SINYALEMEN SEORANG Capres (PS) bahwa kita tidak boleh kalah karena kalau kalah Indonesia bisa punah. Artinya ada semacam fenomena yang menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan Indonesia.

Ungkapan Indonesia bisa punah hendak difahami secara positif. Ungkapan itu ingin mengajak semua anak bangsa untuk membuka mata hati pada kecendrungan perubahan sejarah dikaitkan perjalanan bangsa akhir-akhir ini.

Sejarahwan terkemuka Arnold Toyeenby mengatakan bahwa kehancuran suatu peradaban karena faktor dari dalam.

Masa depan Indonesia semua tergantung dari Pemimpin bangsa Indonesia sebagai Nachoda NKRI yang mengemudi ( mendrive) menuju masa depan Indonesia.

Dimaksud pemimpin disini yaitu ada Presiden, elit politik (partai), pemimpin agama dan Ormas-Ormas. Karena itu kesalahah rakyat dalam memilih pemimpinnya akan berdampak buruk pada masa depan bangsa Indonesia.

Masa depan Indonesia adalah tetap bertahan sebagai NKRI dan peradabannya atau mengalami kehancuran peradabannya, dengan kemungkinan-kemungkinan, yaitu :

1. Negara kesatuan menjadi negara yang pecah menjadi beberapa negara kecil seperti Yugoslavia dan Uni Soviet. Tangan-tangan global bekerja untuk mencapai tujuan ini untuk menegah munculnya Indonesia sebagai kekuatan baru, jadi negara besar, kuat dan berpengaruh.

2. Atau dari negara bangsa yang bebas merdeka dan demokratis menjadi bangsa yang terjajah dan diperintah atau dikuasai baik secara teroterial maupun secara ekonomi dan budaya.

3. Atau dari negara dan bangsa yang memiliki falsafah Pancasila yang agamis (berdasarkan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa) menjadi negara atheis (komunis) dimana agama dikebiri dan ditindas seperti yang dialami Muslim Uyghur di China.

Dalam kekuasaan komunis tidak dibedakan Islam moderat atau radikal tapi semuanya dianggap sebagai ancaman yang harus dihancurkan.Atau menjadi liberal-sekuler dimana peranan agama hilang diranah sosial dan politik seperti di Barat.

Beberapa tahapan skenario menuju kepunahan peradaban Indonesia dimasa depan

1. Salah satu kekuatan Indonesia dari dalam (indegeneous forces) adalah ummat Islam bersatu menjadi penyangga tetap tegaknya NKRI. Ummat Islam yang bersatu sudah terbukti mampu mengakhiri penjajahan. Karena itu selalu ada skenario untuk memecah belah ummat Islam. Indikasi itu mudah dibaca. Berbagai cara untuk memecah belah ummat Islam,seperti :

a. Dikhotomi Islam moderat dan Islam radikal.Mengelompokkan Islam kedalam kelompok nasionalis vs Islamis.

b. Memanfaatkan kesenjangan sosial dan ekonomi.

c. Membangun fitnah untuk menciptakan Islam phobia.

d. Para tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh dijauhkan/dipisahkan dari ummatnya seperti yang dialami TGB dan MA . Kini YIM dalam proses ini.

e. Para tokoh pemimpin Islam, termasuk pemimpin politiknya satu persatu dihancurkan namanya melalui berbagai kasus dan fitnah.

f. Menguatnya kekuatan radikal kiri (komunisme) dan kelompok kanan menjadi komprador asing untuk melemahkan pengaruh agama diranah publik dan memecah belah Islam. Ingin menghapus pendidikan agama, menghapus kolom agama dalam KTP dan Surat Nikah.

2. Terpilihnya pemimpin Indonesia yang mau jadi agen atau komprador asing. Inilah faktor utama kelemahan bangsa Indonesia sekarang ini. Kaum elit mau saja jadi agen atau komprador asing. Mulai dari aktivis HAM hingga pemerintahan.

Kalau di zaman Orba, komprador asing baru sekitar aktivis HAM, tapi kini sudah pada level pemerintahan. Dulu kenapa bangsa Indonesia kuat melawan penjajah karena para Pemimpinnya seperi Soekarno, Hatta dkk tidak mau jadi agen atau komprador penjajah. Menghadapi penjajah dengan politik “non cooperation). Konsisten dan tabah dalam perjuangan. Hasilnya Indonesia merdeka.

Ketika Indonesia sudah dipimpin oleh agen atau komprador asing, perlahan tapi pasti Indonesia sedang merangkak menuju kepunahan peradabannya.

3. Sistematika kebijakan pemerintah:
– Bebas visa ke banyak negara.
– Kerjasama ekonomi dgn China untuk investasi dan membangun unfra-struktur.
– Hutang dari negara dari China makin membengkak merupakan beban negara jangka panjang dan siasat jebakan Batman China untuk menguasai Indonesia.
– Memasukkan sebanyak-banyaknya TKA asal China, yang ditengarai sudah jutaan jumlahnya. Untuk apa kalau tidak punya agenda tersembunyi.

4. Ketika kuasa uang begitu dasyat. Sumber uang dari kekuasaan asing dan 9 naga Konglomerates. Uang bisa mengatur segala sesuatu agar seseorang bisa jadi pemimpin Indonesia. Mengatur media, lembaga survey, mengatur pekerja politik dan bahkan hasil Pemilu dan Pilpres bisa diatur.

Dengan uang kedaulatan rakyat untuk memilih pemimpinnya tergadaikan. Kuasa uang membuat makin minimnya jumlah pemimpin yang idealis dan memiliki nasionalisme tinggi untuk menjadi pemimpin dan bermunculan pemimpin-pemimpin yang pragmatis untuk mengejar kepentingan pribadi dan kelompok sehingga mudah diatur oleh kepentingan asing.

5. Pemilu dan Pilpres cenderung menjadi instrumen perebutan kekuasaan yang dilatar belakangi (backing) kepentingan asing. China misalnya tentu berusaha memelihara status quo kekuasaan agar menjaga investasinya dan pembayara hutang Indonesia, karena itu Jokowi tidak boleh kalah.

Mari kita tunggu Pemilu /Pilpres 2019, siapkah sesungguhnya yang sakti ucapannya tidak boleh kalah.

Sebagai bangsa Indonesia tidak boleh pesimis. Masih ada semangat nasionalisme baru seperti Gubernur Bali yang mentang dominasi asing atas ekonomi pribumi. Dia memerintahkan penutupan semua toko dan usaha warga China pendatang. Tentu akan muncul tipologi pemimpin seperti Gubernur Bali.

Juga masih ada semangat (spirit) ABRI yang ingin melanggengkan NKRI yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 untuk kembali kepada UUD 1945 yang murni.

Semangat (spirit) itu akan melawan setiap kecendrungan jalan sesat yang membuat Indonesia punah. Tinggal bagaimana keputusan rakyat Indonesia pada Pilpres 2019 nanti. Apakah terobsesi pada jalan yang mendekati kepunahan Indonesia. Ataukah membuka mata ikut serta mencegah kepunahan Indonesia dengan menentukan pilihan yang bijak dan benar.

Save NKRI

[Oleh : Asp Andy Syam, pengamat sosial politik]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com