CALON PRESIDEN Nomor Urut 02 Prabowo Subianto tak berhenti jadi perhatian para pengguna media sosial. Terkini, video dirinya yang ‘mengoreksi kesalahan’ saat membacakan Pancasila pun tersebar luas di media sosial.

Seolah dituntut untuk selalu menjadi sempurna, Prabowo yang kepleset saat membacakan sila ke-4 pancasila diperbincangkan dan diserbu pengkritiknya.

Netralitas Media : Prabowo Asx (anjixx) Vs Tampang Boyolali

Padahal Prabowo tidak lupa sila ke-4 Pancasila, karena sesaat setelah Prabowo sempat salah sebut dengan kalimat ‘Kemanusiaan yang…’. Prabowo kemudian langsung mengoreksinya.

Berikut potongan ucapan Prabowo saat berpidato dan membacakan Pancasila dalam video tersebut:

Saya mau katakan, saya sudah pertaruhkan nyawa saya untuk pancasila,NKRI. Jangan hanya teriak-teriak, buktikan bahwa pancasila itu 5 silanya, iya kan?

Ketuhanan yang Maha Esa
Kemanusiaan yang adil dan beradab,
Persatuan Indonesia
Kemanusian yang…yang apa… Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

Padahal soal pidato Prabowo, kalau dilihat dan didengar videonya. Tidak terlihat Prabowo lupa. Bahwa ada pengulangan, iya. Tapi salahnya di mana? Semua sila disebutkan Prabowo secara urut dan benar kok.

Namanya juga manusia, sebenarnya lumrah saja salah sebut sedikit, nggak masalah. Yang jadi masalah itu jika beliau nggak tidak mengoreksi langsung. Sesederhana itu, sebenarnya masalahnya.

Realitas Media di Era Rezim Jokowi

Inilah masalah bangsa ini. Sebagian media pada saat ini telah menjadi media partisan. Bahkan, di rezim ini, media hanya butuh ‘gorengan’ isu personal, dan menganggap penting untuk penggorengan terus berjalan.

Bukan tanpa tujuan, pasti ada skenario besar namun khusus. Karena terlihat pemerintah tidak perlu lagi memberikan pencerahan kepada rakyatnya. Media juga tidak memerlukan diskusi dengan hal yang substansif. Mereka cenderung lebih suka bicara soal ‘politik sontoloyo’, ‘genderuwo’, dan kebohongan publik.

Sungguh saat ini, kita prihatin dengan media yang berusaha untuk ‘menggoreng’ berita untuk keuntungan media itu sendiri, maupun pihak lawan politik Prabowo.

Pasti, cepat atau lambat hal tersebut akan menyebabkan kemunduran media, sehingga semakin membuat orang-orang malas membaca berita dari media online.

Memang jahat betul jurnalis dan media seperti ini, yang menggoreng masalah ini. Oknum redaksi dan jurnalis tersebut akhirnya terjebak menjadi buzzer politik. Padahal harusnya, media bisa menjadi penjaga gawang demokrasi Indonesia – yang adil dan berpihak kepada hati nurani rakyat.

Mungkin itu juga, yang mebjadi alasan tumbuh masifnya relawan media sosial pendukung Prabowo-Sandi yang ingin melawan barisan media mainstream yang sudah berada di kubu lawan politik Prabowo-Sandi.

Begitulah realitas media pada saat ini di rezim pemerintahan saat ini. Lalu apa yang bisa dilakukan? Biarlah alam semesta raya yang akan menjawabnya, mudah-mudahan tidak dalam waktu lama lagi. (*)

[Oleh : Ki Hartokarjono, pemerhati masalah sosial]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com