DISELA-SELA akhir semester ganjil, saya, suami bersama anak paling kecil di akhir tahun. Teringat seorang ibu yang bukan lain adalah ibu dari teman anak saya, kami belum saling kenal sebelumnya.

Minggu lalu saya berjumpa dengannya dan kami berkesempatan saling mengenal. Ibu tersebut seorang guru mengajar Sosiologi di Sekolah Menengah Atas.

Makna Hari Ibu, Emak-emak Berani Menyuarakan Pilihan

Dengan profesi yang sama dengan saya sebagai pengajar/dosen di beberapa perguruan tinggi.

Kemudian perbincangan kami berlanjut melalui WhatsApp (WA). Kami berbincang tanpa tatap muka tentang suatu kasus yang dialami anak didiknya.

Ibu tersebut terbeban sebagai seorang pendidik yang bertugas yaitu menjadikan seorang siswa dari tidak tahu menjadi tahu/mengerti, menjadikan anak yang bodoh menjadi anak yang pintar, menjadikan anak yang tidak sopan menjadi anak yang sopan.

Sebagai seorang Psikolog, saya terbiasa mengenal pribadi seseorang lewat verbal, wajah, penampilan, dan perilakunya, karena salah satu cara seseorang berkata-kata saja dapat mencerminkan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya.

Jika hati damai kata-katapun menjadi santun dan indah. Demikian yang dikatakan oleh Amsal 4:23 : Jagalah hati dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan

Sejak awal kami berbincang, ibu ini menyiratkan sikap yang rendah hati dengan tutur kata yang baik.

Pertanyaan demi pertanyaan saya ajukan untuk menggali informasi awal mengenai subyek yang akan saya tangani. Dari jawaban-jawaban yang diberikan justru yang terpancar adalah kepribadian ibu tersebut.

Melalui percakapan selama tiga hari berturut-turut sebelum penanganan dimulai, saya menemukan tiga hal menarik dari sang ibu, yaitu :

1. Sikap kepedulian pada orang lain yang meskipun bukan urusannya tetapi diusahakannya dengan maksimal.

2. Mengerti etika, tutur kata sopan dan baik.

3. Sikap menghargai dan empati terhadap orang lain.

Ketiga hal di atas tercipta bukan karena pembicaraan yang singkat atau ingin memberikan kesan pertama yang baik kepada saya, meskipun itu sangat mungkin dilakukan.

Kehangatan dan ketulusan terbaca di dalam rangkaian kata demi kata yang diucapkannya, ditulis dan dikirim melalui WA.

Menjadi ibu bukan masalah fisik, kecerdasan maupun jabatan tetapi bagaimana berfungsi dan menjadi teladan.

Seorang ibu adalah salah satu ROLE MODEL PENTING bagi perkembangan karakter anak-anaknya…

Sikap apa yang ingin ditanamkan pada mereka? Lakukanlah itu terus-menerus hingga menjadi karakter diri kita yang menetap, yang dapat dilihat, dirasakan dan ditiru oleh anak-anaknya sepanjang waktu.

Percantik jiwa dan pertajam potensi diri
kelak bukan sekedar kebanggaan dan kekaguman yang terucap di bibir mereka pada ibunya.

Terlebih lagi yang terutama melalui ibu akan terbentuk generasi yang berkarakter dan berkompeten.

“SELAMAT HARI IBU”

Tetaplah bangga dan semangat menjadi fungsi ibu…

[Oleh : Dr. Indrawati Wivina H., BA., Dipl.Mngt., SE., S.Psi., MBA., MM., M.Pd., M.Psi., CBHA., seorang psikolog].


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com