DI PEMILU serentak 2019, pemilih milenial secara umum adalah pemilih pemula yang mayoritas memiliki rentang usia 17-21 tahun. Mayoritas dari mereka adalah pelajar (SMA), mahasiswa dan perkerja muda. UU No. 7 tahun 2017 tentang Pemilu memberi jaminan bagi pemilih pemula yang pada 17 April 2019 telah berusia 17 tahun untuk menyalurkan hak pilihnya di Pemilu 2019.

Secara kuantitatif, jumlah pemilih milenial cukup besar dan dianggap berkontribusi signifikan dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, maupun pada Pemilihan Anggota Legislatif (DPR, DPD dan DPRD). Kemendagri mencatat ada 5.035.887 orang pemilih pemula pada Pemilu 2019, dan masuk dalam Daftar Penduduk Pemilih Potensial Pemilu (DP4).

Suara Milenial untuk Pilpres 2019

Jumlah ini didapat dari hasil pengurangan total Daftar Penduduk Pemilih Potensial Pemilu (DP4) dan data penduduk wajib KTP elektronik (e-KTP) DP4 berjumlah 196.545.636, sedangkan jumlah data wajib e-KTP sebesar 191.509.749.

Problem klasik pemilih milenial adalah rendahnya partisipasi politik dan berpotensi tidak menggunakan hak pilihnya (golput) dalam perhelatan pemilu 2019. Sebaliknya, aktualisasi hak pilih milenial juga masih mengandung persoalan dan bisa menyebabkan mereka kehilangan hak pilihnya.

Misalnya, pemilih milenial terancam tidak bisa menggunakan hak politiknya di Pemilu 2019 jika tidak punya e-KTP, Surat Keterangan (Suket), atau salinan bukti terdaftar sebagai Pemilih dalam DPT di TPS-nya. Yang belum dimiliki oleh sebagian besar pemilih milenial adalah e-KTP, atau mungkin ada yang sedang melakukan perekaman e-KTP.

Ada baiknya pemilih milenial berinisitif mengecek apakah namanya sudah masuk DPT atau belum. Jika belum, segera melapor ke Panitia Pemungutan Suara (PPS) terdekat untuk segera dimasukkan ke dalam DPT dengan melampirkan bukti e-KTP, atau resi surat keterangan perekaman e-KTP.

Secara kualitatif, segmentasi pemilih milenial punya pola yang khas. Mereka berada di pusaran antusiasme dan politik dengan apatisme politik. Pada satu sisi bersemangat dan ingin tahu seputar Pemilu, tetapi antusiasisme tersebut tidak simetris dengan realitas prilaku politiknya.

Mereka menganggap kegaduhan dinamika politik tidak menarik dan jauh dari keseharian mereka. Sosialisasi terus menerus oleh penyelenggara pemilu penting terus dilakukan untuk pemilih milenial, terutama dalam melakukan pendidikan pemilih (literasi politik).

Karakteristik prilaku politik pemilih milenial sangat dinamis, sulit diatur, individualistis, spontan dan suka pada isu-isu tertentu yang menarik perhatiannya.

Persepsi politiknya cenderung cepat berubah (swing voters) dan mayoritas milenial adalah undecided voters. Pemahaman politiknya bisa dibilang minim, labil, dan sangat potensial dipengaruhi lingkungannya, seperti keluarga, peer group , televisi dan media sosial.

Riset Survey & Polling Indonesia (SPIN) 2017 mengkatagorikan 4 jenis pemilih milineal. Pertama, pemilih Milenial Aktif. Umumnya mereka kepo terhadap masalah politik, pilkada, pemilu, dan hiperaktif di internet (medsos).

Aktivitas politik mereka juga sering dimanifestasikan terlibat sebagai relawan partai atau sosok kandidat politik tertentu.

Kedua, Milenial EGP (emang gua pikirin). Mereka gaul, aktif di medsos, agak bandel, tapi masa bodoh dan nggak suka dengan politik (apatis).

Ketiga, Milenial Galau yang mayoritas netizen aktif dan punya kecenderungan seirama dengan peer groupnya, tetapi masih ragu atau bingung dalam menentukan pilihannya.

Keempat, Milenial Alim. Mereka umumnya bukan anak gaul, pengguna medsos untuk sekedar bersosialisasi, dan condong mengikuti preferensi orang tua atau keluarganya.

Riset SPIN membuktikan bahwa generasi milenial mengkonsumsi internet rata-rata di atas 7 jam sehari. Sebanyak 95 persen generasi milenial mengkonsumsi televisi dan 85 persen umumnya mengakses internet. Saat ini, pengguna aktif media sosial di Indonesia mencapai 130 juta.

Pemilih milenial melek informasi (internet), tapi masih galau dalam menentukan pilihan. Dari riset SPIN ditemukan bahwa pemilih generasi milenial menginginkan pasangan capres-cawapres dengan karakteristik tegas (38%), merakyat (35%), dan berintegritas (13%).

Kaum milenial menyukai kandidat yang menyatu dan tidak berjarak dengan life style mereka (similarity attraction) dan punya ketegasan. Siapa kandidat yang dipandang menarik adalah yang mampu memberi ekspektasi besar bagi masa depan generasi milenial, seperti lapangan pekerjaan, pendidikan, kesenian dan olahraga.

Pemilih milenial mudah berubah ke lain hati, apalagi jika menemukan idola baru. Riset SPIN menunjukkan bahwa preferensi sosiologis milenial cenderung bersandar pada agama yang dianut kandidat (30.1%) dibandingkan kinerja kandidat (20,4%). Milenial cenderung tidak suka pencitraan (apa adanya), dan senang dengan perubahan.

Dalam Pilpres 2019, popularitas Jokowi dan Prabowo Subianto sebagai capres cukup tinggi di mata milenial. Namun, dari segi usia dan pemikiran cawapres 2019, milenial punya likeability terhadap Sandiaga Uno, ketimbang Mah’ruf Amin.

Milenial itu binatang mata, mereka suka kepada sosok yang menarik secara visual (fenotipe optis). Success story Sandiaga Uno sebagai pengusaha banyak menginspirasi generasi milenial sekarang ini. (*)

[Oleh : Igor Dirgantara. Penulis adalah Direktur Survey & Polling Indonesia (SPIN)]

(*) Untuk membaca tulisan Igor Dirgantara yang lainnya, silahkan KLIK DI SINI.


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com