DIKSI TAMPANG boyolali, genderuwo, sontoloyo pastinya ditujukan kepada pihak oposisi (Prabowo-Sandi), kompetitor head to head Jokowi-Mafruf Amin di Pilpres 2019.

Dugaan saya, ada sosok (konsultan politik) dibelakang Jokowi yang saat ini dengan sengaja menjadikan sang petahana lebih garang menggunakan diksi-diksi agresif tersebut.

Mengapa? karena strategi pencitraan yang menjadi kekuatan utama jokowi sudah tidak efektif lagi, seperti blusukan ke sawah atau masuk gorong-gorong.

Pencitraan yang berlebihan sekarang cenderung kontraproduktif bagi petahana. Misalnya, buat apa blusukan ke sawah kalau berasnya impor?

Sis Grace PSI Merusak Manuver Bro Jokowi

Tentu ini bisa diasumsikan bahwa kubu Jokowi melihat polemik ini bisa mempengaruhi pilihan masyarakat dalam memilih capres cawapres.

Dengan begitu, Jokowi bisa tetap menjadi pusat perhatian. Demi menjaga eksistensi, petahana jelas butuh narasi, dan berharap publik lupa ada masalah yg seharusnya menjadi perhatian bersama.

Sebaliknya, di kubu oposisi (Prabowo-Sandi) tidak percaya polemik ini dapat mempengaruhi pemilih. Karena dianggap gimmick politik Jokowi semata.

Faktanya memang ada persoalan ekonomi yang dirasakan masyarakat saat ini: daya beli, kesempatan kerja, dan harga kebutuhan pokok. Belum lagi kasus novel baswedan, atau janji kepada guru honorer, dll.

Memang isu penting itu sunyi pemberitaan, akibat kegaduhan dari diksi-diksi yang muncul tersebut. Ruang bicara Program dan visi misi capres-cawapres pun jadi terabaikan. (*)

[Oleh : Igor Dirgantara. Penulis adalah Direktur Survey & Polling Indonesia (SPIN)]

(*) Untuk membaca tulisan Igor Dirgantara yang lainnya, silahkan KLIK DI SINI.


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com