ERICK THOHIR Ketua Timses Jokowi-Ma’ruf makin lama, makin sibuk dan makin lucu. Alhamdulillah.

Kalau lihat kesibukannya, sekarang dia bukan hanya jadi ketua timses, tapi juga menjadi cawapres ad-interim. Cawapres sementara menggantikan Ma’ruf Amin.

Erick Thohir Mulai Mengais Tong Sampah untuk Bahan Kampanye

Sebagai mantan pemilik klub bola Inter Milan, Erick kelihatannya juga mengambil peran sebagai stricker. Pemain penyerang. Pelatih yang terpaksa masuk ke lapangan sebagai pemain pengganti. Dia masuk ke lapangan menggantikan Ma’ruf Amin yang tengah cidera. Cidera fisik dan juga cidera hati dan perasaan.

Dari pada ribut terus menyalahkan Maruf, dia kelihatannya memilih mengalah. Melawan kiai bisa kualat. Yang lebih parah, pasti bakal bikin tambah marah dan kesel warga NU. Ini bisa bahaya.

Debut Erick sudah mulai terlihat Kamis 20 Des, ketika Jokowi berkunjung ke Makassar. Dia bturun ke Pasar Terong dan ngopi bareng bersama milenial. Kayak-kayaknya siy mau berperan menyaingi Sandi yang juga rajin ke pasar dan bertemu milenial.

Di Pasar Terong, Erick mengecek harga telur dan harga ayam. Cuma tidak ada pedagang yang mengenalnya. Beberapa timnya mencoba menjelaskan siapa dia. Banyak pedagang yang curiga melihat tampangnya. Dikira tauke yang mau borong dagangan, atau sekedar banding-bandingin harga. Gawat!

Setelah tengok kiri, tengok kanan, akhirnya balik kanan. Dia jujur ngaku tidak pernah turun ke pasar. Erick juga melemparkan tuduhan, jelang pilpres ini banyak yang turun ke pasar untuk pencitraan.

Siapa? Pastilah yang dimaksud Sandiaga Uno, sahabat masa kecilnya, juga partner bisnisnya. Gegara elektabilitas jagoannya terus turun, kelihatannya Erick mulai melanggar pantangan “Satu guru satu ilmu, jangan saling mengganggu.”

Demi kepentingan politik, dia juga melupakan prinsip _“a friend in need is a friend indeed.”_ Seorang teman sejati selalu ada ketika kita butuh bantuan. Tinggal kita tunggu bagaimana nanti sikap Erick kalau Sandi Insya Allah terpilih jadi capres.

Lucunya walaupun ngaku gak pernah ke pasar, Erick menyimpulkan harga-harga tetap stabil. Gaya Erick ini membuat kita ingat hikayat lama orang buta yang memegang ekor gajah. Dia langsung menyimpulkan gajah itu bentuknya bulat dan panjang. Diujungnya ada rumbainya. Hi…hi…hi….

“ Kalau ada yang melemparkan tuduhan harga naik. Itu bohong. Harga-harga stabil, ekonomi terus tumbuh,” tegasnya.

Malamnya Erick bertemu milienial. Acaranya ngopi bareng. Yang datang sepi. Beda banget dengan Sandi. Dalam setiap kunjungannya ke berbagai kota, para milenial dan pengusaha pemulu berjubel berebut bertemu Sandi. Bagi mereka Sandi adalah panutan.

Sebagai pemain pengganti Erick juga rajin melakukan _tackling_. Dia tahu pasti aman, tak bakal kena kartu merah, karena wasit pasti cincai dengannya.

Erick menyebut rakyat Indonesia jangan sampai memilih Prabowo seorang pemimpin yang terbukti gagal.Erick lupa, Prabowo belum pernah menjadi presiden. Dia dua kali kalah di Pilpres, tapi dia bukan pemimpin gagal.

Sepanjang karirnya sebagai perwira militer, dia komandan yang sukses dalam berbagai operasi tempur. Dia juga komandan yang sangat dicintai dan dihormati anak buahnya. Disegani kawan dan lawan. Yang benci dan menjelek-jelekkannya, mereka yang gak bisa bersaing dengannya.

Prabowo sukses memimpin operasi pembebasan sandera di Mapenduma, Papua. Prabowo juga sukses menjadikan Indonesia sebagai orang pertama di Asia Tenggara yang mendaki puncak gunung tertinggi di dunia, Mount Everest di Himalaya.

Bandingkan dengan Erick yang sempat membeli klub sepakbola ternama Inter Milan. Di bawah kepemilikannya Inter Milan tak pernah juara. Akhirnya Inter dijualnya ke pengusaha Cina. Itu baru namanya gagal. Erick juga pernah membeli klub sepak bola AS, DC United. Juga tidak ada kabar beritanya.

Di tingkat lokal, dia pernah memiliki saham di klub Persib, Bandung. Gebrakannya dengan membeli mantan pemain Chelsea Michael Essien. Pembelian itu dinilai gagal total. Hayo siapa sebenarnya pemimpin yang gagal.

Kalau mau fair, bolehlah Erick disebut sukses memimpin sebagai ketua panitia pelaksana Asian Games Jakarta 2018. Tapi itu kerja keroyokan. Erick tak lebih bertindak sebagai event organizer (EO).

Sekarang kalau mau taruhan, kita tunggu hasil Pilpres 2017. Apakah peran Erick sebagai pemain pengganti Ma’ruf, dan cawapres ad-interim berhasil? Jangan sampai dia diganti di tengah jalan seperti Mourinho yang baru didepak manajemen Munchester United.

Saya siy gak mau bertaruh seperti para penjudi bola. Haram, rezekinya gak berkah. Hidup juga bakal susah. Cukup sudah rakyat susah. Jangan lagi ditambah-tambah. Tabik Pak Erick.

[Oleh : Nasruddin Djoha, pemerhati masalah sosial dan politik]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com