BUKAN KECEMASAN. Bukan Kepanikan. Ini adalah pemantik semangat perjuangan. Kita tahu, 2 Desember 2018 lalu perahu kita terantuk karang dingin lautan Monas. Sekali lagi ini harus menjadi penyadaran. Alat pembangun dari keterlenaan.

Betapa tidak, peristiwa berkumpulnya lautan manusia itu setidaknya telah membuat tiga retakan besar. Cukup parah. Mencapai lambung perahu.

Retakan pertama bernama mandulnya aparat. Kinerja badan-badan intelejen memble. Tidak mampu menyuguhkan data valid perkiraan jumlah massa. Laporan yang masuk, hanya akan dihadiri puluhan ribu saja. Nyatanya data perangkat telepon yang berkumpul di ring monas mencapai 11 juta.

Membengkaknya demonstran juga tanda mereka tak bekerja maksimal melakukan upaya pencegahan, intimidasi, dan pelarangan terhadap simpul-simpul massa. Mereka hanya efektif mencegah tokoh untuk tidak hadir, seperti Aa Gym dan Arifin Ilham. Tapi massa tetap banjir. Ketipu.

Mereka kini hanya bisa saling menyalahkan. Coklat salahkan Ijo. Ijo salahkan Coklat dan Kalibata. Menjengkelkan. Apel siaga 1 Desember 2018 dengan ribuan aparat dan alat tempur, jadi omong kosong belaka. Kenapa? Pas hari-H nya malah bagi-bagi logistik ke peserta aksi. Pencitraan niye…?

Retakan kedua bernama media banci. Dikasih iklan banyak sudah. Dikasih proyek sudah. Tetap saja memberitakan. Mau memberitakan di halaman dalam atau tayangan hanya 1 menit. Tetap saja memberitakan. Nah yang menggelikan adalah korannya Bapak Ketua Timses. Buat laporan di halaman depan. Gede judulnya. Banci bener. Nyuruh koran lain gak menerbitkan, eh malah dibuat headline sama dia.

Kini bos bewok, Pak ketua dan para bos media cuma bisa saling menyalahkan dan curiga. Ada pengkhianat kek penyusup kek. Sudahlah kalian gak kompak gitu aja. Modus lama, ujung-ujungnya minta iklan lagi. Huek.

Lagian hari gini informasi mau ditutupi ya susah. Udah ada sosmed keles. Jadi ya beritakan, beritakan aja. Gak usah cari muka mau di black out segala. Semakin ditutupi smeakin kecium bukan? Termasuk tipatipu itu makin bau deh.

Retakan Ketiga bernama rebutan Cawapres. Pasca 212 elektabiltas nyungsep. Meski bos-bos partai bilangnya stagnan. Dalam bahsa politik kalau stagnan berarti emang nyungsep. Kini tinggal Jateng aja yang unggul. daerah laen jeblok blok.

Siapa salah? Kata opung karena cawapres belum kampanye. Kata Pak Ketua Timses juga begitu. Aladalah, jadi MA selama ini ngapain? Penguatan basis masa gituh. Kalau jeblok berarti basis masanya belum kuat. Alias deim-diem bae. Gak kerja blas.

Halo kemana para kiai, para pemilik pesantren itu? Dari dulu saya sih gak yakin sama mereka, wong waktu sama Bu Mega saja pasangannya dari kubu mereka ya suaranya jeblok. Sederhana saja buktinya sekarang di Garut, MA ditolak pesantren-pesantren.

Tapi omongan Opung dan Pak Ketua itu bisa juga nyindir MA agar lebih keras blusukan seperti si Uno. Wah yah gak level. Udah tua gitu. Sementara si Uno masih kinyis-kinyis. Kok ya tega mereka itu. Apa mau bikin MA tambah sakit? Terus ganti cawapres gitu?

Nah anehnya orang-orang en-oe yang menggadang-gadang MA kok diem semua ketika MA diserang. Menghilang, gak ada yang jenguk MA. Malah mereka debat kalau MA diganti harus dari en-oe lagi. Kalau gak, suara akan dialihkan ke Uno…. Loh kok teganya….

Sementara dari sebelahnya, penggantinya Mbak Pu aja. Klo Mba Pu merah solid deh. Sudah terbukti dari en-oe gak mengerek elektabilitas. Bikin blunder iya. Lah gimana, bakar bendera item-putih itu memicu orang untuk datang di 212. Pemillih muslim mengambang (bukan pengurus en-oe) jadi kabur ke Owo.

Runyam bener. Di sebelah asyik bekerja mengumpulkan suara, eh disini malah rebutan pengganti cawapres. Alo partai pendukung pada kemana selama ini, kok suara jeblok. Eh muncul lagi minta jatah cawapres. Ampun dah. Rusak bener perahu Pak De.

Akut. Rusaknya dah akut. Menyebalkan. Saatnya ganti perahu. Ini bukan perahu yang nyaman buat kita lagi. Gak yakin perahu seperti ini akan membawa pada perbaikan ekonomi. Pembangunan infrastruktur hanya akan jadi bom utang. Yang setiap saat bisa meledak. Bisa jadi besok. Dan bukan lagi retak, karamlah itu perahu Pak De.

Jadi, seperti yang saya kemukakan di depan. Mari tetap semangat. Ini adalah lampu merah. Tanda untuk segera mengarungi lautan dengan kapal baru. Jangan terlena. Tetap semangat !

[Oleh : Kurniawan Wijaya, pegiat sosial]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com