REUNI 212 yang akan digelar di Monas Jakarta, hari Minggu 2 Desember kemarin diikuti massa yang cukup besar. Diperkirakan sebanyak 8-10 juta orang menghadiri acara tersebut. Ini adalah manifestasi politik baru massa umat Islam Indonesia.

Sebuah gerakan moral di Indonesia yang bakal dicatat dalam sejarah. Fenomena ini dapat dijadikan contoh atau model bagi aksi massa besar di tempat-tempat lainnya (demonstration effect) – karena dianggap berhasil, berlangsung aman dan tertib.

The Power of 212 : Sebuah Pesan Buat Istana

Kehadiran capres nomor urut 02, Prabowo Subianto di reuni akbar 212 tersebut diyakini punya efek elektoral yang besar. Secara formal kegiatan tersebut tidak terkait dengan Pemilu 2019. Namun tidak bisa dipungkiri jika resonansi peristiwa tersebut kuat terasosiasi dengan Pemilu 2019.

Kehadiran Prabowo di panggung utama memakai topi bertuliskan lafaz tauhid di kepalanya adalah bentuk simbol komunikasi politik kepada aksi massa damai 212. Mantan Danjen Kopassus ini serasa seperti menyapa para loyalisnya. Faktanya, mayoritas massa yang hadir adalah sebagai bentuk dukungan terhadap pasangan nomer urut 02 pilihan ulama, bukan ulama pilihan presiden.

Gema Reuni Akbar 212 walau sepi dan minim pemberitaan di media mainstrea, baik itu di televisi maupun di media cetak surat kabar, namun tetap saja kokoh mencetak rekor trending topik di berbagai media sosial. Disinilah keadilan menampakkan jati dirinya. Simpati datang bukan dengan tangan besi kekuasaan yang arogan membentengi kritik, aspirasi, juga arus informasi.

Lalu ada indikasi sejumlah pembangkangan dari masyarakat (civil disodibience), karena lebih digerakkan oleh hati dan inner-selfnya. Para peserta reuni 212 tidak mau lagi mendengarkan himbauan para tokoh, elit pejabat, pemimpin yang meminta mereka untuk tidak hadir.

Simpati jutaan kaum muslim dan entitas lainnya di reuni 212 bisa berdampak signifikan pada krisis legitimasi dan kewibawaan pemerintah. Adanya keinginan perubahan kepemimpinan nasional sudah menjadi diskursus, yang ternyata malah sanggup membangun momentumnya sendiri.

Acara reuni 212 pun telah menjadi satu faktor penting yang merekonstruksi persepsi baru, serta menjadi pertimbangan publik dalam memilih presiden dan wakilnya di Pemilu 2019 untuk Indonesia yang adil dan makmur. (*)

[Oleh : Igor Dirgantara. Penulis adalah Direktur Survey & Polling Indonesia (SPIN)]

(*) Untuk membaca tulisan Igor Dirgantara yang lainnya, silahkan KLIK DI SINI.


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com