ALLAHU AKBAR, Allahu Akbar”. Berkali-kali saya mengucapkan takbir. Belum pernah saya melihat begitu banyak massa, hingga 11 juta orang, berkumpul dalam ghirah Islam yang luar biasa dalam Reuni Akbar 212 di Monas, 2 Desember 2018 kemarin. Kecintaan mereka terhadap Allah SWT sungguh luar biasa.

Jalan-jalan di seputaran Monas sudah mulai macet, sehari menjelang aksi. Ratusan mobil pribadi bernopol daerah terlihat berjejal di area parkir.

Pasca Reuni 212, Elektabilitas Prabowo Diprediksi Naik

Air mata saya menetes melihat arus manusia menuju Monas yang jauh lebib besar dibandingkan aksi 212 di tahun 2016. Masyarakat dari Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, Serpong, Serang dan Rangkasbitung, malam harinya sudah terlihat menumpuk di Stasiun Tanah Abang, Stasiun Juanda, dan Stasiun Gondangdia. Pagi harinya, massa yang datang dari tempat-tempat tersebut semakin menyemut di stasiun dan halte busway, menuju Monas.

Tidak hanya dari Jakarta dan sekitarnya, massa juga berdatangan dari daerah. Seperti dari Sumatera Barat yang sampai menyewa dua buah pesawat untuk mengikuti aksi ini, belum lagi para peserta aksi yang naik bis dan mobil pribadi.

Semua biaya dari kantung sendiri. Mereka juga membawa ribuah kilogram rendang dan ayam bekakak untuk dibagikan kepada para peserta aksi.

Ribuan massa dair Ciamis, Jawa Barat juga hadir. Mereka berangkat dari Alun-Alun Kawali, Ciamis menuju Jakarta dengan menyewa 25 armada mobil elf dan 50 unit mobil pribadi.

Cerita mengharukan lainnya datang dari Pare-pare, Sulawesi Selatan. Bachtiar Syarifuddin sengaja menabung selama setahun agar bisa mengikuti reuni ini. Di Jakarta, Bachtiar bersama 30 orang rombongan menginap di mes pemerintah kota Makassar.

Sebegitu banyaknya arus massa dari berbagai daerah, membuat hotel di sekitar Monas penuh di-booking.

Cerita dari perempuan Indonesia yang bermukim di Tuscany, Italia yang sengaja pulkam demi mengikuti Reuni 212 ini. Sayang, ia tidak kebagian hotel di sekitaran Monas, padahal sudah mem-booking-nya sejak seminggu sebelumnya.

Air mata kembali mengalir. Sungguh melihat Monas menjadi ‘putih’ oleh jutaan orang berpakaian putih. Keharuan membuncah di dalam dada, saya merasakan kekuatan luar biasa yang bersatu. Setelah shalat tahajud bersama pukul 03.00 WIB, saya juga mengikuti kegiatan shalat subuh bersama. Kami melantunkan dzikir. Hingga mendengarkan tausiah dari sejumlah ulama, hingga kehadiran Gubernur DKI Jakarta dan capres nomor urut dua, Prabowo Subianto.

Kehadiran keduanya disambut antusias peserta aksi. Lagi-lagi, mereka menyerukan takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar”.

Acara selesai hingga pukul 12.00 WIB. Ketika mengikuti aksi tersebut, hati ini semakin terenyuh manakala melihat kaum disabilitas yang rela datang jauh-jauh dari luar kota. Bahkan, ada penyandang disabilitas dari Rangkas Bitung, Banten, yang datang sampai merangkak demi mengikuti aksi ini.

Dari kejauhan terlihat ratusan penyandang disabilitas berjalan bersama, sambil memegang bahu temannya menuju shaf paling depan dekat panggung utama. Lantunan shalawat dan dzikir terucap dari bibir mereka. Sungguh indah. Lagi-lagi saya tidak bisa menahan air mata ini.

Rupanya aksi ini juga dihadiri berbagai kalangan. Tidak hanya umat Islam, umat agama lain juga turut bergabung. Ada anak-anak punk dari Gerak Bareng Community yang bersemangat membagikan mie instan matang. Artis-artis seperti Jaja Miharja, yang saat itu sedang sakit dan duduk di kursi roda karena kakinya dibalut perban, sudah hadir sejak jam 03.00 WIB. Artis lain yang hadir Teuku Wisnu, Mario Irwinsyah, Irwansyah, Fauzi Baadila, Mulan Jameela, Ahmad Dhani, serta komedian Kiwil.

Reuni Akbar 212 juga dihadiri dari perwakilan Palestina Dr. Taisir Hamdan Sulaiman yang ikut berorasi.

Usai acara dari kejauhan tampak Prajurit TNI menggendong seorang lansia, menembus teriknya matahari.

“Masya Allah,” ucap saya sembari menitikkan air mata. Mereka, Prajurit Yonif Mekanis 201/Jaya Yudha, Sertu Wahyu dan Sertu Fahmi melihat dari kejauhan seorang bapak paruh baya berjalan dengan tidak normal, sembari bercucuran keringat. Kedua prajurit tersebut sigap menggendong bapak yang sedang sakit untuk mencarikannya ojek.

Di tengah-tengah kerumuman massa yang menuju Stasiun Gondangdia, terlihat sepasang bule asal Polandia, yang diajak selfie oleh peserta aksi Reuni Akbar 212. Kebetulan mereka melintasi kawasan Kebon Sirih. Mereka mengatakan suka dengan atmosfer seperti ini, sangat bagus dan sangat suci. Aksi ini sungguh damai. Tidak ada kericuhan ataupun keributan.

Ratusan Polisi dan TNI yang memenuhi areal di depan Istana Negara, dengan persenjataan lenkap, puluhan truk, mobil dinas dan pribadi milik petugas memenuhi area arah belakang panggung utama.

Di Monas terlihat tenda-tenda posko berwarna putih berderet-deret. Ada posko panitia dan keamanan relawan, posko kesehatan, logistik, komunikasi, sampai posko emak-emak yang akan bertugas membersihkan Monas pasca aksi. Posko kesehatan untuk melayani peserta aksi 212 didirikan, salah satunya Posko Tim Kesehatan dan Logistik dr. Anna yang berada di Pintu Gambir I. Ada tiga orang peserta yang dirujuk ke RS Budi Kemuliaan karena mengalami DSS (Dengue Shock Syndrome). GNPF juga memberikan layanan cek kesehatan gratis bagi peserta aksi, seperti cek gula darah, cek tensi gratis.

Air mata lagi-lagi menetes ketika acara berlangsung, peserta langsung terdiam sejenak dan memandangi langit. Mereka berteriak dan menunjuk ke langit karena ada awan menyerupai lafadz Allah. Saya pun mengumandangkan takbir, “Allahu Akbar”. “Laa ilaaha illallah, Laa ilaaha illallah”.

Semangat peserta Reuni Akbar 212 semakin besar, ketika Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan hadir. Luapan kegembiraan dan antusiasme juga ditunjukkan ketika Capres Nomor urut 2, Prabowo Subianto naik panggung dan berpidato.

Meski jutaan orang yang hadir, namun tidak ada sampah di sekitar lokasi. Bahkan tidak ada rumput dan tanaman yang rusak. Para peserta Reuni ini memunguti sampah sekecil apapun. Ada seorang laki-laki membawa kantung plastik hitam mengumpulkan sampah dari peserta aksi Reuni 212 yang sedang beristirahat. Sekelompok perempuan, Pasukan Ungu dengan kostum berwarna ungu mengenakan topi caping dan masker dari Ciamis juga melakukan aksi membersihkan sampah. Mereka membawa alat kebersihan seperti sapu dan serok.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan hadir dalam acara Reuni Akbar 212 di Monas. Dalam akun Facebook-nya Anies menuliskan catatan, “sebuah gelombang pembawa rejeki bagi yang kecil. Sejak semalam, kehadiran begitu banyaknya orang di kawasan Monas ini telah mengirimkan rejeki ke ruang-ruang keluarga amat sederhana, ekonomi mikro di ibukota. Ribuan pedagang makanan, minuman dan pedagang sederhana lainnya mendapatkan berkah dari kegiatan sejak semalam sehingga pagi ini di sepanjang area luar pagar kawasan Monas. Mengharukan melihatnya. Saat mereka yang datang dari berbagai kota, yang jauh hitungan kilometernya dari ibukota membeli makanan, minuman atau dagangan, lalu mengatakan uang kembaliannya dipegang saja. Si penjual tersenyum, mengepal lembaran uangnya ke dada, lalu mengucapkan Alhamdulillah. Itulah transaksi dalam ikhlas, itulah suasana penuh berkah. Mata siapa tak membasah menyaksikan orang yang tak saling kenal tapi saling mengasihi, saling membantu. Ya di tempat ini mereka tak Cuma bertransaksi ekonomi, tak hitung-hitungan lagi, semua seakan ingin menambah tabungan pahala, dan menghidupkan persaudaraan. Masya Allah, aliran rejeki dari begitu banyak orang hadir di Monas telah bermuara di rakyat kecil, pedagang kecil, di ruang sempit rumah tangga mereka. Semoga ini semua mengantarkan pada kesejahteraan, kemajuan dan kebahagiaan dalam ridho Illahi”.

Dan memang, potensi ekonomi acara Reuni Akbar 212 sungguh besar. Hotel penuh, kereta penuh bahkan PT Kereta Commuter Indonesia harus menambah dua rangkaian khusus di hari itu sebagai antisipasi lonjakan penumpang. Pada tanggal 2 Desember 2018, hingga pukul 12.00 WIB, jumlah pengguna KRL di Stasiun Juanda lebih dari 52 orang yang naik dan turun atau meningkat enam kali lipat. Stasiun Gondangdia volumennya mencapai 71 ribu pengguna naik dan turun atau meningkat 14 kali lipat.

Warteg-warteg juga penuh. Mereka yang berjualan pernak-pernik souvenir juga laris manis. Warung Makanan Padang di sekitar Stasiun Gondangdia, laris manis.

Risna yang biasanya libur di hari Sabtu-Minggu, karena adanya aksi ini membuka warung makannya. Pedagang bendera Tauhid, juga laris manis. Bahkan penjualnya mengaku telah mempersiapkan dagangannya dua bulan sebelumnya.
Namun, ada juga warteg-warteg yang justru memberikan nasi bungkus gratis ke peserta Reuni 212.

Banyak juga menyediakan makanan dan minuman sepanjang jalan dengan gratis dan ikhlas untuk para pejuang Islam. Ada tukang Mie Ayam yang menyumbangkan Nasi Uduk dan Lontong sebagai satu mobil Carry di Reuni Akbar 212.

Melihat hal tersebut, tanpa terasa air mata saya kembali menetes.
Tidak hanya mengharukan, namun ada kebanggaan yang terselip di dalam hati.

Reuni Akbar 212 ini diberitakan dan menjadi headline sejumlah media luar negeri. Media Turki, Anadolu Agency memberi judul,”Indonesia: Millions gather for anti-government rally”. Sementara dalam media Southeast Asia dan Straitstimes, kehadiran capres Prabowo menjadi poin utama bahwa Prabowo sebagai seorang nasionalis memiliki kedekatan kuat dengan orang-orang Islam.

[Oleh : Pratitis Mukti Tami, Caleg DPR RI Dapil 5 Jawa Tengah dari Partai Gerindra].


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com