AKSI PEMBANTAIAN yang diluar perikemanusian terjadi di Papua. Sebanyak 31 orang tewas terbunuh dengan sia-sia. Ke- 31 orang yang tewas ini adalah pekerja konstruksi dari PT. Istaka Karya (BUMN), yang sedang melaksankan pembangunan jembatan Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga Papua.

Kejadian ini berlangsung diperkirakan terjadi pada tanggal 1 Desember 2018 lalu. Berdasarkan informasi pekerja yang lolos dari pembantaian tersebut, terdapat 1 orang anggota TNI yang menjadi korban. Pos TNI disinyalir juga diserang oleh kelompok pengacau keamanan bersenjata yang dipimpin oleh Egianus Kogoya.

Dalam hal ini dapat dikatakan pemerintah belum berhasil memberikan rasa aman dan nyaman di Papua. Keistimewaan dan perlakuan khusus terhadap Papua oleh pemerintah selama ini, khususnya dari sisi infrastruktur dan alokasi anggaran yang besar, ternyata belum menjawab persoalan substansial yang terjadi di Papua.



Sepertinya pemerintah harus merumuskan kembali perencanaan program pembangunan di Papua. Pesoalan pembangunan fisik infrastruktur ternyata tidak berbanding lurus dengan pembangunan manusia papua. Sepertinya dapat patut diduga ada pesan khusus atas apa yang terjadi, pembunuhan 31 orang di Kabupaten Nduga ini.

Pertama, mungkin saja masyarakat Papua memberikan pesan khusus kepada pemerintah, bahwa pembangunan infastruktur di Papua bukan merupakan jawaban atas persoalan utama di Papua.

Karena beberapa hari lalu Presiden Joko Widodo baru saja mengunjungi Papua untuk memonitor progres pembangunan Jalan Trans Papua. Selama ini pula Presiden Joko Widodo sudah sering kali mengunjungi Papua.

Yang kedua, mungkin seyogyanya yang dilakukan oleh pemerintah adalah membangun SDM (manusia) Papua terlebih dahulu. Sebelum melakukan pembangunan fisik infrastruktur.

Kejadian pembantaian pekerja konstruksi di Papua ini, diprediksi akan membuat kekhawatiran para pekerja pendatang yang berasal dari luar Papua.

Kemungkinan akan berdampak pada muncul rasa dan sikap enggan bagi para pekerja yang berasal dari daerah lain untuk bekerja di Papua. Tentu hal ini akan membuat pembangunan Papua menjadi terhambat. (*)

[Oleh : Suhendra Ratu Prawiranegara. Penulis adalah Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, dan anggota Presidium Pusat GNPP (Gerakan Nasional Prabowo Presiden) #2019PrabowoSandi di Jakarta]

(*) Untuk membaca tulisan Suhendra Ratu Prawiranegara yang lainnya, silahkan KLIK DI SINI.


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com