REUNI AKBAR 212 pada 2 Desember 2018 barusan, menggaungkan berbagai pesan dan peringatan kepada semua pihak. Terutama kepada para pemegang kekuasaan. Salah satu peringatan keras yang keluar dari aksi damai dan tertib itu ialah: jangan coba-coba berbuat kecurangan di pilpres 2019.

Saya yakin para pemangku kekuasaan memahami peringatan itu. Bahasa gamblang dari Reuni 212 tak mungkin akan disalahpahami. Pesan dari rakyat sangat tegas. Kecurangan akan ditolak keras.

Aksi dan Reuni 212 Berbau Politis?

Kira-kira apa yang akan terjadi kalau ada yang melakukan kecurangan?

Pastilah rakyat tak akan tinggal diam. Rakyat akan turun ke jalan secara damai dan tertib seperti Reuni 212. Kecurangan akan disambut dengan reuni-reuni senyum. Tak terbayangkan berapa nanti jumlah mereka yang akan memprotes kecurangan itu.

Sebab, untuk reuni biasa-biasa saja, mereka turun dalam jumlah 7-8 juta. Apalagi nanti ada kecurangan yang nyata. Saya bayangkan puluhan juta, 20-30 juta. Massa damai akan rela berbondong-bondong dan berdesak-desakan agar kecurangan dikoreksi.

Saya bayangkan pula massa rakyat akan rela berada di Monas berhari-hari sampai kecurangan pilpres diluruskan. Mereka tidak akan berbuat apa-apa. Mereka hanya membawa spanduk “Rakyat Menolak Kecurangan” atau “Pulihkan Hasil Pilpres”, dlsb.

Para penguasa sekarang sudah paham bahwa mereka tak punya ruang untuk berbuat curang. Terlalu riskan bagi mereka. Walau dengan cara yang paling canggih sekali pun. Tetapi tak tertutup kemungkinan akan ada orang-orang yang nekat “mengadu nasib”. Siapa tahu kecurangan tak terdeteksi.

Kepada mereka ini, rakyat memperingatkan bahwa kecurangan bukanlah alternatif yang bijak. Rakyat akan menjaga pilpres sebagaimana mereka menjaga momentum gerakan 212. Kalau Anda mencoba berbuat curang, Anda bukan berhadapan dengan tim capres lawan Anda. Melainkan Anda akan berhadapan dengan rakyat.

Tapi, bagaimana mungkin rakyat bisa tahu bahwa hasil pilpres dicurangi?

Pertanyaan seperti ini saya jawab dengan pertanyaan juga: layakkah rakyat percaya kepada para penguasa yang telah terbukti berbohong di depan rakyat secara bertubi-tubi?

Bagaimana mungkin rakyat bisa percaya kepada para penilap, penipu, pengkhianat yang dikelilingi oleh preman-preman bisnis? Yang dikelilingi oleh para penjilat dan orportunis? Yang didukung oleh para pencuri dan koruptor? Yang disokong oleh para politisi bejat lagi kotor?

Apakah mereka ini bisa dipercaya oleh rakyat ketika mengumumkan hasil pilpres yang dicurangi? Tentu tidak! Tidak mungkin dipercaya oleh rakyat.

Karena itu, para penguasa yang mungkin sedang menyiapkan skenario untuk mencurangi hasil pilpres 2019, hendaklah berpikir berulangkali sebelum menjabarkan rencana jahat itu. Sebab, rakyat kita ini semakin cerdas. Cerdas melihat yang culas. Cerdas pula menangkap kecurangan yang jelas.

Reuni 212 barusan membuat para penguasa kotor menjadi kecut. Membuat mereka menjadi takut. Tidak lagi garang mau berbuat curang.

Mereka sadar bahwa pencurangan hasil pilpres 2019 akan berhadapan dengan “people’s power”. Yang sifatnya “peaceful power”. Tapi sekaligus sebagai “the real power”.

[Oleh : Asyari Usman, Penulis adalah wartawan senior]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com