SETIAP HARI, buzzer istana merusuh. Politisi Pro Status quo ngomong seenaknya. Surveyor merilis data palsu. Semuanya punya satu target; triger amarah.

One of the greatest attacks of the enemy is to make you busy, to make you hurried, to make you noisy, to make you distracted…that there is no room for prayer,” kata Clergyman Paul Washer.

Zeng Wei Jian, penulis.

Sontoloyo, gendruwo, tabok, dan segala macam kebohongan politik membuat oposisi marah.

Namun, Penulis H. Jackson Brown, Jr. berpesan, “Never forget the three powerful resources you always have available to you: love, prayer, and forgiveness.”

Ketika Semua Berkumpul karena Iman, maka Segalanya Jadi Mungkin

“Doa” itu, bagi saya, adalah esensi Gerakan Reuni Akbar 212. Sebuah doa yang didasari cinta; Love the country, the people, the religion dan cinta kebenaran.

Prayer is man’s greatest power!” kata Businessman W. Clement Stone.

Doa adalah komunikasi dengan Tuhan. Jutaan Umat Islam menyatu dalam doa di sana.

Sebuah “spiritual transaction with the Creator of Heaven and Earth,” kata Charles Spurgeon.

I think it is so powerful. Karena itu, ngga heran apabila Joko, Kapitra, dan semua Cebong merinding ketakutan.

Autoritas, uang, mesin politik, militan seperti setan adalah kekuatan Status quo. Umat Islam mencoba lawan semua itu dengan kekuatan doa.

Dahulu, Penoda Agama (Ahok) tumbang. “Prayer should be the key of the day and the lock of the night,” ujar Pujangga George Herbert. Dan Siapa tau Jaenudin Najiro akan tumbang pula di Pilpres.

Militansi dan pemurnian gerakan diolah oleh doa. “Prayer does not change God, but it changes him who prays,” kata Filsuf Soren Kierkegaard.

Dari jutaan mujahid dan orang benar yang kemarin menyatu dalam doa, masa tidak ada satu pun yang dijabah Tuhan. Rasanya pasti dijabah. Dan doa itu, saya kira, tumbangkan Jokowi di Pilpres 2019.

THE END

[Oleh : Zeng Wei Jian. Tulisan ini sudah dipublikasikan di akun medsos facebooknya]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com