KEBANYAKAN ORANG tetap saja tersinggung bila kenyataan pada fisiknya yang dianggap kurang, dieksploitasi dengan cara dilekatkan pada namanya sebagai julukan. Soal julukan atau nama panggilan (Inggris: nickname) adalah nama seseorang yang bukan nama asli sebagaimana pemberian orangtuanya.

Nama julukan bersifat tidak resmi, namun bersifat sosial dalam suatu komunitas tertentu. Nama julukan bisa jadi diambil dari bagian nama orang itu sendiri dan/atau bahkan sama sekali tidak ada kaitannya dengan nama orang tersebut, misalnya berasal dari bagaimana seseorang melihat atau dari sesuatu yang biasa mereka kerjakan.

Dan memang, nama julukan bisa saja terdengar dan terasa kasar serta tak menyenangkan. Namun sebaliknya, dapat terdengar dan terasa manja bila dipakai oleh orang yang yang mencintai atau menyayangi orang tersebut.

Sebuah nama julukan dapat bercirikan karakter atau ciri khas yang gampang untuk diingat. Contohnya; “si botak”, karena orang tersebut berkepala botak. Iwan Keling ditujukan untuk Iwan yang berkulit hitam legam.

Nama julukan dapat juga diartikan sebagai alias atau nama samaran, atau sebutan. Di zaman nabi, ada Abdullah bin Amin yang berjuluk Abu Hurairah. Ia disebut sebagai Bapak Kucing karena sayang dengan binatang itu.

Ada juga Amr ibn Hisyam yang berjuluk Abu Jahal maknanya Bapak Kebodohan. Juga ada Abdul Uzza bin Abdul Muthalib berjuluk Abu Lahab. Dia mendapat julukan begitu dari ayahnya karena wajahnya dianggap sangat cerah.

Nah, belakangan di tengah masyarakat ada nama populer yang seringkali disebut dan jadi perbincangan yakni Mukidi dan Jaenudin Nachiro. Usut punya usut dua nama itu ternyata julukan bagi satu orang: Jokowi.

Saya jadi penasaran dan ingin tahu asal usul dari julukan itu. Maka saya mencoba searching google dan youtube. Mau tahu hasilnya?

Asbabul nuzul atawa mula buka julukan “Jaenudin Nachiro” berawal ketika Jokowi yang dengan pede menyanyikan lagu Sabyan berjudul Deen Assalam dalam sebuah forum. Lirik lagu yang aslinya : “Abtahiyyat wabsalam Ansyaru ahlan kalam zainuddin yahtirom oleh Jokowi dilafalkan Jaenudin nachiro untuk zainuddin yahtirom.

Nadirin pun tepuk tangan ketika ia menyudahi bernyanyi. “Silakan lanjutkan. Hafalnya cuma segitu,” ucapnya, diiringi senyum polos.

Saya jadi teringat Seno, teman SD tempo dulu. Satu kali ia mendapat giliran maju di depan kelas untuk bernyanyi. Ia menyanyikan lagu “Garuda Pancasila”.

Lirik lagu yang mestinya “pribadi bangsaku ayo maju maju, ayo maju maju” dengan pede dan suara melengking penuh heroik ia lafalkan begini: “pribang pribangsaku, ayo maju maju, ayo maju maju … “

Mirip suasana ketika Jokowi bernyanyi Jaenudin Nachiro, kami semua bertepuk tangan diiringi gelak tawa mereka yang tahu bahwa syair lagu itu keliru. Ya, untuk anak-anak tingkah Seno jelas lucu. Selucu jainudin nachiro.

Lalu dari mana julukan Mukidi? Mukidi adalah tokoh dalam cerita fiktif tentang pria Jawa yang kocak nan polos bikinan Soetantyo Moehlas.

Ada 2000an cerita konyol itu bikin ngekek tentang Mukidi. Kekonyolan dan sok tahu Mukidi itu sudah menjadi buku berjudul: Laskar Pelawak 1, Balada Mukidi dan Wakijan.

Saya mencoba mencari tahu siapa sejatinya yang menyematkan nama Jokowi dengan nama Mukidi terus apa relevansinya? Jelas saya tidak menemukan tentang siapa manusia kreatif itu. Namun saya jadi senyum-senyum sendiri dan mulai nyambung begitu membuka youtube tentang jainudin nachiro.

Pemberi julukan Mukidi untuk Jokowi boleh jadi ada kemiripan tentang keduanya. Munculnya jaenudin nachiro memperkuat dalil itu. Saya menganggap julukan itu pas betul: Mukidi memang sok tahu dan kelewat pede.

Dia banyak tidak tahu, tapi dia tidak tahu bahwa dirinya nggak tahu. Mbulet ya. Ya, memang begitu. Mukidi memang mbulet dan membingungkan.

Nah, masuk kategori mana julukan Jokowi itu/ Terasa kasar serta tak menyenangkan, apa terasa manja?

[Oleh : Noer Huda. Penulis adalah pengamat Mukidi]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com