DUH KOK Usamah segitunya? Saya kebetulan ada di ruangan yg sama. Saya duduk persis di belakang usama.

Sekedar mengingatkan saja kpd siapa pun yg hadir saat itu. Prabowo bukan marah karena keislamannya dipertanyakan.

Para ulama yang hadir di hotel Sultan, Jakarta, mungkin di luar usama, sudah paham bahwa Prabowo mengakui secara jujur bahwa pengetahuan dan keislamannya memang tidak seperti ulama.

Usamah Hisyam itu Termasuk Ampas Perjuangan

Beliau juga mengakui hal ini di banyak kesempatan, termasuk ketika berjumpa dengan Habib Riziek Sihab di Makah, lagi-lagi, saya ikut dan berada di sana bersama sekitar 40 orang.

Prabowo marah karena ada penyusup. Tepatnya begini:

“Saya tahu di sini ada penyusup!”, nada suaranya memang langsung meninggi. Sorot matanya sangat tajam ditujukan pada seseorang.

“Nanti yg kita bicarakan di sini, belum selesai acaranya, sudah bocor ke sana!”. Brak! Meja digebrak. Lagi-lagi sorot matanya ditujukan pada seseorang.

“Nanti dilaporkan bahwa saya, Pak Amien, dan kita semua dibilang mau makar!” seperti tadi, matanya makin tajam menatap orang yg sama. Nada suaranya semakin tinggi.

Brak! “Saya tidak takut!!!”

Ada jeda beberapa detik sebelum Prabowo melanjutkan.

“Saya dan kita semua tidak takut!” sekali lagi meja digebrak.

Pak Amien Rais di kanan dan almarhum Kiayi Maksum Situbondo di kiri. Pertemuan itu digagas oleh Kiayi Maksum, tokoh NU garis lurus . Beliau datang dengan tabung oksigen berada di dekatnya.

Tak lama, wajah Prabowo kelihatan mulai tenang. Kemudian dengan suara yang tetap terdengar tegas, Prabowo meminta maaf.

Saya melihat dengan jelas, tak satu pun ulama yang hadir tersinggung. Di barisan depan selain dua tokoh tadi, ada Abah Raut, Kiayi Misbah, ustadz Slamet Maarif, Ustadz Yusuf Martak.

Sekali lagi, tak ada yang terlihat terganggu dengann gebrakan meja itu. Mereka paham Prabowo sedang memberi sinyal pada sang penyusup.

Malah ada yang bergurau, dalam hukum islam, hukuman bagi para pengkhianat, sangat keras. Ya, bisa dipancung. Penyusup identik dg pengkhianat.

Saya paham yang dituju Prabowo, tapi saya tidak ingin suudzon. Kalau pun harus ada hukuman, biar kelak Allah yg menghukumnya.

Sinyal

Terkait soal pilihan ijtima ulama yg kemudian memilih Prabowo, saya sejak ikut umrah dan ikut hadir pula di kediaman HRS di Mekah, sinyal untuk mendukung Prabowo sangat kuat.

Jangankan hanya dua paslon, seandainya ada lebih dari itu, sinyal dari HRS kepada Prabowo sangat kuat.

“Kita lihat yg mudharatnya paling kecil!” katanya.

Jadi, ketika ijtima menghasilkan Prabowo sebagai capres, saya tidak heran.

Semoga penjelasan ini bermanfaat.(*)

[Oleh : M. Nigara. Penulis adalah wartawan senior, mantan Wakil Sekjen PWI]

(*) Untuk membaca tulisan M. Nigara lainnya, silahkan KLIK DI SINI.


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com