POLITIKUS DENGAN suara cekak dan kumpulan buzzer ngehe masih doyan dan bersemangat membahas isu Ratna. Kebohongan Ratna mereka justifikasi sebagai strategi kebohongan dari kubu lawan. Mereka seperti dapat amunisi untuk menyerang lawan politik yang kian hari ratting-nya semakin naik.

Padahal, Ratna sudah mengakui kesalahan dan menjalani proses hukuman. Isu tentang Ratna ibarat masakan sudah gosong dan masih terus digoreng. Benar kata Rocky Gerung, menggoreng sesuatu yang sudah gosong adalah kedunguan.

Kini mereka tuding sederet nama turut terlibat dalam menciptakan strategi kebohongan. Padahal mereka semua sama-sama menjadi korban kepalsuan. Ada pertanyaan kenapa pihak oposisi tidak memverifikasi karangan Ratna? Loh, mau verifikasi kemana kalau narasumber utama mengaku demikian? Logika mereka seperti tidak jalan.

Dalam strategi komunikasi politik ada yang disebut spin doctor. Yakni, menciptakan kegaduhan baru untuk menutupi atau mencegah kegaduhan lain. Tujuannya, mengangkat elektabilitas dan mendegradasi pihak lawan. Jadi jangan heran, mereka memang sedang bekerja serius guna menyikapi elektabilitas yang terus mangkrak.

Dari kasus Ratna, mereka ingin kita tidak lagi membahas dana rehabilitasi korban gempa bumi di NTB yang sampai hari ini belum bisa dicairkan. Padahal warga NTB menunggu realisasi janji yang pernah diucapkan. Warga NTB masih hidup dalam ketidakpastian.

Dari kasus Ratna, mereka ingin kita tidak membahas kondisi Palu dan Donggala secara mendalam. Ada warga yang tewas bukan karena tsunami tapi karena kelaparan, ada insiden penjarahan di sejumlah swalayan, ada temuan alat deteksi tsunami yang tidak bisa digunakan, ada cerita bantuan yang lamban, dan sederet cerita lain yang menyedihkan.

Dari kasus Ratna, mereka ingin kita tidak membahas nilai tukar dollar yang kian menggila. Sudah menyalahkan Amerika, sudah menyalahkan Argentina, bahkan sudah menyalahkan Italia. Entah negara peserta piala dunia mana lagi yang mau disalahkan. Mereka meyakinkan kenailan dollar tak ada imbas ke perekonomian. Tapi faktanya, harga kebutuhan kian menggila.

Dari kasus Ratna, mereka ingin kita tidak membahas sekitar triliunan uang negara yang akan dihabiskan untuk menjamu pesta pora negara-negara kaya di Pulau Dewata. Berdasarkan pengakuan Kepala Bappenas, ada 569 miliar untuk biaya akomodasi penginapan, ada 190 miliar untuk biaya makan, ada 90 miliar untuk kenang-kenangan. Bahkan ada 57 miliar yang disiapkan untuk biaya hiburan. Ironi, mereka berpesta saat sebagian saudara kita tengah dirundung duka.

Dari kasus Ratna, mereka ingin kita lupa dengan sederet janji yang gagal ditepati. Mulai dari isu ekonomi, lapangan kerja, pertahanan, pangan, kedaulatan, dan lain sebagainya. Bila isu-isu ini dibahas, bisa rusak mereka punya elektabilitas.

Aneh memang, dari sekian banyak persoalan yang mendera, ada segelintir orang masih betah dan terus menerus membahas prilaku tak terpuji yang dilakukan nenek berusia 70 tahun. Padahal orangnya sudah mengakui kesalahan dan sudah mendekam di jeruji tahanan. Ajaib bukan…?

Hmm, inilah sederet cerita yang hampir luput dari sorotan publik. Di balik karangan cerita operasi plastik, terasa kental muatan operasi politik. (*)

[Oleh : Tb Ardi Januar. Penulis adalah politisi muda]

(*) Untuk membaca tulisan Tb Ardi Januar, silahkan KLIK DI SINI.


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com