MEDIA MASSA nasional tengah menjadi sorotan publik. Mereka kompak tidak meliput dan memberitakan Reuni 212. Hanya segelintir media saja yang masih menganggap Reuni 212 memiliki news value.

Ada yg mengatakan media massa melakukan bunuh diri masal, yg lainnya berpendapat senjakala industri pers Indonesia. Seorang teman jurnalis mengatakan itu adalah kejahatan profesi, dan lumpuhnya media nasional. Rocky Gerung lebih cadas lagi mengatakan media massa diliputi kedunguan akut.

Dian Anggraeni Umar, penulis artikel.

Tiga tahun lalu saya sempat memoderatori panelis media massa di konferensi nasional humas. Topik yg saya pandu adalah ‘The End of Newsroom, The Rise of Social Media Trust’ dimana para panelisnya adalah lima Chief Editor media massa terkemuka negri ini yaitu Kompas, Tempo, The Jakarta Post, CNN dan media online Berita Tagar.

Kelimanya berpendapat bahwa media massa akan terus hidup dan bertahan meski sudah begitu banyak pakar yg berpendapat bahwa media massa memasuki senja kala, tergerus oleh digitalisasi informasi.
Mereka juga berpendapat bahwa informasi-informasi yg diproduksi oleh warganet di social media kredibilitasnya rendah.

Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II

Tapi ternyata pendapat para Chief Editor tersebut dipatahkan oleh ulah mereka sendiri. Justru saat ini yang sedang terjadi adalah proses berakhirnya newsroom dan bangkitnya kepercayaan publik terhadap media sosial.

Publik lebih percaya kepada apa yang diinformasikan sesama warganet dibandingkan apa yg diberitakan oleh media massa. Bagaimanakah masa depan jurnalistik kita ke depannya? Akankah semakin suram?. (*)

[Oleh : Dian Anggraeni Umar. Penulis adalah praktisi komunikasi]

(*) Untuk membaca tulisan Dian Anggraeni Umar yang lainnya, silahkan KLIK DI SINI.


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com