PEKAN LALU kita sibuk membahas istilah “sontoloyo”. Sementara pekan ini kita disajikan istilah baru yakni “genderuwo”. Entah kenapa dua istilah tersebut bisa jadi headline pemberitaan, serta menjadi topik bahasan dan perdebatan di media sosial.

Hanya karena dua istilah tersebut, para politikus kita saling bersahut statmen dan berbalas puisi, para pengamat politik laris dan eksis, bahkan para netizen terus adu urat di akun masing-masing. Ironis, kegaduhan tercipta yang sumbernya dari mulut seorang kepala negara.

Kita Masih Bicara Sontoloyo dan Genderuwo, Sementara Orang Sudah Punya Jembatan Terpanjang di Dunia

Di saat presiden negara lain sibuk menyiapkan masa depan bangsanya menghadapi globalisasi, presiden kita justru sedang hobi mengeluarkan istilah-istilah tak penting yang menyulut perdebatan bahkan cenderung mengundang perpecahan. Aneh memang.

Saya berpendapat, istilah “sontoloyo” dan “genderuwo” hanyalah gimmick politik dari Jokowi. Bukan pernyataan alami yang keluar dari dalam hati.

BACA JUGA : Akhirnya, Pencitraan Sontoloyo dan Genderuwo Menjadi Bumerang bagi Jokowi Sendiri, Mengapa?

Kita sama-sama tahu, Jokowi bukan figur yang memiliki banyak kosakata dalam berpidato. Jokowi juga tidak memiliki hobi membaca. Untuk marah saja dia membutuhkan teks. Bahkan, dia pernah menandatangani surat keputusan yang isinya tidak dia baca.

Istilah “sontoloyo” dan “genderuwo” adalah strategi politik yang disiapkan oleh tim mereka. Media massa partisan menyajikan isu ini berulang-ulang.

Juru bicara mereka asyik menggoreng. Buzzer mereka sudah siap memposting beragam desain grafis bernada nyinyir. Makin dibahas, makin klimaks mereka.

Kini orang-orang lebih sibuk membahas “sontoloyo” dan “genderuwo” sampai lupa dengan kondisi perekonomian yang kian hari terus melesu. Para oposan jadi sibuk mengcounter pernyataan Jokowi dan larut dalam perang pernyataan, hingga lupa membangun kekuatan.

Saran saya kepada seluruh netizen pendukung Prabowo-Sandi, jangan biarkan IQ kita didegradasi lawan. Tetap fokus menyoroti kinerja pemerintah, tetap fokus menagih sederet janji yang tidak pernah ditepati, serta fokus menyebarkan gagasan perubahan dari Prabowo-Sandi.

Ingat, mereka akan sangat senang bila kita seharian membahas “sontoloyo” dan “genderuwo”. Dengan demikian tak ada lagi yang membahas nasib guru honorer, tak ada lagi yang bawel menanyakan nasib mobil esemka, tak ada lagi yang menuntut diungkapnya kasus Novel Baswedan, tak ada lagi yang mengungkap janji-janji palsu yang tak kunjung tiba. Itulah bahasan yang mereka takuti sebenarnya.

Ketika kita semua sibuk membahas “sontoloyo” dan “genderuwo”, Jokowi dengan santai motor-motoran tanpa menyalakan lampu, bersepeda tanpa menggunakan rem, atau berdandan mirip karnaval agustusan. Dengan demikian, Jokowi terus menerus menjadi pusat perhatian. Sementara Prabowo-Sandi sunyi dari perbincangan.

Untuk menjaga eksistensi, Jokowi membutuhkan narasi. Sayang narasi yang keluar dari mulutnya bukan kalimat mengandung edukasi, melainkan keluh kesah yang justru malah merusak reputasi diri sendiri.

Mari gunakan logika sederhana. Idealnya bila seorang calon presiden incumbent didukung banyak parpol, memiliki jaringan birokrasi, memiliki porsi publikasi tinggi, memiliki logistik perang sangat banyak, serta konon unggul di semua lembaga survei, seharusnya cukup duduk santai, fokus bekerja menepati janji, abaikan kompetitor, dan siap-siap dilantik untuk periode kedua.

Namun, bila ada :

– calon incumbent yang tak henti-henti tebar citra dan melontarkan sensasi,
– para jubir tampil antagonis dan hobby menyerang oposisi,
– media pendukungnya terus menciptakan framing,
– buzzernya doyan menyebar konten kebencian,

Berarti pertanda elektabilitas sedang tidak aman dan lonceng kekalahan sudah semakin dekat. Inilah ciri-ciri kelompok yang dilanda kepanikan.

Mari kita fokus menyatukan kekuatan dan merapatkan barisan hingga pelosok daerah. Sadarkan masyarakat akan kondisi hidup hari ini. Kita butuh perubahan.

Kita butuh pemimpin baru. Jangan ikut-ikutan membahas sontoloyo, genderuwo, asu, buta, tuli dan caci maki lainnya. Biarkan itu menjadi ciri khas mereka. Publik bisa menilai itu.

Dan bila pekan depan ada istilah baru yang mereka lontarkan, abaikan saja tak perlu ditanggapi. Biar mereka heboh sendiri, goreng sendiri, ujungnya stres sendiri.

Kita cukup nonton saja sambil konsolidasi ditemani secangkir kopi. Anggap saja kita sedang nonton stand up comedy. Menghadapi yang beginian tidak perlu pakai otot. Cukup otak sama hati. Kelar itu barang…

Sekian… (*)

[Oleh : Tb Ardi Januar. Penulis adalah politisi muda]

(*) Untuk membaca tulisan Tb Ardi Januar, silahkan KLIK DI SINI.


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com