JIKA HARI-hari sebelumnya koran Kompas menyoroti pelbagai peristiwa, fenomena atau trend di masyarakat, kali giliran Kompas menjadi obyek sorotan, telaah, analisis sejumlah Jurnalis. Termasuk mantan Jurnalis Kompas sendiri.

Kenapa? Karena Kompas dinilai tidak fair, tidak professional, tidak patut, melanggar Kaidah Dunia Jurnalistik dengan tidak memberitakan Peristiwa Akbar Reuni 212 yang diikuti jutaan Massa Masif Umat Islam dan Umat non-Islam yang berlangsung secara Tertib, Damai, Simpatik, Impresif, Atraktf, Komunikatif.

Fixed, Kompas Sudah Jadi Cebong

Padahal Media Massa Internasional, sebut saja Tv Al-Jazeera, Nikei, CNN dan pelbagai Televisi serta Koran di berbagai belahan dunia, memberitakan dengan Sukacita. Termasuk koran berbahasa Arab di Timur Tengah.

Ini menandakan Peristiwa tersebut memiliki News Value yg signifikan dan Magnit yang luar biasa. Sehingga menggetarkan Dunia dan Wajib memberitakannya secara luas.
Itu pertama.

Kedua, ada pertimbangan yang kurang Akurat, kurang Sehat, meleset atau distorsi di posisi Redaksional ketika kemudian memutuskan untuk tidak memuat peristiwa Reuni 212 di Halaman Depan Kompas.

Ini disebabkan pertimbangan yang mis-perception dan mis-interpretation yang menyebabkan mis-leading dan mis-action dengan menempatkan berita 212 di halaman belakang.

Kenapa terjadi hal yang menyebabkan sebagian Jurnalis berpendapat Kompas telah salah langkah dan mis-leading bahkan melenggang hendak bunuh diri?

Pertama, tentu saja karena persepsi. Persepsi itu lahir dari nilai-nilai, sikap dan pengalaman individual dan kelembagaan Termasuk di dalamnya terselip rasa Dengki, purbasangka, dan kebencian atau kesukaan yang terbentuk pada pribadi-pribadi di Redaksional.

Kedua, lantaran pilihan Politiknya. Padahal PK Ojong selaku Pendiri Kompas berpesan : “Tugas Pers itu bukanlah Menjilat penguasa, melainkan mengritik penguasa.”

Dengan demikian Kompas telah meninggalkan Prinsip Jurnalistik Bothside Cover, Balance, Objective, Social Control.

Inilah paradoks yang sedang terjadi di Kompas. Kompas secara eksplisit pada Hari Senin 3 Desember dengan gagah berani seakan menyatakan : Kompas Bukan lagi Koran Kita. Tapi Korannya mereka. Untuk itu kita ucapkan : Selamat Tinggal Kompas. *

[Oleh : Dindin Machfudz, mantan Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Eksekutif Jakarta, bersama Dr Elvinaro menulis buku CSR dan Efek Kedermawanan Pebisnis]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com