ISU TENTANG penganiayaan Ratna Sarumpaet ternyata cerita bohong belaka. Perempuan berusia 70 tahun ini mengakui itu hanya kisah rekayasa. Dia tega membohongi banyak orang, termasuk sejumlah tokoh penting bahkan sekelas Prabowo Subianto.

Jujur saya marah sekaligus kecewa kepada Ratna. Di saat negeri ini penuh dengan kepalsuan dan butuh kebenaran, dia malah ikut menyumbang kebohongan. Ngehe abis memang…

Demokrasi Mati, Jika Kebebasan Berpendapat Dipasung



Tapi saya lebih marah bila ada yang menyebut Prabowo memyebarkan hoax. Apa yang dilakukan Prabowo sudah tepat. Dia mengutamakan empati sebagai manusia. Sama seperti kita ketika menerima kabar duka dari seorang teman. Persoalan ceritanya jujur atau tidak, tentu waktu yang akan membuktikan. Dan Ratna terbukti bohong.

Prabowo bukan penebar hoax. Prabowo adalah korban hoax. Sama seperti yang dialami Jokowi, SBY dan kebanyakan dari kita. Prabowo baru bisa dikatakan menyebarkan hoax apabila mengetahui rencana kebohongan Ratna dan menyampaikan kepalsuan di depan publik. Sementara yang Prabowo lakukan hanyalah aksi empati kepada seorang perempuan.

Masih ingat dengan bocah baru gede bernama Afi Nihaya? Kala itu perhatian kita tersedot dengan ulahnya. Media massa over expose. Sejumlah acara talk show mengundang dia. Banyak orang pintar dan berpendidikan terperdaya oleh karya tulis Afi.

Penguasa tidak mau ketinggalan momen. Mereka undang Afi ke Istana. Diundang makan hingga selfie bersama Jokowi. Sejumlah menteri dan kepala daerah pun latah ikutan selfie. Kala itu, Afi seakan menjadi sumber inspirasi.

Belakangan diketahui tulisan yang beredar ternyata bukan karya Afi. Dia hanya copy paste tulisan dari Mita Handayani. Jokowi, para menteri dan kita semua tertipu. Mereka yang sudah kadung mengendorse Afi apakah layak disebut menyebarkan hoax? Tentu tidak. Posisi mereka adalah korban hoax.

Kemarin kita menjadi korban hoax dari ABG bernama Afi Nihaya, hari ini kita menjadi korban hoax dari seorang manula bernama Ratna Sarumpaet. Oh iya lupa, bahkan SBY juga pernah menjadi korban hoax dari proyek blue energy dari orang dekatnya kala masih menjabat presiden.

Kita hidup di era informasi yang datang begitu deras dan cepat. Kita semua perlu belajar mengunyah informasi, tapi tetap harus mendahulukan empati. Jangan sampai karena kasus Ratna, kita menjadi apatis dan menganggap hoax saat menerima kabar duka. Sikap kemanusiaan tetap harus didahulukan.

Lantas, pasca manuver Ratna Sarumpaet ini apakah saya akan mengubah sikap dukungan di Pilpres nanti?

Hmmm… Gimana ya. Bagi saya salah memilih tim sukses lebih baik daripada salah memilih presiden. Hehehe…

Bersama kita lawan kepalsuan, bersama kita lawan kebohongan. (*)

[Oleh : Tb Ardi Januar. Penulis adalah politisi muda]

(*) Untuk membaca tulisan Tb Ardi Januar, silahkan KLIK DI SINI.


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com