BISMILLAH. PERKENALKAN saya Siti Oniah, istri dari bpk Mardani Ali Sera. Pagi ini jam 11 lbh 15 menit lebih kurang. Rumah kami didatangi 2 anak muda laki-laki

Suamiku beserta aspri setianya sudah di teras rumah. Beliau hendak menuju mobil dan akan pergi menunaikan urusan.

Kepergian suamiku tertahan dengan hadirnya 2 pemuda tadi. Kulihat dari ruang tamu, beliau menandatangi surat-surat.



Setelah tanda tangani surat, senyum dan untai kata manis diucap,” semoga sukses selalu Dik…”

Aku penasaran lantas ke luar rumah, dan bertanya pada aspri suami, “Siapa itu Wan…?”

“Polisi Bu…, Kasih surat pemanggilan atas kebohongan Ratna Sarumpaet (RS)”

“Dug…'” Hatiku geram dan emosi.

Siapa yg berbohong, siapa yang dilaporkan. Ini polisi kok “Jaka sembung naik ojek” alias gak nyambubg Jek.

Aku geram juga sama suamiku yang sempet-sempetnya pake senyum-senyum ketika dikasih surat panggilan dari Polda. Mau aku robek-robek aja tuh surat.

Dengan nafas terengah menahan amarah aku semprot juga tuh aspri suami, “Kamu kok tidak bilang-bilang sih klo itu polisi yg kasih surat panggilan gara-gara SR.” Ucapku bersungut.

“Mau ibu damprat tuh polisi,” aku merutuk lagi.

“Masih ada tuh bu kayaknya polisinya di depan rumah,” ucap aspriku.

Akhirnya dengan semangat 45 ku turun dari rumahku yg memiliki banyak tangga. Alhamdulillah tidak jatuh walau turunnya tergesa.

Ku kejar dua polisi muda itu. Setelah sampai di hadapannya. Aku langsung damprat: “Hai…kamu kasih surat pelaporan gara2 SR ya?’

“Iya bu…” Jawab ke duanya kompak.

“Heh… kamu ngerti nggak sih? Siapa yg berbohong. Siapa yg mau ditangkap? “Dasar polisi ini kerja sama dengan rezim,” ucapku dengan njemblak.

“Nanti aja bu bicaranya di Polda jangan di sini,” ucap polisi muda itu mencoba sabar menghadapiku. Tentu dia wajib sabar ya. Kalau tuh polisi melawan dengan omelan juga pasti sapu lidi dan sapu lantai yg ada di halamanku sudah aku pentungkan.

Belum puas aku menumpahkan kekesalan, omelanku berlanjut, “Hai polisi…kamu tahu nggak? Rumah aku tuh dibom. Tp sampai sekarang gak diusut. Tidak diapa-apain. Padahal nyawa taruhannya”

“Dasar polisi gk adil. Aku gk suka,” ucapku sambil menunjuk police line yg masih membentang di kebun samping rumahku.

Dua polisi muda itu tak meladeni omelanku. Mereka pun masuk mobil kemudian terdengar derumannya meninggalkan komplek Iqro Pondok Gede.

Entah apa yg tersirat di hati mereka. Aku juga gk mau mikirin. Mari semangat semua. Keadilan di Negeri ini hanya dongengan belaka.

“Abi.. tenang ya, klo engkau dipanggil ke Polda, aku akan ikut…. aku akan menemani perjuanganmu. Semoga aku gk perlu gebrak2 meja ya,” janji hatiku.

Dengan laporan urusan SR ini kekasih-KU sedang menyapa kembali. Agar aku selalu kerap mendesahkan rintih rindu pada-Nya.

Agar aku senantiasa merindui dan melekati kalam-Nya dengan kelekatan yg pekat.

Rabbi…segala sesuatu taqdir-Mu adalah yg terindah. Ajari aku…untuk selalu menemukan keindahan- keindahan dalam taqdirmu.

[Oleh : Siti Oniah, istri politisi Mardani Ali Sera. Sebelum diterbitkan di media ini, tulisan sudah viral di medsos]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com