ASYIK, MEREKA goreng “Masalah Boyolali”. Gerakin massa. Basis Merah. Nyerang Prabowo. Mencoba ciptakan “Momentum”. Lupakan polemik mobil esemka dan usia KH. Maruf Amin.

Sir Isaac Newton dalam karya “Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica”, merilis “hukum aksi-reaksi”. Lex III menyatakan “Actioni contrariam semper et æqualem esse reactionem: sive corporum duorum actiones in se mutuo semper esse æquales et in partes contrarias dirigi.”

Eksploitasi “Tampang Boyolali” adalah Puncak Kepribadian Cengeng

Versi Inggris-nya berbunyi: “When one body exerts a force on a second body, the second body simultaneously exerts a force equal in magnitude and opposite in direction on the first body”.

Aksi Pro Joko pada Gorengan Boyolali akan menuai reaksi. Magnitudenya sesuai besaran aksi yang dirilis. Semakin keras, reaksinya akan semakin keras. Ujungnya, Jokowi-Maruf tumbang.

Newton’s Lex III sudah terbukti di Amerika. Gerakan protes Anti-Trump merupakan key success Donald Trump.

Salah satu sebabnya, Anti-Trump protests was baseless dan massif. Pasca Trump dinyatakan menang pilpres, Trio jahanam “liberal-demokrat-komunis” merilis ancaman akan gelar 750 demonstrasi Anti-Trump di 50 negara bagian. Semasa kampanye, setiap hari mereka gelar aksi Anti-Trump.

Klik Democrat dan Bernie Sanders socialist-communist culprit menghina Trump sebagai idiot, a fool, a liar, racist, sexist, homophobic, anti-immigrant, anti-Mexican, incompetent, lazy, unfocused, greedy, hateful, fascist, tyrannical dan Hitler-esque.

Semua orang paham, Kubu Anti-Trump sedang melakukan manuver “attention-seeking theatrics” dengan melontarkan social media grenades into cyberspace. Alhasil; Tetep Tumbang. Karena ya itu tadi, they are baseless.

Salah satu contoh Kopongnya Anti-Trump bisa dilihat saat Trump menyebut North Korean dictator Kim Jong Un sebagai “rocket man”.

Orang Korea nyantai. Yang kesel justru Kubu Democrat (musuh Trump). Former vice-president Joe Biden merespon Trump. “North Korea is not a game. Trump’s threat is just not — it’s not presidential,” katanya.

Lalu Presiden Trump menempatkan tiga aircraft carriers dan multi-ship strike groups di laut Jepang.

Ngga lama kemudian, “Diktator Kim” mengumumkan rencana mengakhiri 68 tahun Perang Korea dan berjanji melakukan “denuclearize” sebagai syarat yang diminta Trump.

Joe Biddens, Obama, Hillary, liberals dan communist gigit jari. Trump sukses menyelesaikan masalah North Korea.

Setelah gagal menjatuhkan Pa Prabowo di skandal Hoax Ratna Sarumpaet, mereka coba lagi mengail di Polemik Boyolali.

Semua orang tau, Pa Prabowo adalah korban Ratna. Pidato Prabowo merupakan “teasing”, not bullying, di soal “Tampang Boyolali”. Esensinya bukan itu. Teasing Boyolali itu ekspresi saking dekat dan akrabnya Pa Prabowo dengan kader-kader Boyolali.

Intelek gadungan menyarankan supaya Pengikut Prabowo tidak menggubris serangan fitnah dan framming musuh politik. “Ntar juga ilang sendiri,” begitu katanya.

Menurut saya, justeru polemik ini mesti dibesarkan. Pa Prabowo dan pengikutnya jangan diam. Lawan dan Gebukkk…!!

Kita ambil lagi referensi dari pertarungan politik Hillary versus Trump.

Trump balik menyerang semua media penyebar fake news. Trump tolak minta maaf terkait opininya soal Mac Cain. Setelah diserang Megyn Kelly dari Fox News, Trump merilis counter attack bertubi-tubi. Trump tertawa dan nyerang balik Khizr Khan pasca Khan Family manggung beraksi theatrical.

Pembenci Trump mengatakan, “It’s not about red or blue. Bukan masalah Partai Republik versus Demokrat. Ini masalah harga diri dan keselamatan nasional Amerika”.

Itu bullshit..!! Nyatanya, mereka sedang menghantam Trump demi memenangkan Hillary. It is not about national issues.

Di sini, semua orang paham; seluruh serangan terhadap Pa Prabowo adalah upaya memenangkan Jokowi-Maruf. Itu saja masalahnya.

[Oleh : Zeng Wei Jian, penggiat media sosial]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com