditumpas.

Perlahan situasi keamanan pulih. PKI dinyatakan terlarang. Komunisme dikubur agar tak menjadi masalah lagi. Nyatanya, suasana memang tenang. Bahkan, perkembangan internasional di akhir 1980-an dan awal 1990-an, membuat orang yakin bahwa komunisme telah mati. Saya pun yakin PKI tak akan pernah berkedip lagi.

Saya menjadi “dismissive” (meremehkan) teriakan banyak orang bahwa PKI bakal bangkit. Alasan saya sama seperti keyakinan banyak orang, bahwa paham komunis tak mungkin hidup lagi di Indonesia. Sebab, di negeri asalnya saja sudah bangkrut.

Komunis tak disukai di Tiongkok, Rusia, Vietnam, Jerman Timur, Balkan, atau Eropa Timur pada umumnya. Komunis juga mulai ditinggalkan di Angola (Afrika) dan di beberapa negara Amerika tengah dan selatan.

Cukup masuk akal. Betul juga! Mana mungkin komunis bangkit dan berkembang lagi di Indonesia. Begitu keyakinan saya tempohari.

Tapi, akhir-akhir ini saya merevisi keyakinan itu. Saya mulai percaya bahwa PKI dengan ideologi komunisnya, ingin bangkit lagi. Saya melihat berbagai indikasi ke arah itu.

Setelah kejatuhan Pak Harto, tampak dengan jelas adanya gerakan dan upaya untuk memperjuangkan ruang hidup bagi PKI. Semua orang tahu perjuangan ini didukung oleh salah satu parpol yang menjadi “tempat berlindung” orang-orang yang masih penasaran untuk mengembangkan kembali ideologi komunis. Yang bertekad untuk menghidupkan kembali PKI.

Lewat partai yang punya hubungan historis dengan PKI, para pejuang komunisme tsb melancarkan upaya politik. Upaya untuk melegalkan kembali partai dan ideologi yang dilarang itu. Mereka semakin berani terang-terangan. Mereka percaya diri menunjukkan ke-PKI-annya.

Dengan bantuan sejumlah “LSM hak asasi”, mereka memperjuangkan pencabutan Tap MPRS No 25/1966 tentang larangan PKI. Walau ini belum terlaksana, mereka kemudian berusaha agar pemerintah meminta maaf atas jatuhnya korban di pihak PKI ketika mereka melancarkan pemberontakan 30 September 1965.

Memang agak aneh. Mereka melancarkan kudeta. Mereka membunuh enam jenderla dengan sadis dan biadab. Mereka membunuh banyak warga sipil. Tapi sekarang mereka menuntut agar negara meminta maaf. Semua orang heran, minta maaf untuk apa?

Dalam beberapa tahun ini, anasir-anasir PKI mulai nekat menunjukkan identitas. Di berbagai tempat, sejumlah orang memakai kaus O-blong yang bergambar palu-arit. Ini adalah lambang PKI. Corat-coret prokomunisme bermunculan. Bahkan ada yang arogan menulis buku yang berjudul “Aku Bangga Menjadi Anak PKI”. Sangat gamblang.

Dengan semua pertanda ini, masihkah tak percaya PKI akan bangkit lagi? Berat untuk tak percaya. Saya membayangkan cara-cara agresif mereka untuk mendapatkan kembali hak hidup PKI. Saya juga merasa ngeri kalau PKI akhirnya mendapatkan asas legal yang mereka inginkan.

Lebih ngeri lagi adalah membayangkan pemerintahan yang lemah dan tunduk pada tekanan penganut paham komunis. Saya masih ingat, sekitar bulan Mei 2016, seorang pejabat tinggi mengatakan bahwa kaus palu-arit bisa jadi “trend” anak muda. Jawaban yang enteng. Sementara bendera kalimat tauhid dikejar-kejar dan difitnah macam-macam.

Karena itu, Indonesia memerlukan pemerintah yang kuat. Yang tidak akan memberikan ruang kepada PKI dan komunisme.

Tahun depan kita akan memilih presiden. Nah, dari uraian di atas, sangatlah pantas dipesankan kepada seluruh rakyat bahwa “Kalau tidak ingin PKI bangkit kembali, mari menangkan Prabowo Subianto di pilpres 2019”.

Harap dicatat, rakyat —khususnya kaum muslimin— akan menghadapi musuh dari segala arah. Ditambah denga ancaman kebangkitan PKI, pastilah situasi umat semakin berat. Sekali lagi, mari kita perjuangkan kemenangan Prabowo-Sandi demi terbentuknya pemerintahan yang kuat dan berdaulat.

[Oleh : Asyari Usman, wartawan senior]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed