SEBAGAI AHLI di bidang Sejarah Kawasan Dunia Islam ; Muslim Minoritas, Izinkan saya mengurai sekilas tentang muslim di wilayah Xinziang, RRC, paling Barat.

Dalam bahasa Cina, Xin (dibaca sin) artinya baru, sedangkan Ziang (dibaca Ciang) artinya wilayah. Xinziang artinya wilayah baru. Wilayah Xinziang bukan merupakan wilayah betul RRC. Wilayah ini mulai awal dikuasai Cina pada zaman Dinasti Han Timur (25-220 M).

Pembakaran Bendera Tauhid, dan Kebencian Terhadap Islam

Penghuni wilayah ini bukan suku Han/China, atau Manchu, tetapi merupakan suku-suku Turki seperti Uighur, Burut, dan suku/etnis Khazak yang rata-rata muslim. Pada zaman Dinasti Mongol di Cina dalam abad ke-13 M, Xinziang telah dikuasai bangsa Mongol.

Pada zaman Dinasti Yuan dan Ming, wilayah XInziang merupakan wilayah yang merdeka، dikuasai oleh keturunan Chagatai Khan anak Gengis Khan.Chagatai Khan adalah seorang muslim. Xinziang kemudian ditaklukkan, dikuasai dan dicaplok disatukan ke dalam Kekaisaran Cina pada masa Dinasti Manchu (Ching) semasa pemerintahan Chien Lung (1736-1795).

Wilayah ini dengan mudah dikuasai Dinasti Ching, karena di dalamnya terjadi pertentangan Mazhab yang sangat serius، peperangan karena Mazhab, antara ulama (Khoza) kumpulan Gunung Putih ( kalangan muda) & ulama/Khoza gunung hitam (kalangan tua)

Semenjak dikuasainya wilayah ini oleh China, di wilayah tersebut senantiasa terjadi pemberontakan yang dilatar belakangi agama/Islam dan nasionalisme.

Seluruh etnis yang mendiami wilayah Xinziang tidak merasa orang Han atau Manchu, tetapi merasa sebagai orang Turki yang beragama Islam.Pada tahun1763 dan 1767 telah terjadi pemberontakan menentang kuasa China/Dinasti Ching atau Manchu.

Dalam periode 1820-1827 M, terjadi pemberontakan terhadap Dinasti Ching dibawah pimpinan Jehangir, putra seorang ulama kharismatik, Syamsudin al-Turkistani. Jehangir pada waktu itu telah berhasil menguasai bagian Xinziang Selatan.Namun pemberontakan ini tidak lama, karena Jehangir tertangkap dan dihukum mati di Peking oleh Raja Tao Kwong.

Karena kekejaman tentara China/Ching yang banyak membunuh penduduk Muslim Xinziang dan juga memperkosa ribuan perempuan muslimah Xinziang serta merampas harta kekayaan meja, maka muncul lagi pemberontakan kaum muslim Xinziang dibawah pimpinan Yusuf Syamsudin (1828-1831 M) yang berhasil menguasai Kansu dan Shensi.

Keberhasilan ini berujung pada perundingan damai dan dikembalikannya hak-hak kaum muslim di Xinziang.

Ketika Komunisme menguasai Cina, yang merubah daratan Cina menjadi Republik Rakyat Cina, kaum muslim di Xinziang senantiasa mendapat perlakuan diskriminatif dan penindasan, karena itu muncul semangat nasionalisme di kalangan suku Burut, Uighur, dan Khazak menuntut kemerdekaan dari pemerintahan Komunis Cina.

Sampai hari ini gerakan perlawanan kaum muslimin Xinziang oleh etnis Uighur, Burut, dan Khazak terus berlangsung terhadap pemerintahan Komunis Cina.Telah banyak nyawa melayang, dan harta benda yang hilang.

RRC tetap mempertahankan wilayah ini, karena memang wilayah ini termasuk wilayah subur, kaya akan tambang uranium, minyak bumi, dan emas serta batu permata lainnya.

Menurut saya konflik di Xinziang tersebut tidak bisa hanya diselesaikan dengan aksi demonstrasi kaum muslim, tetapi harus adanya keterlibatan diplomasi dan jihad negara-negara yang penduduk muslimnya mayoritas, seperti Indonesia.

Di sini pemerintahan Indonesia diuji untuk memainkan perannya/diplomasi dalam menyelesaikan konflik antara Muslim Xinziang dan Pemerintah Komunis China.Jika tidak secepatnya diselesaikan, maka keadaan muslim di Xinziang terancam punah, atau semakin minoritas di tanahnya sendiri.

Billaahi fie sabilil Haq.

[Oleh : DR. Asep Achmad Hidayat, Wapres LT Syarikat Islam Indonesia]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com