BEBERAPA BULAN kedepan, sebagaimana terjadi pada bulan-bulan sebelumnya, atau bahkan tahun-tahun sebelumnya kita selalu dihadapkan pada survei-survei yang menyajikan hasil perolehan suara partai politik dalam kontestasi Pemilu.

Pada Pemilu 2014 hal ini juga pernah terjadi, hasil survei sama sekali tidak menunjukkan hasil Pemilu. Beberapa partai yang sebelumnya dalam survei tersebut disebut tidak masuk parlemen karena aturan PT, nyatanya tetap eksis saat ini. Dan agaknya model-model tahun 2014 ini akan diulangi kembali untuk Pemilu tahun 2019. Survei gagal yang diulangi.

Akhirnya, Denny JA Resmi Menjadi Surveyor Pelacuran

Jika kita telaah, survei yang dilakukan ini gagal dalam melakukan pengumpulan data sehinggal data tersebut tidak “compatible” dengan sistem Pemilu. Hanya saja survei gagal ini akan ditutupi dengan adanya “margin of error” atau pelaksanaan Cuick Count yang dilakukan oleh lembaga survei tersebut.

Mengapa gagal? Sebagaimana yang kita tahu, dalam survei tersebut akan selalu muncul pertanyaan; “Seandainya dilakukan Pemilu hari ini, partai apa yang anda pilih?”. Pertanyaan inilah yang selalu digunakan selama bertahun-tahun dalam memotret prediksi hasil Pemilu.

Pada sisi yang lain, dalam sistem Pemilu kita, setiap pemilih dibebaskan untuk memilih caleg atau memilih partai politik. Meski peserta Pemilu adalah partai politik, tetapi karena mekanisme agar caleg terpilih adalah mereka yang mendapatkan suara terbanyak, maka setiap caleg akan kampanye atas namanya sendiri. Pemilih diarahkan untuk memilih calegnya.

Inilah yang saya sebut survei tidak “compatible” dengan sistem Pemilu.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat pertanyaan dari salah seorang yang berasal dari lembaga survei terkenal, yang inti pertanyaannya: “Bagaimana cara memasukkan pertanyaan tentang siapa caleg yang akan dipilih seandainya Pemilu dilakukan hari ini?”. Kemudian ada pertanyaan tambahan; “Kalau memasukkan nama seluruh caleg, berapa lembar pertanyaan survei tersebut. Dan kalau dimasukkan hanya sebagian, survei tersebut akan menggiring opini”.

Bagi saya, pertanyaan itu ada benarnya, tapi bagi saya hal ini pertanyaan aneh. Selain itu, dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya menunjukkan adanya pengakuan bahwa survei yang dilakukannya itu gagal. Bisa kita cermati dari pertanyaan yang diajukannya.

Saya melihat, agaknya lembaga survei ini malas untuk mengembangkan risetnya, terutama pertanyaan-pertanyaan dalam kuesionernya. Beberapa kuesioner yang pernah saya baca, secara prinsip kuesionernya dari tahun ke tahun gak berubah. Ya begitu itu…

Lalu, apakah bisa membuat pertanyaan survei dimana survei tersebut juga mampu meneropong hasil perolehan parpol dan peroleh calegnya?

Jawab saya: “Ya jelas bisa, masalah gampang begitu kok gak bisa”. Lalu seperti apa kuesionernya?

Kalau ada pertanyaan itu, saya akan jawab; “Kita mau ngopi dimana?” Enak saja mau minta jawaban gratis untuk survei yang harganya ratusan juta hingga milyaran itu… Wekekekekekkkkkkk

[Oleh : Nu’man Iskandar, Peneliti Statistika Indonesia]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com