Sekeras halilintar pun genderang perang yang kau tabuhkan padaku
Sebusuk bangkai pun sumpah serapah yang kalian semburkan padaku
Setajam sembilu pun pedang yang kalian huluskan padaku
Sedalam palung pun kuburan yang kau siapkan untukku
Aku tidak akan berperang dengan kalian karena kalian adalah saudaraku
Aku hanya berperang, jika kalian menjadi pengkhianat dan menjadi perampok bangsa ini – Prabowo Subianto

SEJAK SORE hingga malam tadi berita klarifikasi Ratna Sarumpaet (RS) menyeruak di beranda social media dan pemberitaan media mainstream.

Hal tersebut, menyeruak sebagai anti klimaks dari pemberitaan satu hari sebelumnya (2/10/2018) soal dugaan penganiayaan Ratna Sarumpaet.



Apapun motifnya, Ratna Sarumpaet lah yang paling bertanggungjawab atas berita yang ramai jadi perbincangan publik. Kendati demikian, kasus RS ini tetap saja dikait-kaitkan dengan sosok Prabowo Subianto.

Penulis teringat dengan kata bijak manusia bisa bohong, tapi tidak akan mungkin berbohong secara sempurna. Bohong dalam KBBI didefinisikan tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya atau dusta. Artinya secara harfiah, kata bohong ini bisa dimaknai secara luas.

Sebagai contoh, pemerintah yang berjanji tapi saat menjabat tidak mampu menepatinya, juga bisa dimaknai kebohongan, dan seterusnya.

Mengaitkan kebohongan RS terhadap integritas Prabowo Subianto sebagai kandidat Pilpres 2019 karena terlanjur konferensi pers bagi penulis terlalu jauh. Sebab merujuk pada kondisi diatas juga bisa diartikan bahwa Jokowi hari ini posisinya belum mampu melunasi janji Pilpresnya secara keseluruhan. Nah, sekarang bisakah kita menyebut Jokowi berbohong? Pembaca bisa simpulkan sendiri.

Bagi sebagian orang mungkin boleh saja merasa risih. Tapi bagi seorang Prabowo Subianto ia sudah matang dalam bersikap. Membaca rekam jejaknya, Ia banyak dikhianati dan dibohongi. Serta tidak sedikit diantaranya yang memfitnah.

Ketua Umum Partai Gerindra ini tidak lahir dan besar begitu saja. Ia banyak ditempa oleh waktu dan pengalaman. Bahkan Prabowo pernah mengusung rivalnya hari ini dimasa lalu dalam Pilkada DKI Jakarta 2012 silam.

Lantas dari serangkaian penghianatan terhadap Prabowo. Pernahkah kita mendengar Ia merasa marah dan dendam? pribadi penulis belum pernah mendengarnya sekalipun.

Bagi saya Prabowo adalah Prabowo. Sosok tegas berhati emas. Ia memiliki empati yang tidak semua orang memilikinya. Prabowo difitnah, dibenci, dan dihujat, Prabowo tetaplah mutiara.(*)

[Oleh : Asran Siara, Sekjen Literatur Institut]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com