PERS INDONESIA, dalam hal ini IJTI tidak boleh cengeng atau marah dengan kritik semacam ini, kita sebagai Insan pers justru harus mejadikan kritik itu sebagai bahan evaluasi, dan tugas kita adalah melakukan pengembangan atau meningkatkan kompetensi kita supaya tidak seperti yang dituduhkan.

Pers (Jurnalis) harus tetap memiliki sikap fairness, berintegritas dan terus menjunjung tunggi kode etik jurnalistik. Dalam bekerja pers hanya punya satu orientasi yaitu kepentingan publik.

Ada Kepentingan Politik, Dibalik Bisnis Pemilik Media. Begitu Juga Sebaliknya

Diakui atau tidak kita memang masih banyak lemahnya, semua Anggota IJTI harus terus mengembangkan diri untuk menyongsong masa depan, dan membuktikan bahwa kita bisa berkarya untuk kebaikan masyarakat luas bukan kepentingan sesaat atau satu kelompok.

Ingat Waktu Pilpres AS dulu, Donald Trump melemparkan kritik keras (banyak yang mengatakan menghina) terhadap pers America. Apa yang dilakukan pers/Jurnalis negara paman Sam, mereka tidak marah, mereka sadar betul profesi Jurnalis itu tempatnya orang-orang profesional bekerja, tempatnya bergantung Harapan publik.

Media-media terkenal seperti (CNN, Fox’s, Washington Post dll) menyadari betul Waktu itu bahwa pers di AS sempat terlampar situasi yg cukup buruk, Saat indeks kebebasan pers mereka turun ke peringkat 41, dan itu dampak dari Gedung putih sebelum era Trump yg sempat “menutup diri” terhadap pers Karena dianggap banyak mengecam kebijakan ekonomi Obama.

Kondisi lain juga tak jauh beda dengan negara-negara maju lainnya, pers selalu menjadi lemparan kritik. Tetapi, kritik itu menjadi cambuk dan obat untuk autoktritik kita. Pers itu profesi yg setiap hari butuh pengembangan diri.

Pers itu seperti perahu dan kita penumpangnya, kalau Rusak atau bocor maka kita akan tenggelam bersama. Apalagi praktek2 tidak profesional banyak dilakukan sebagian pers.

Perlawanan kita buka mengecam karena kita dikritik tetapi kita harus bangkit dan memperbaiki diri. IJTI, organisasi tempat berkumpulnya orang-orang profesional bertugas mengembangkan kemampuan Anggotanya.

[Oleh : Yadi Hendriana, Ketua Umum IJTI]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com