PUBLIK AKAN memilih pemimpin yang bisa memperbaiki ekonomi, bukan yang merasa bisa jadi imam shalat. Apalagi kalau cuma jadi imam shalat zuhur yang tidak kedengaran bacaan ayatnya.

Kalau urusan shalat, publik akan memilih imam yang betul-betul bisa jadi imam. Bukan yang berlagak bisa, dan selalu merasa bisa hanya demi pencitraan gaya lama yang sudah basi.

Menjawab Keislaman Prabowo Subianto

Kalau Allah saja dia tipu, apalagi publik. Ini jelas bencana.

Sudahlah, publik sudah capek melayani religious gimmick model begini yang tidak ada substansinya. Dalam waktu empat tahun publik sudah sangat cerdas menilai mana loyang mana emas.

Di zaman keterbukaan informasi ini hanya orang yang sangat bodoh yang tidak bisa bangkit dari keterbelakangan kognitif dan intelektualnya. Manusia normal pasti paham apa yang sedang terjadi.

Dengan kecerdasan yang sangat rata-rata, publik bisa menilai bahwa mereka tidak perlu pemimpin yang merasa bisa jadi imam shalat.

Mereka perlu pemimpin yang bisa memperbaiki ekonomi, menjamin adanya stabilitas, bisa menghadirkan keadilan bagi semua, dan menghadirkan rasa nyaman bagi semua warga negara.

[Oleh : Buni Yani, pendiri Simpul Buni Yani Social Justice]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com