PERTAMA KALI mendengar, dalam hati saya terkejut, lebih kepada perasaan senang bahwa kita memiliki presiden yang humanis. Bagaimana tidak, di tengah karut marut dunia perpolitikan tanah air yang disertai intrik, korupsi, sikut kanan kiri, dan berbagai tindakan kotor lainnya, presiden kita masih sanggup menjaga kewarasannya dengan membaca komik, Doraemon dan Shinchan, yang menurut beliau hadir dengan cerita yang lucu dan membuat tertawa.

Saya rasa video itu juga tidak mungkin editan, karena itu adalah video yang diliput langsung oleh TV Nasional. Wawancara yang dilakukan seorang reporter bersama presiden dan ibu negara.

Namun kebahagiaan saya hilang seketika.

Bak disambar gledek di siang bolong, saya terperangah mendengar jawaban Presiden Indonesia saat ini.

Sang reporter bertanya apakah presiden kita tercinta membaca buku politik selain membaca komik.

Nyata sudah. Sejak saat itu rasanya saya tidak mau lagi dipimpin oleh presiden yang hobi membaca komik saja. Apa pasal?

Presiden Indonesia tercinta itu menjawab bahwa beliau hanya membaca buku Bung Karno dan tidak membaca buku politik lainnya.

Jegeeeeeeeer!

Kalau Anda menyangka saya mengada-ada, silakan Anda cari videonya di Youtube dan Facebook. Masih ada di sana hingga saya menulis tentang ini.

Saya rasa beliau memahami risiko dari jawaban yang dilontarkannya kala itu. Maaf Bapak Presiden terhormat, tapi saya rasa saya tidak rela dipimpin oleh Presiden yang hobinya hanya membaca komik di waktu senggangnya.

Saya pun tidak bisa diam saja mengetahui keadaan demikian. Saya tidak mau masyarakat Indonesia berakhir menjadi masyarakat yang hobi bertengkar perihal politik lantaran hanya membaca judul dari sebuah laman media.

Atau bahkan membela Bapak mati-matian layaknya junjungan, tetapi Bapak seolah menjadi tidak layak untuk diperjuangkan.

Saya juga tidak bisa mempercayai negara yang besar ini dipimpin oleh pemimpin yang tidak membaca apa yang ditandatanganinya.

Gawat Pak!

Apa kata Bung Karno nanti? Apa kata Bung Hatta? Yang bahkan mampu membuat sebuah buku sebagai mahar pernikahannya? Apa kata Sjahrir? Apa kata para pendiri bangsa ini?

Saya percaya seorang pemimpin harusnya seorang pembaca.

Leader is reader.

Dengan membaca, seorang pemimpin yang baik akan mampu mengambil banyak pelajaran dan insight dari beragam hikmah yang terserak di dalam buku.

Apa jadinya kalau bangsa ini dipimpin oleh Presiden yang hanya membaca komik di waktu senggangnya?

Di lain liputan, saya melihat seorang reporter datang ke rumah Prabowo, lengkap dengan perpustakaan pribadinya. Sang reporter yang melihat berbagai buku tentang perang dan leadership di perpustakaannya pun bertanya tentang berbagai kriteria pemimpin yang cocok untuk Indonesia. Dengan lugas Prabowo menjawab bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki kapasitas, pemahaman (visi), mengerti arah tujuan dan bisa mengajak orang lain mencapai tujuan yang sama.

Saya bukanlah pendukung Prabowo, saya juga bukan pembenci Bapak Presiden yang terhormat. Namun jika tahun depan saya disodorkan pada dua orang sosok dengan kapasitas yang saya temukan lewat dua video sederhana yang sangat kontras di atas, rasanya saya tidak akan rela membiarkan bangsa ini kembali dipimpin oleh Presiden yang (hanya) gemar membaca komik Doraemon dan Shinchan saja.

Satu yang selalu saya ingat, sebuah teko hanya akan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. (*)


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com