SALING KLAIM elektabilitas antara Jokowi-Mahruf Amin dan Prabowo Sandi yang berkompetisi dalam pemilu 2019 adalah bagian dari strategi psywar kedua kubu. Intinya mereka akan melakukan taktik kampanye yang bisa meningkatkan elektabilitas di pihaknya, sekaligus menurunkan elektabilitas di pihak lawannya.

Salah satunya adalah dalam pengelolaan isu yang tepat untuk digulirkan kepada publik, seperti isu-isu ekonomi (daya beli masyarakat, lapangan kerja, utang luar negeri, import, dll). Isu ekonomi bisa menyebabkan 50 persen petahana terpilih lagi, dan 50 persen game over.

Survei yang Gagal

Adanya trend penurunan elektabilitas Presiden Jokowi mulai terjadi ketika berpasangan dengan Mahruf Amin, sedangkan Prabowo Subianto cenderung naik elektabilitasnya ketika mendeklarasikan Sandiaga Uno sebagai cawapresnya.

Faktanya, elektabilitas petahana Jokowi-Mahruf Amin memang stagnan dan sedikit menurun dalam satu bulan terakhir ini. Sementara pasca reuni 212, elektabilitas penantang (Prabowo-Sandi) perlahan mulai naik.

Tentu petahana masih unggul atas kompetitornya, namun jaraknya menipis, bukan melebar. Dukungan terbesar Prabowo-Sandi berasal dari kalangan masyarakat ekonomi dan pendidikan menengah ke atas (perkotaan), sedangkan masyarakat menengah ke bawah (pedesaan) rata-rata masih pro Jokowi-Amin.

Prosentase terbesar penduduk Indonesia adalah di pedesaan, bukan perkotaan. Ini sebab masih unggulnya petahana vis a vis kompetitornya. Ini juga menjawab kenapa Prabowo-Sandi juara di media sosial yang banyak diakses orang kota.

Bagaimanapun, kubu petahana tetap merasa belum aman dengan maraknya hasil survei yang tiap rilis mengunggulkannya. Sebaliknya kubu Prabowo-Sandi pun seperti tidak terlalu khawatir dengan hasil survei yang dipandang cenderung menggiring opini publik (bandwagon effect).

Mereka percaya hasil survei internal sendiri. Underdog effect bisa saja membalikkan keadaan – dan justru bersimpati kepada Prabowo-Sandi yang dipersepsikan kalah terus oleh lembaga “Sure Pay” dan cenderung diperlakukan kurang adil oleh beberapa media mainstream. Apalagi sering petahana memang selalu menang di awal, bukan di akhir.

Tetapi jika diasumsikan bahwa masing-masing pasangan yang berkontestasi di Pemilu 2019 ini sama-sama stagnan, maka gelembung terbesar pemilih akan bergeser menjadi swing voters dan undecided voters.

Itu artinya, pemilih memberi kesempatan kepada sang penantang petahana (Prabowo-Sandi) dengan program, visi dan misi yang bisa dipercaya dan terukur. Dulu di 2014, Jokowi dipilih karena hebatnya janji dan strategi pencitraan.

Sekarang rakyat sudah bisa melihat dan merasakan semua janji dan kinerjanya. Bisa jadi, saat itu Jokowi malah tidak percaya dengan janjinya sendiri, dan justru terkejut kalau rakyat yang percaya.

Meskipun Jokowi hampir menguasai semua sumber daya yang ada, tetapi sebagai petahana sungguh riskan membuat janji baru – manakala banyak janji lama yang masih mangkrak. Dihadapan kekuasaan, hal mudah yang bisa dilakukan rakyat memang merawat dan membuka lagi baik-baik ingatannya.

Sudah ada semacam indikasi re-evaluasi pemilih yang menggelinding pelan. Ada gap yang menganga, yaitu problem keselarasan antara janji petahana dengan implementasinya.

Peluang besar dan kesempatan itu, kinj ada pada Prabowo-Sandi membuat janji politik dan program terbaiknya kepada rakyat dan “make Indonesia great again”. Tidak ada yang pasti dalam hidup ini, kecuali perubahan. (*)

[Oleh : Igor Dirgantara. Penulis adalah Direktur Survey & Polling Indonesia (SPIN)]

(*) Untuk membaca tulisan Igor Dirgantara yang lainnya, silahkan KLIK DI SINI.


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com