AKTIFIS PERGERAKAN dan Ekonom Indonesia Dr Rizal Ramli berkali kali mengatakan, inkumben bisa dikalahkan. Salah satu syaratnya, militansi. Apa itu militansi? Militansi kata Rizal Ramli (RR) adalah orang bekerja beyond the call of duty dan bekerja beyond the call of money.

Bekerja tanpa uang aja jalan, apalagi ada uang. Maksudnya dibutuhkan kerja keras para pendukung di atas rata-rata dan tidak tergantung pada faktor dana dan standar kerja umum.

Pernyataan RR tersebut merujuk pada kasus Pemilu di Malaysia. Di negeri jiran tersebut, inkumben yang mempunyai segalanya. Kekuatan dana 100 kali lipat lebih banyak dari penantang. Kekuatan birokrasi dan aparat yang berada di bawah Najib Razak dll. Semua itu bisa dikalahkan karena militansi pasukan di bawah Mahathir dan Anwar Ibrahim.

Apakah di Indonesia para pendukung oposisi sudah memiliki militansi? RR menyatakan belum melihat dan membuktikan militansi tersebut. Juga belum ada isu-isu besar yang dibangun secara konsisten oleh koalisi kubu penantang. “Mohon maaf tanpa militansi, jangan mimpi Indonesia akan ada perubahan.”

Statemen Rizal Ramli atau tepatnya “kompor” itu memang disampaikan jauh sebelum Reuni Akbar 212. Kita belum mendengar komen RR setelah itu. Tapi, mari kita telisik sebentar tentang gemparnya reuni aksi 212 dan teori militansi RR.

Dengan asumsi bahwa penggagas dan pelaksana reuni aksi 212 adalah pendukung dan pemilih pasangan Prabowo Sandi maka kita bisa menyimpulkan syarat militansi itu sudah ada. Nyata!

Banyak prediksi menyebut reuni aksi 212 bakal gembos. Opini yang dibangun oleh media mainstream maupun media sosial membuat logika bahwa reuni aksi 212 sudah tidak relevan. Pertama, karena Ahok sebagai pemicu aksi 212 sudah dipenjara. Kedua, para pendukung aksi 212 termasuk KH Maruf Amien dan sudah berada di pihak pemerintah.

Ketiga, anggapan bahwa reuni aksi 212 akan menjadi tunggangan politik koalisi oposisi. Keempat, dengan semakin terasosiasikan Prabowo didukung full oleh alumni 212 maka akan kehilangan suara dari warga Nahliyin Moderat dan Muhammadiyah.

Semua narasi untuk mendowngrade reuni aksi 212 sudah dibangun sedemikian rupa termasuk upaya mengganjal kedatangan peserta dari daerah. Bahkan muncul ancaman aksi tandingan yang bisa membuat benturan horisontal. Tapi apa yang terjadi? Reuni Aksi 212 justru semakin besar, jauh di atas prediksi. Beberapa asumsi menyebut angkanya lebih besar dari aksi pada tahun 2016.

Lihatlah Bang Rizal, bagaimana peserta dan massa reuni aksi 212 datang dari berbagai daerah. Masuk ke Kawasan Monas sejak dini hari. Mereka datang tertib melantunkan doa-doa dan membaca Alquran sepanjang kegiatan. Mereka mengeluarkan biaya sendiri-sendiri. Saling berbagi agar bisa sampai ke tempat tujuan. Saling membantu sebagai satu barisan.

Massa itu terus berdatangan hingga pagi. Bahkan dapat dibilang ada dua shift massa aksi 212 yang datang bergiliran. Shift pertama yang datang saat dini hari dan shift kedua yang datang pada pagi hari. Tidak ada benturan di antara mereka meski terkesan tidak ada komando besar. Satu satunya komando adalah adanya kesamaan visi untuk sebuah perubahan.

Sepanjang acara meski gegap gempita massa tidak ada satupun ujaran-ujaran kebencian. Tidak ada rumput yang terinjak, tak ada ranting yang patah. Seperti kata Prabowo, kita bangga sebagai umat Islam Indonesia, yang toleran dan cinta damai.

Akankah hal ini masih dianggap sebagai kegiatan yang mubadzir, tentu saja amat sangat tidak benar. Ini adalah kegiatan, (penulis masih agak berat utk menyebut gerakan) ajakan dakwah untuk bersilaturahim dan saling mengingatkan dalam kebaikan di antara kaum muslimin dan sesama anak bangsa.

Penulis sebut anak bangsa karena kegiatan juga memberi pesan bahwa 212 jauh dari anggapan radikal sebagaimana dituduhkan oleh mereka yang tidak suka terhadap aksi 212. Dan tentu peringatan kepada penyelenggara pemerintahan agar lebih hati-hati dalam mengelola dan menjalankan pemerintah.

Meskipun tidak ada gegap gempita pemberitaan media nasional. Bahkan hanya satu tv yang menyiarkan secara langsung. Tapi tak ada pedulinya massa aksi reuni 212 tetap bersemangat. Mereka memiliki media sendiri.

Media yang mungkin tidak bisa dipantau oleh intelijen paling tangguh sekalipun. Massa aksi reuni 212 sadar, media sudah dikuasai pihak sebelah. Massa aksi 212 juga tahu media-media itu sudah tak penting lagi karena sudah tidak memegang standar dan kaidah jurnalistik. Sebentar lagi, lambat atau cepat media-media partisan itu akan mencapai ajalnya.

Dinamika politik ini mestinya ditangkap oleh mereka yang ada di senayan. Dibutuhkan kearifan para politisi senayan dalam menangkap aspirasi ini, yang secara mayoritas muslim di Indonesia menghendaki perubahan. Perubahan pimpinan dan perubahan haluan bernegara berdasarkan Pancasila.

Cepat atau lambat kegiatan ini akan berubah menjadi gerakan politik riil. Militansi sudah dimiliki, mereka membiayai diri sendiri bekerja atas panggilan dakwah yang mungkin tidak bisa ditiru di masa depan oleh kelompok manapun yang bekerja dan berkegiatan manakala diberi dukungan uang.

Militansi itu sudah ada Bang Rizal, itu terlihat nyata dari reuni aksi 212. Tinggal mengarahkan mereka menjadi satu kekuatan electoral. Pertanyaanya adalah bagaimana menjadikan itu semua sebagai suara riil politik dalam pemilu.

Pertama, sekembali ke daerah masing-masing para politisi dan juga para relawan yang belum bergabung dalam 212 melakukan komunikasi, membangun trust dan bekerja untuk pemenangan Pilpres.

Kedua Tak sedikit relawan yang berbau aktivis namun bukan bagian dari 212, ini juga perlu melakukan komunikasi dan sinergi. Kalau boleh menyebut bahwa semua alumni 212 kemarin adalah pendukung Prabowo. Tapi mereka hadir bergerak dari rumah masing-masing sama sekali tanpa uang saku dari Prabowo, Mereka hadir karena rindu perubahan.

Sehingga yang ingin katakan penulis adalah Tim Relawan Pasangan capres cawapres No 02, para pengusaha yang mendukung di belakang Prabowo Sandi mesti harus tanggap akan hal ini. Dorong sedikit saja kekuatan finansial yang terbatas para relawan 212 dan relawan non 212 akan bergerak.

Keyakinan yang sudah memenuhi dada para alumni 212 adalah bahwa mereka dibersamai oleh Yang Maha Kuasa, Yang Maha Kaya Raya. Jadi semangat perubahan para alumni 212 yang didasari oleh keimanan akan makin menjadi garda depan perubahan manakala bersinggungan dan beririsan dengan para aktifis non 212. Kuncinya adalah Trust, dan sama-sama ingin melakukan perubahan.

[Oleh : InAM El Mustofa. Penulis adalah mantan aktifis mahasiswa angkatan 90-an, tinggal di Jogja]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com