BURUK MUKA cermin dibelah. Tak pandai berjoget lantai dibilang berjungkit. Elektabilitas macet Kiai Ma’ruf diungkit.

Seolah-olah Kiai Ma’ruf menjadi satu-satunya faktor penyebab mandegnya elektabilitas Joko Widodo. Tudingan itu pasti tidak fair karena “Ma’ruf Factor” hanya satu saja dari seabreg faktor yang menjadi penyebab kemandegan elektabilitas Joko Widodo.

Ada Kiai Maruf, Kenapa Umat Islam Masih Dukung Prabowo Subianto?

Kiai Ma’ruf dianggap tidak cukup bergerak sehingga tidak memberi kontribusi untuk mengerek elektabilitas. Bahkan Pak Kiai dituding tidak cukup efektif meredam kehadiran massa ke Reuni 212. Tudingan yang absurd.

Bagi Kiai Ma’ruf tudingan ini terlalu memojokkan. Ia kecewa. Ia merasa para pengritiknya, elite-elite di sekitar Joko Widodo, tidak menunjukkan cukup respek kepadanya.

Seharusnya Pak Kiai layak mendapatkan respek yang jauh lebih besar. Beberapa bulan terakhir dia berkeliling ke banyak pesantren di seluruh Jawa. Di Jawa Timur Pak Kiai sudah blusukan ke hampir semua pesantren besar, dan sambutannya cukup antusias.

Jadwal yang padat dan ketat membut kelelahan dan kurang konsentrasi, yang membuatnya keseleo kaki. Tidak parah, dan Pak Kiai masih ingin tetap jalan meneruskan kampanye. Tapi, dokter memaksanya istirahat. “Saya ambil hikmahnya. Kalau tidak keseleo saya tidak bisa istirahat” kata Kiai.

Istirahat bukan berarti tidak bekerja. Di tengah pemulihan cedera Pak Kiai masih tetap menerima tamu, melakukan konsolidasi, dan menerima pernyataan deklarasi beberapa relawan. “Saya masih tetap bekerja, meskipun tidak banyak bergerak,” kata Kiai.

Ia tak bisa menyembunyikan kekecewaannya karena, beberapa hari istirahat, Presiden Joko Widodo belum membesuk. Boro-boro besuk menelepon pun tidak. “Belum,” sergah Pak Kiai tersenyum getir.

Sebagai ganti dikirimlah Erick Thohir. Tugasnya membujuk Kiai Ma’ruf supaya luluh hati dan kembali berkampanye. Sebelumnya, pernyataan Erick memanaskan kuping Pak Kiai karena menyebut Pak Kiai belum berkampanye. “Lah sudah blusukan kemana-mana sampai kaki terkilir kok dibilang belum kampanye,” kata orang dekat Kiai Cawapres.

Malah berkembang spekulasi dari sekitar Istana bahwa posisi Cawapres bakal diganti. Bermunculanlah nama-nama stok lama mulai dari Ahok, Mahfud MD, Muhaimin Iskandar, dan nama-nama lain. Seperti mencium bau darah para predator politik mengintai laksana burung nazar.

Dalam tradisi ahlus sunnah di Indonesia seorang Rais Aam bukan sekadar kiai senior yang wajib didengar nasihatnya “sami’na wa atho’na” kami mendengar dan kami taat, tanpa reserve.

Tapi, lebih dari itu, dia adalah penyambung berkah ke langit. Posisi yang sangat istimewa. Karena itu, tidak layak menuding Kiai Ma’ruf sebagai “single factor” mandegnya elektabilitas Joko Widodo. Apalagi berkomplot menjatuhkan Pak Kiai.

Pak Kiai sudah cukup bekerja keras sesuai porsinya. Pak Kiai pantas mendapatkan penghormatan yang lebih besar. (*)

[Oleh : Dhimam Abror Djuraid. Penulis adalah wartawan senior, kini politisi]

* Untuk membaca artikel Dhimam Abror Djuraid yang lainnya, silahkan KLIK DI SINI.


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com