SEPERTI DIKETAHUI, dalam sebuah video berdurasi 15 detik, Cawapres Sandiaga Uno, yang tampak mengenakan sarung dan berkopiah hitam, awalnya menabur bunga di makam tokoh NU Kiai Bisri Syansuri. Sandi lalu melangkah, melewati makam tersebut.

Setelah itu, bagaikan kompor yang siap meledug, lawan politik Sandiaga Uno yang didukung instrumen media sosial dan media mainstream langsung heboh, dengan sigap menggoreng masalah ini dengan penuh semangat, dan jika perlu sampai terbakar hangus.

Dari Riau Cawapres Sandiaga Uno langsung merespon isu politisasi ini dengan menyampaikan permohonan maaf, karena melangkahi makam tokoh NU tersebut.

“Pertama-tama, tentunya permohonan maaf. Manusia itu pasti ada khilaf. Saya hampir tiap hari berkunjung di kubur, ziarah,” kata Sandiaga di Warkop 45 Jl Arifin Achmad, Pekanbaru, Riau, Senin (12/11/2018).

Sandiaga mengaku, setiap kali berziarah, selalu ada orang yang memandunya. Namun Sandiaga tak mau menyalahkan pihak lain.

“Dan dalam ziarah tersebut, tadi juga ada ziarah kubur, di sini juga ada pemandunya. Dan tanpa mau menyalahkan siapa-siapa, saya harus berani mengambil risiko ini bahwa kesalahan ada di saya,” ujar dia.

“Oleh karena itu kesalahan saya, saya mohon maaf. Dan tentunya manusia penuh khilaf, penuh salah. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya mohon maaf,” imbuh Sandiaga.

Sebenarnya, apa yang dilakukan Sandi Uno adalah adalah niat baik berziarah, termasuk juga ziarah kubur. Dia bukanlah orang yang dengan pongah sengaja menginjak-injak makam sebagai penghinaan itu yang harus dipermasalahkan.

Apa yang dilakukan Sandi adalah ketidaksengajaan melangkahi. Seharusnya kita tidak perlu over acting dibesar-besarkan beritanya, dan mempolitisir masalqh ini. Kasihan almarhum dan keluarganya, jika bukan kesengajaan ini dipolitisasi secara sontoloyo.

Lagi pula, digorengnya masalah ini juga tidak akan menambah suara Jokowi-Kiai Maruf kok. Mengapa? Karena rakyat sudah tidak bisa dibohongi lagi kok. Rakyat juga sudah tidak bisa disesatkan informasinya lagi. Malah bisa menggerus suara Jokowi karena melihat para pendukungnya mempersoalkan hal-hal yang seperti itu.

Bagaiman Tanggapan Keluarga Kiai Bisri Syansuri?

Cucu Kiai Bisri Syansuri, Mochammad Sa’dun Masyhur menegaskan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan makam sang kakek dilangkahi oleh Cawapres Sandiaga Uno.

Hal itu diucapkan oleh Sa’dun dalam menanggapi video yang sedang viral di media sosial Twitter, yang menampilkan Cawapres Nomor Urut 02 Sandiaga Uno yang melangkahi makam Kiai Bisri Syansuri saat berziarah di Jombang, Jawa Timur.

Menurutnya, makam tidak usah dikeramat-keramatkan secara berlebih-lebihan.

“Jadi, saya Mochammad Sa’dun Masyhur, cucu mbah Bisri Syansuri dari Tayu Wetan, Pati menyatakan berita melangkahi makam itu biasa sajalah. Kalau hanya melangkahi secara tidak sengaja ya nggak masalah juga. Yang gak boleh kalau disembah-sembah,” tegas Sa’dun dalam keterangannya melalui pesan singkat kepada Indopos, Senin (12/11/2018) malam.

Mengenai Kiai Bisri disebutkan bahwa beliau adalah salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Kiai yang lahir di Tayu, Jawa Tengah, pada 18 September 1886 itu merupakan keturunan dari Kiai Khalil Lasem, Kiai Ma’sum dan Kiai Baidawi dari Tayu.

Kiai Bisri belajar ilmu agama sejak kecil. Kiai Soleh dan Kiai Abd Salam dari Tayu, Kiai Kholil Kasingan Rembang, Kiai Syu’aib Sarang Lasem, hingga Kiai Kholil Bangkalan pernah menjadi tempatnya menuntut ilmu, sebelum akhirnya mengenyam pendidikan pondok pesantren di Tebuireng.

Di Tebuireng, Kiai Bisri belajar ilmu agama kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Bersama kawan karibnya–yang kemudian menjadi kakak ipar–Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Bisri belajar di Tebuireng selama enam tahun. Dia dan Kiai Wahab kemudian bersama-sama menyebarkan agama Islam melalui partai maupun lembaga keagamaan.

Usai menuntut ilmu di Tebuireng, Kiai Bisri dikenal menonjol dalam penguasaan ilmu agama, terutama dalam pendalaman pokok-pokok hukum fiqih. Kiai Bisri kemudian melanjutkan pendidikannya ke Makkah bersama Kiai Wahab.

Di Makkah, Kiai Bisri menikah dengan adik Kiai Wahab, Nur Khodijah. Pasca menikah, Kiai Bisri kemudian pulang ke Indonesia dan menetap di Tambak Beras, Jombang hingga dikarunia sembilan orang anak, salah satunya Sholihah yang kemudian menikah dengan Kiai Wahid Hasyim, ayah dari mantan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

[Oleh : Ki Hartokarjono, pemerhati masalah sosial politik]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com