MENGENAL NAMANYA saya sudah lama. Waktu itu saya berusia 7 tahun. Saya ikut pencak silat Satria Muda Indonesia. Paman saya seorang pelatih silat di perguruan tersebut dan memajang fotonya di dinding kamar. Sekeluarga kami mengenal nama ini lewat jalan itu. Lewat program yang Ia inisiasi, anak-anak muda berbakat dilatih menjadi pendekar-pendekar muda terbaik dengan ikut program khusus di Batu Jajar.

Sejak dulu, Ia sudah mencintai pencak silat, seni tradisi bela diri asli Indonesia. Maka dari itu, ketika beberapa waktu yang lalu Silat menyumbangkan banyak Emas dalam Asian Games ddan Organisasi pencak silat IPSI di bawah kepemimpinan beliau mendapatkan reward di tengah publik, kita tentu tak usah kaget.

Maaf Pak Prabowo, Kado Ultahnya Belum Bisa Sekarang ya

Jangankan kita, Pak Jokowi saja mengakui itu. Ia selalu berkorban untuk apa yang Ia yakini sebagai sebuah kebenaran. Untuk para pesilat itu, Ia berkorban materi pribadi untuk mendukung prestasi.

Artinya, itu sebuah prestasi yang bukan hasil sulap sim salabim. Itu ada hasil konsistensi kecintaan beliau pada pencak silat sejak lama. Prabowo telah melewati apa yang disebut Malcolm Gladwell sebagai teori 10.000 jam. Keahlian di bidang silat jauh sebelum keramaian politik menyapa kehidupannya.

Kemudian semuanya melompat begitu cepat. Saya dibawa waktu untuk mengenal beliau tidak lagi dari kejauahan. Dari Kakak saya. Kakak saya kebetulan seorang tenaga medis yang ditugaskan untuk melakukan terapi pada alm Ibu beliau di Rumah sakit Darmanugraha Jakarta.

Waktu itu, lewat kakak saya, saya mendengar langsung tradisi keluaraga ini. Merawat Ibunya yang sudah sakit tua. Prabowo harus menjadi orang biasa. Dia bergantian jaga dengan Hashim dan Bianti. Kakaknya.

Kakak saya berinteraksi langsung dengan keluarga ini. Tidak ada cerita. Jika waktunya Prabowo piket jaga Ibunya, ya dia harus jadi petugas jaga. Layaknya semua kita jika orang tua kita yang terbujur sakit karena tua, Prabowo pun melakukannya. Biasanya kalau waktu Prabowo jaga, dia senantiasa bawa buku bacaan.

Prabowo membaca buku tebal-tebal untuk membunuh waktu, menjaga Ibunda Dora. Khas nya lagi. Ada seekor Anjing herder setia yang menemani beliau kemanapun.

Petugas medis yang berjaga mulanya agak takut. Tapi si Tuan memastikan. Tenang saja. Dia menjaga Tuannya. Jika ada Prabowo, Anjing itu patuh. Tak bergeser sedikitpun. Mungkin macam Anjing setia di Ashabul Kahfi.

Kakak saya bercerita. Prabowo ramah, Pak Hashim ramah. Bu Bianti yang sedikit galak. Dan di antara mereka bersaudara kalau bercakap-cakap menggunakan bahasa Inggris atau Belanda. Mereka sepertinya memang berfikir dalam bahasa Inggris.

Usut punya usut, akhirnya Kakak saya tahu bahwa keluarga ini memang memiliki bahasa Ibu dalam Bahasa Inggris. Jauh sebelum bahasa ala-ala anak Jaksel jadi trend sekarang sekarang ini, literally Prabowo adik beradik memang tumbuh dan berkembang sejak golden ages menggunakan bahasa Inggris. Dari SD sampai SMA ia sekolah di luar negeri, sampai akhirnya pulang ke tanah air untuk menempuh pendidikan militer.

Banyak cerita lucu kemudian hari soal perjuangan Prabowo yang “mimpi” nya saja dalam Bahasa Inggris ini untuk belajar Bahasa Indonesia. Salah satu contoh bagaimana Prabowo muda yang bingung dengan istilah “anak buah” bertanya pada Soe Hok Gie, Maher Algadrie, dan Yusuf Ketua KAPI kala itu. Dia dikerjai dengan jawaban “fruit boy”.

Dengan lugunya Prabowo merekam itu sebagai anak-anak tukang anter buah. Belakangan ia baru faham, tiga orang ini sedang mengerjainya. Anak buah arti sesungguhnya adalah bawahan. Gie mati muda. Hidup berputar, Bowo yang tadinya anak buah Maher dan Yusuf di KAPI kini gantian menjadi anak buah di Partai Gerindra.

Belakangan saya baru tahu, Bianti itu memang kakak tertua. Jangankan tenaga medis. Prabowo dan Hashim pun takut padanya. Seperti kita semua. Kakak tertua selalu begitu.

****

1998 – 2018 (20 tahun terakhir Prabowo Subianto)

Prahara 1998 terjadi. Karena intrik politik tingkat tinggi Prabowo Subianto berhenti dari dinas kemiliteran. Karena fitnah dan intrik tingkat tinggi, Prabowo kehilangan posisinya di militer. Kehilangan kesempatan pada cita-citanya sejak kecil yang senantiasa ingin mengabdi pada negara.

Tak lama setelah itu, istri yang dicintai meninggalkannya. Karena fitnah keji, Ia harus berpisah dengan istri dan putera yang Ia cintai. Fitnah itu memang keji. Wajar memang baginda Nabi menyebut, jika kita memfitnah orang lain, kita layaknya seorang kanibal yang memakan daging saudaranya sendiri.

Pembunuhan itu keji, menghilangkan nyawa fisik seorang makhluk. Maka fitnah itu lebih keji, menghilangkan jiwa yang kena fitnah. Ibarat kata orang, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Lantas apa yang Prabowo lakukan? Menyerahkah Ia? Patah arangkah Ia? Bagaimana Ia bersikap menerima kenyataan hidup yang sangat pahit ini.

Ini yang akan saya lebih tekankan dalam tulisan saya kali ini. Pada seorang Prabowo kita bisa belajar banyak hal 20 tahun ke belakang. Tentang apa? Tentang konsistensi dalam satu hal secara terus menerus: Mencintai Indonesia!

Bahkan ketika prahara hidup menerpanya, Ia mengubahnya menjadi energi balik yang justru tak pernah terfikirkan oleh orang-orang yang berkehendak karier Prabowo mati saat itu.

Mungkin kepada siapapun anak-anak Indonesia yang pernah mengalami kejatuhan dalam hidup, pada Prabowo kita bisa belajar tentang bagaimana untuk bangkit. Saripati dari kehidupan Prabowo adalah tentang jatuh dan bangkit.

***

Jika kita bisa sedikit lebih tenang dan tidak dibawa emosi. Baik emosi mendukung berlebihan, atau membenci berlebihan, Prabowo di ulang tahunnya ke 67 kali ini layak kita beri cinta yang murni. Lewat doa yang tulus suci. Supaya ia bisa semakin enjoy untuk menampilkan dirinya yang apa adanya itu. Kenapa begitu? Mari kita runut.

Seandainya Prabowo yang dikalahkan fitnah itu menyerah begitu saja pada kekalahan hidup yang ia alami dan Ia manut saja. “Udahlah saya berbisnis saja”. Menarik diri dari hiruk pikuk, ikut dan manut dengan Hashim. Mungkin cerita Indonesia tidak seperti sekarang ini. Tidak ada Jokowi, tidak ada Ahok, tidak ada Anies, apalagi Sandi. Pun Ridwal Kamil.

Ia mengasingkan diri sejenak. Lantas kembali. Ia sadar alam Indonesia pasca Soeharto adalah alam Demokrasi. Ia segera beradaptasi.

Jika saat di dunia militer, ia pakai disiplin militer tingkat tinggi. Ia ikuti semua aturan yang berlaku di militer tersebut, rule of the game, path karier. Maka ketika alam demokrasi menerpa Indonesia. Dia segera beradaptasi. Ia masuk ke dalam sistem politik sipil.

Sebagai anak didikan Ilmuwan Cendikiawan Barat yang sangat demokratis dan berfikiran terbuka tentu hal ini tidak asing bagi kehidupannya. Ia kemudian masuk ke dalam perjuangan sipil dengan menggunakan jalur partai politik.

Ibarat Ike Esenhower, jendral veteran pimpinan sekutu dalam perang dunia. Setelah pensiun dari militer, Jendral Ike terjun ke dalam politik menjadi politisi sipil lewat partai dan kemudian menjadi presiden.

Oya, tentang sikap kerasnya dalam dunia militer. Ini perlu saya paparkan sedikit. Kerap menjadi rumor dan dijadikan gunjingan untuk menyerang pribadi beliau.

Saya ceritakan sedikit, sebelum kita lanjut.
Kalaupun bukan rumor, ceritanya tapi dipotong setengah-setengah. Cerita beliau menempeleng anak buah dijadikan bumbu bahwa dia impulsif, otoriter, dan temperamental.

Padahal jika kita runut dengan agak tenang. Atasan militer mana yang tidak menempeleng anak buahnya yang salah? Ini dunia militer. Bukan ormas, perusahaan, apalagi start up digital.

Di militer, pertaruhan Anda bukan untung rugi atau menang kalah. Tapi adalah hidup dan mati. Proses seperti itu harus dilewati seseorang yang dengan sadar memilih jalan hidup dengan karier ini.

Dalam konteksnya sebagai komandan pasukan khusus, siapapun komandan terbaik saat itu akan melakukan hal demikian. Dia ditempeleng jika salah dan menempeleng jika anak buah salah. Toh ada guyon dari anak buahnya, jika sudah kena tempeleng Prabowo, maka alamat karier atau rejeki akan segera membaik.

Ada seorang jendral bintang tiga aktif bercerita. Suatu kali Ia melakukan kesalahan cukup fatal di Timor Timur. Kena tempeleng lah dia. Selepas menempeleng, Prabowo naik ke heli.

Tak lama selepas heli lepas landas, heli itupun turun. Jendral mantan ajudan presiden RI di kemudian hari ini pun kembali risau.

Ada apa ini, kok komandan turun lagi. Prabowo turun lagi dari helikopter. Yang terjadi adalah, “eh, sakit ya tadi, udah, maafin saya, ini supaya kamu lebih baik, ini uang saku tambahan”. Senanglah sang anak buah. Terbukti kemudian hari, “fruit boy” nya ini berhasil di kemiliteran dan sekarang memiliki bintang tiga aktif.

Karena kode etik cerita dan melindungi keamanan narasumber, tidak bisa saya sebutkan terang benderang nama jendral ini di sini. Takut keriernya nanti semakin moncer pula haha.

Kebiasaan ini jadi semacam pameo di mata sersan-sersan selon di kalangan Kopassus. Jika habis uang bulanan, pura-pura buat kesalahan di depan bapak, supaya kena tempeleng, dan dapat bonus tambahan selepas itu. Ini maksud saya di atas. Ceritanya jadi rumor tak terkendali, tidak utuh, dan melebihi kejadian aslinya.

Jadi saya lebih senang dengan istilah yang kemudian hari ia kemukakan. Dia sentimentil bukan otoriter. Spektrum jiwanya begitu luas. Jika ia marah, ya dia ga tanggung-tanggung. Namun jika dia sudah terharu, kadang orang yang didekatnya suka dibuat bingung. Jika ia sayang seseorang, orang tersebut pasti akan mendapatkan keberuntungan hidup.

***

Kembali pada kesadaran dan keyakinan pada demokrasi yang saya sebut di atas, setelah kalah dalam konvensi partai golkar di tahun 2004 oleh seniornya Jendral Wiranto, akhirnya Prabowo move on, dan mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya di tahun 2008.

Menjadi calon Wakil Presiden Ibu Megawati di tahun 2009 koalisi PDI Perjuangan dan Partai Gerindra. Namun kembali, Ia tak berhasil mengalahkan Presiden petahana Jendral SBY, temannya di bangku akademi militer Magelang tempo dulu.

Mulailah kisah Prabowo sejak 2008 tidak bisa dilepaskan dari kisah tentang Partai Gerindra sebagai partai politik. Jika dulu jembatan keledai fikiran masyarakat Kopassus adalah Prabowo dan Prabowo adalah Kopassus. Maka kini berganti.

Gerindra adalah Prabowo dan Prabowo adalah Gerindra. Dengan menggunakan kendaraan politik Partai Gerindra ia mengumpulkan orang orang seluruh Indonesia yang tertarik, dan sesuai dengan platform perjuangan yang Ia usung.

“Nama saya Prabowo Subianto, saya mencintai Indonesia” burung garuda terbang tinggi.

Usahanya tidak berhenti mendapatkan dukungan politik dari masyarakat. Kalah di Pemilu 2009 Ia terus berjalan.

Sampailah di tahun 2012, Gerindra datang membawa terobosan, memecah kebuntuan mencalonkan Jokowi dan Ahok sebagai calon gubernur dan wakil gubernur di DKI Jakarta. Padahal kala itu pada mulanya PDI Perjuangan tidak menginginkan pasangan ini. Lewat proses politik yang dinamis dan alot, akhirnya kejadian.

Lahirlah dua nama baru dalam politik kita karena kreatifitas politik Prabowo Subianto: Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama.

Lantas semuanya menjadi biasa saja. Seolah Jokowi dan Ahok sudah kita kenal lama. Harapannya waktu itu tentu, jika Jokowi jadi Gubernur DKI Jakarta, dia bisa mendukung Prabowo untuk menjadi Presiden menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono.

Sampai detik akhir bahkan, Prabowo tidak yakin bahwa Jokowi akan maju sebagai penantangnya. Demikianlah. Selanjutnya mahkamah sejarah mencatat.

Jokowi yang dia bawa ke Jakarta, justru berbalik arah, menjadi kompetitormya, lantas kemudian yang terjadi, terjadilah. Prabowo dikalahkan oleh Jokowi. Prabowo mungkin berfikir kala itu dia sudah kreatif membawa Jokowi ke Jakarta. Ternyata di balik kebersahajaannya, Jokowi lebih kreatif lagi, melompat laksana kilat, ketika dia mencium peluang lebih tinggi lagi.

Marahkah Prabowo? Dendam kah Ia?

Ini cerita yang menarik. Kemudian saya yang dibawa oleh arus sejarah masuk ke dalam. Pihak-pihak yang terlibat di dalam menjadi saksi dan bercerita kepada saya.

Seluruhnya, sekeliling beliau waktu itu merasa dikhianati, ditusuk, ditikam dari belakang. Dikalahkan, mengalami kepahitan, dan memberi saran tidak usah datang di pelantikan Jokowi. Buat apa datang dalam pelantikan orang yang sudah durhaka meninggalkan kita dalam perjalanan. Begitu kira-kira suana batin para pendukungnya kala itu.

Begitu kira-kira masukan seluruh keliling utama Prabowo. Dia pergi menjauh. Masukan dari sekeliling ia terima. Dia pergi keluar negeri untuk beberapa saat. Semua gembira, Alhamdulillah Prabowo ga datang. Tapi semua kaget, tepat H minus 1 pelantikan Presiden Jokowi dia kembali.

Dia datang ke pelantikan Presiden Jokowi. Dia yang bersusah payah membawa Jokowi ke Jakarta, mungkin dengan rencananya tersendiri, tapi Tuhan berkehendak lain, Jokowi yang jadi. Dia datang dengan ksatria. Ia beri hormat pada Jokowi di Gedung parlemen, seluruh Indonesia menonton dengan takzim.

Bagi dia hari terus berlanjut. Jokowi bukan lagi orang biasa yang dia beri rekomendasi partai lantas mendapat jabatan lebih tinggi. Kini Jokowi adalah seorang presiden. Datang di pelantikannya dan memberi hormat adalah sikap ksatria. Apapun kata sekelilingnya. Prabowo bertanya pada hatinya. Mencari di inner voicenya, mencari jawab pada fu’ad-nya. Dan itulah yang benar yang ia lakukan.

***

Waktu terus berjalan. Tak terasa 10 tahun sudah Partai Gerindra sejak 2008 hingga 2018. Jika 1998-2008 satu dasawarsa adalah fase berhenti sejenak, menarik diri, melihat sekeliling, masuk ke dunia baru yang selama karier di militer tak dimasuki: dunia orang sipil. Mengurus Kerukunan Tani, mengurus pedagang pasar, berbisnis bersama adik tercinta Hashim.

Maka 2008-2018 adalah fase berpartai. Menjadi orang sipil dan bergerak terus dalam koridor politik demokrasi dengan segala aturan mainnya. Di sini kita bisa melihat, menilai, dan memberi timbangan yang lebih adil. Impulsifkah Prabowo? Oriterkah dia? Keras kepala kah dia. Saya rasa tidak.

Dia mau bertolak angsur, bernegosiasi, banyak mendengar, menimbang banyak kepentingan. Tanpa harus kehilangan karakter korsa, ksatria dan setia kawannya.

Marah ketika ada yang salah, membela ketika anak buah dirugikan, dan mengambil alih tanggungjawab jika memang itu harus ia lakukan. 10 tahun terakhir adalah pembuktian. Dalam politik menjadi baik saja tidak cukup, Anda harus kuat. Sehingga Anda tidak bisa diatur atur orang lain.

Maka dari itu, kekuatan itu ada dengan mempunyai partai sendiri yang bedaulat. Membangun partai politik. Sebagai soko guru demokrasi suatu negara. Prabowo percaya No democracy without political party. Tidak ada demokrasi yang kuat tanpa partai politik yang kuat.

Dia melakukan kaderisasi. Setiap tahun selama satu dasawarsa ribuan anak-anak muda ditempa lewat pendidikan politik Gerindra di kawah candradimuka Hambalang. Prabowo memiliki seorang anak kandung biologis, tapi ia memiliki ribuan anak kandung ideologis.

Jika Steve Jobs punya teori “the grade a team”, maka inipun ia lakukan. Dia percaya dengan intelektualitas dan anak-anak muda yang kualitas grade A. Lulusan terbaik universitas dalam dan luar negeri dia tarik menjadi tim intinya di Gerindra. Ada yang lulusan Akademi Militer di Amerika, Jepang. Ada yang lulusan Ivy League untuk memperkuat sayap lain di dalam kelompok usahanya.

Tidak peduli apapun latar belakang keluarga Anda. Siapapun orang tua Anda, apapun profesinya. Bahkan ketika Anda anak petani, tapi anda memenuhi syarat merit di atas. Beliau akan respek.

Jika Anda punya prestasi, memiliki intelektualitas, dan akademik yang baik. Tidak usah khawatir. Anda orang yang tepat untuk berbicara dengan Prabowo. Tidak usah ragu, dia yang anda ajak bicara tidak seperti yang dipersepsikan di luaran sana. Too much kabut hitam dan deception yang menimpa dia.

Namun, di era media sosial ini, sepertinya hal ini yang sulit. Kesejatian seorang Prabowo akan lebih mudah terbuka bagi banyak orang. Seorang prabowo yang asli. Prabowo yang sesungguhnya. The Real Prabowo.

Ketika orang-orang menilai pragmatisme akut dalam politik terjadi, kita bisa mendengar kesaksian orang orang hebat seperti Anies Baswedan, Sudirman Said, Sandiaga Uno. Orang-orang baik yang pada akhirnya terbuka mata, telinga, dan hatinya tentang Prabowo sesungguhnya. Ikut bergabung dalam barisannya.

Ia memberikan kesempatan kepada orang orang terbaik untuk menggunakan Partai Gerindra sebagai kendaraan politik guna perjuangan mendapatkan kursi eksekutif. Anies dan Sudirman bersaksi, dia tidak keluar uang sepeserpun untuk mendapatkan itu. Satu untuk DKI Jakarta. Satu untuk Jawa Tengah.

Setelah beberapa bulan menjabat, Anies Baswedan sempat saya tanya, “gimana mas, bos lama, bos baru, apa bedanya?” Maksud saya hendak menggali hikmah. Jawaban Anies diluar dugaan saya.

“Bedanya bos lama bos baru. Bos baru suka baca. Ada aja referensi baru bacaanya, bos lama ga”.

Prabowo membaca pengetahuan dari berbagai sumber buku dan referensi sendiri. Dia pun berinteraksi dengan tokoh-tokoh di bidangnya tanpa perantara siapapun.

Ini membuatnya menjadi kuat dan kokoh. Namun, di sisi yang lain, di sana pula sesekali kelebihannya itu menjadi kelemahan, jika sudah percaya dengan orang tersebut, ia percaya begitu saja. Kadang ada juga para penunggang gelap yang memanfaatkan karakter dasarnya yang seperti itu.

Dalam periode ini pulalah, kebenaran terbuka satu demi satu. Waktu akhirnya menjawab semuanya. Kesibukannya yang tinggi untuk hal-hal yang saya sebut di atas. Perkaderan dan kegerindraaan adalah cara membunuh kesepian dan hal-hal pribadinya.

Istri yang dulu berpisah, kini kembali datang dalam bentuknya yang baru. Persoalan yang dahulu fitnah, sekarang sudah clear. Mereka bahu membahu kembali. Anak yang tadi jauh, sekarang ada di sisi memberi cintanya yang murni kepada sang Ayah, membantu Ayah dalam hal design dan kreatifitas.

***
Duh masih panjang yang hendak saya tulis. Rasanya sudah melewati syarat minimal menulis di linimasa. Maklum generasi sekarang katanya pembosan dan ga bisa baca lama-lama. Saya sudahi dulu. Nanti saya lanjutkan. Kalau semua ditulis sekarang, saya ga ditunggu-tunggu lagi. Hehehe

Dirgahayu 67 Prabowo Subianto. Semua orang ada masanya. Setiap masa ada orangnya. Semoga Allah meridhai sisa usiamu. Dan sekarang masanya!

Go Go Prabowo Go!
Jangan pernah berhenti mencintai Indonesia.

Selamat Ulang Tahun Bapak

[Oleh : Miftah N. Sabri, Jurkamnas Prabowo-Sandi]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com