POTONG LEHER, potong kuping, ludahi muka adalah gejala orang sakit jiwa, kenapa? Karena sikap itu adalah sikap penghambaan total kepada manusia lainnya yg tidak manusiawi, kehilangan jati diri dan merendahkan martabatnya sendiri sebagai manusia.

Penghambaan seperti itu umumnya ditujukan untuk menunjukkan loyalitas kepada seorang diktator, menyorongkan mukanya sebagai orang yg paling setia. fenomenanya ialah orang itu merasa bangga mengumumkan sikap rendahnya dihadapan publik, dengan tujuan untuk mencari muka.

Strategi Akuisisi Politik Ala Jokowi. Rekrut, dan Serang Balik



Diktator apa itu diktator? Diktator bukanlah seseorang tokoh yg penampakkan dan sikapnya harus terlihat garang dan menakutkan seperti tokoh Rahwana misalnya , tapi bisa saja tokoh itu adalah seorang yg berpenampilan lucu, plango plongo atau sendu sekalipun.

Lihatlah Hitler, yg membantai 2 juta manusia tahun (1939- 1942), penampilannya mirip almarhum pelawak Jojon dengn kumis ngumpulnya dibawah hidung, lihatlah juga Soeharto terlihat adem sejuk dan sendu , juga bung Karno tampan dan menawan.

Sifat kerja Diktator adalah sistim, yaitu sebuah tim dari suatu mekanisme kerja yg khas. Perhatikanlah penjahat perang dunia ke dua bukanlah Hitler seorang saja, tapi adalah juga staf2 Hitler yg dibawah komandonya.

Jadi aneh bila ada seorang presiden mengatakan, dia tidak merasa melakukan kriminilisasi dan diskriminasi hukum terhadap sebagian rakyatnya, sementara polisi yg dibawah kendalinya melakukan hal itu.

Coba..apa susahnya membangun kriminalisasi melalui mekanisme permainan bola voley, ada yg mengover, ada yg melambungkan bola dan ada yg menCemeshnya.

Contoh permainan bola voley yg paling aktual, adalah tersangkanya Habib bahar, disitu terlihat danta, ada yg melaporkan, ada yg memproses hukum dan nantinya bakal divonis.

Model diktatorship bola voley seperti ini nampaknya model dikatorship khas Indonesia.. belum ada teorinya, jadi tantangan buat para ilmuwan untuk menciptakan teori baru.

La Nyala mengatakan bahwa Jokowi itu PKI adalah fitnah, dia mengatakannya sambil mencabik cabik baju didadanya dengan mengatakan dialah yg melakukan perilaku rendah, menebar fitnah terhadap jokowi ditahun 2014, dan sekarang telah meminta maaf kepada Jokowi disampaikannya ke publik sebagai bagian dari “memamerkan kedunguannya”

Pernyataan bahwa Jokowi bukan PKI telah disampaikan oleh Jokowi sendiri, bahwa *”mana mungkin Jokowi menjadi anggota PKI yg telah dibubarkan tahun 1966 itu, padahal ketika itu umur Jokowi baru empat tahun”.

Klarifikasi jokowi diatas sebetulnya sudah cukup bisa diterima , tapi menjadi kontra produktip setelah La nyala melakukan pembelaan lebay.

La nyala oh La nyala..
Perhatikanlah La nyalah, bukanlah disitu masalahnya, karena bisa jadi apa yg dikatakan ust Alpian Tanjung, Kivlan Zen hanyalah salah menggunakan istilah saja (PKI), mestinya istilah yg digunakan adalah Komunis baru atau Komunis saja.yg dimaksudkan mereka sesungguhnya adalah bahwa dibawah kepemimpinan Jokowi ternyata kecenderungan terhadap Komunis terlihat nyata.

Apa misalnya? kecenderungan pembangunan negeri ini yg berbasic kepada BUMN, ini model pembangunan negara komunis.

Belum selesai Jokowi jadi Presiden, sudah merebak isu PKI, ada yg namanya ingin direhabilisasi bahwa mereka (PKI) bukanlah pelaku Gerakan 30 september tahun 1965, ada yg bangga menyatakan dirinya bangga menjadi anak PKI, dst. Seperti eporia..

Timses Jokowi diduga banyak orang dengan komunis barunya, bisa dilihat dari siapa yg jadi jubirnya di acara TV, terakhir ada yg mengatakan anti perda Syariah. Diduga Jokowi dilingkupi oleh orang seperti itu.

Ada yg anti akherat, ada yg anti hijab, ada yg anti azan

Jargon Jokowi tentang revolusi mental yg dikenal dunia sebagai doktrinnya Karl Marx, yg mengatakan bahwa agama adalah candu (narkoba) dan karenanya harus dimusnahkan, diduga berkesesuaian dengan pembelaannya terhadap penista Alqur an, Ahok.

Apa misalnya, diacara 411 yg berbuntut kerusuhan, Jokowi malah pergi entah kemana. Polisi terkesan tidak ingin memproses hukum, sampai akhirnya timbul aksi menghebohkan itu, 212.

Di era jokowilah pertentangan dimasyarakat begitu tajam dan dibiarkan dengan pola pecah bambu yg satu diangkat dan yg satu diinjak. Kehidupan rakyat menjadi tidak nyaman dan semakin tidak nyaman, semakin was was setelah ada pembakaran kantor polsek di Ciracas baru2 ini.

Tahukah, Karakter dasar Komunis dalam mempertahankan kekuasaan adalah dengan pola antagonis, pola pertentangan.

Dan semuanya itu ada di rezim ini La nyala.

[Oleh : Sepeda Man]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com