USAMAH HISYAM, La Nyalla Matalitti, Kapitra Ampera, Ali Muchtar Ngabalin, Tuan Guru Bajang (TGB), Netta S Pane dan Yusril Ihza Mahendra adalah kisah para petualang politik, dan penunggang bebas. Mereka selalu ada pada setiap era.

Gak perlu bingung dan jangan tertipu. Kita asyik-asyik saja. Ikuti, awasi, dan cermati aksi mereka.

Usamah Hisyam Menuduh Prabowo Meninju Meja Hingga Lima Kali, Benarkah?



Kelasnya beda-beda. Ada yang main di kelas atas. Ada yang main di kelas teri dan kelas coro. Orang-orang ini wataknya mirip dengan syair lagu Iwan Fals berjudul Bento:

“Bisnisku menjagal, jagal apa saja.
yang penting aku senang, aku menang
Persetan orang susah, karena aku
Yang penting asik, sekali lagi, asik!”

Ciri utamanya adalah pragmatisme politik. Orientasi utama kepentingan pribadi. Mereka bisa sangat cepat ganti-ganti baju politik. Rela menggadaikan idealisme dan harga dirinya dengan tujuan rente ekonomi dan politik.

Kebanyakan mereka menggunakan baju sebagai pejuang Islam. Tempat ini paling nyaman untuk bersembunyi. Seiring perjalanan waktu, terpaksa membuka kedoknya. Orang-orang seperti mereka bukanlah figur yang tangguh dan teguh dalam prinisip. Mereka adalah bunglon, parasit perjuangan.

Coba perhatikan pola zig-zag poitiknya. TGB semula adalah politisi PBB. SBY berkuasa, dia pindah ke Demokrat. Jokowi berkuasa mulai cari celah. Bingung sebentar, pilih Golkar atau Nasdem. Instink penyelamatan diri, lebih baik pilih Nasdem. Instink politik dan kekuasaan, lebih pilih Golkar. Akhirnya Golkar yang dipilih.

Ngabalin memulai karir sebagai politisi PBB. Pada Pilpres 2014 menjadi anggota tim sukses Prabowo-Hatta. Dia menjadi orang yang paling keras mengecam Jokowi. Dia menyebut Jokowi tak pantas jadi presiden karena kurus kerempeng, kurang gizi.

PBB gagal masuk parlemen, Ngabalin nyeberang dan mencari perlindungan di pohon beringin. Setelah Golkar masuk di pemerintahan, dia diangkat menjadi staf di kantor Kepala Staf Presidenan. Bonusnya komisaris di Angkasa Pura. Sekarang dia rajin menggonggong dan menyalak keras setiap kali ada yang kritik Jokowi.

La Nyalla Mattalitti sebelumnya pernah di Gerindra. Dia juga tukang kritik Jokowi. Dia mengaku sebagai penyebar isu Jokowi Cina dan PKI. Dia juga mengaku menjadi pembuat tabloid Obor Rakyat. Dia minta maaf ke Jokowi sampai tiga kali.

Gagal jadi cagub Jatim dari Gerindra. Dia ngamuk-ngamuk. Kemudian nyeberang ke PBB. Sekarang bersama Yusril, Nyalla adalah faksi minoritas PBB yang mendukung Jokowi.

Usamah Hisyam, mantan wartawan ini gaya politiknya juga _zig-zag_ tak berpola. Pernah jadi pengurus dan anggota DPR dari PPP. Saat SBY berkuasa dia nyeberang ke Demokrat. Sekarang jadi Ketua Umum Parmusi.

Yusril Ihza seperti kita tau, dia Ketua Umum PBB yang gagal membawa partainya ke parlemen. Dia juga gagal menjadi cagub DKI pada Pilgub 2017, gagal nyapres dan sekarang jadi pendukung Jokowi.

Kapitra berhasil menyusup ke lingkaran Habib Rizieq Shihab (HRS) menjadi salah satu pengacara. Sekarang dia jadi caleg PDIP. _Aya-aya wae,_ pengacara HRS jadi caleg partai penista agama. Jelas kan? _nyaho_ kan? Paham kan?

Netta S Pane juga mantan wartawan. Tapi dia wartawan ecek-ecek di Harian Terbit. Sekarang dia bikin lembaga _Indonesia Police Watch._ Ini LSM abal yang mencoba mencari remah-remah di kepolisian. Rezekinya dari belas kasihan para jenderal polisi. Pura-pura menyerang, tapi kemudian cincai. Gaya lama wartawan amplop.

Semua gagal

Semua nama yang disebut di atas, sekarang menjadi pendukung Jokowi-Ma’ruf. Sebelumnya berpura-pura jadi penentangnya.

Mereka rajin menyerang Prabowo. Yang jadi sasaran utama, soal ke-Islamannya Prabowo. Nyalla menantang Prabowo jadi Imam salat. Yusril menyebut tak ada track record Prabowo-Sandi jadi pejuang Islam. Dikira latar belakang mereka di partai Islam, bisa jadi senjata ampuh men-down-grade Prabowo.

Di medsos beredar foto-foto Jokowi jadi imam shalat. Jadi kelihatan kan polanya, dan apa targetnya. Ini sebuah operasi terencana.

TGB, Yusril, La Nyalla, Ngabalin, rame-rame menyerang sesuatu yang mereka anggap sisi lemah Prabowo.

Semua serangan itu terpental. Orang lebih percaya kepada pengakuan jujur Prabowo. Dia memang perlu banyak belajar agama Islam dan tidak layak jadi imam. Gak perlu bergaya seperti Jokowi. Tapi dia lebih layak jadi Presiden dibanding Jokowi.

Prabowo mengakui keluarganya plural, banyak yang Nasrani. Itu menyebabkan dia sangat toleran. Tapi soal pembelaannya terhadap umat Islam, jangan ditanya. Semangatnya bukan diskriminatif, atau intoleran. Prabowo hanya ingin umat Islam yang mayoritas dihormati dan hak-haknya dihargai.

Prabowo begitu bukan karena dia mau jadi Presiden. Bukan untuk kampanye. Masih jadi perwira pertama berpangkat kapten, dia berani melawan Jenderal Benny Moerdani.

Prabowo menentang Benny karena sering melakukan operasi intelijen menyudutkan umat Islam. Perwira-perwira muslim juga didiskriminasi oleh Benny. Karirnya mentok.

Kalau Yusril tanya track record-nya, silakan tanya orang yang kenal Prabowo sejak muda. Tanya teman-temannya di kalangan militer. Tanya tokoh-tokoh tua di Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII). Dia seorang nasionalis yang sangat menghormati semua agama, dan para pemuka agama.

Sekarang tinggal Usamah dan Netta Pane yang rajin nyerang Prabowo. Usamah jualan Prabowo yang gebrak meja saat bertemu ulama. Netta mengembangkan isu Prabowo akan buat kerusuhan kalau kalah Pilpres.

Usamah kelihatan sekali di-back up boss besarnya Surya Paloh. Isu ini digoreng Metro TV. Dia diwawancarai khusus soal ini. Videonya diviralkan.

Dua orang ini juga aktif menghajar reuni 212. Pura-pura bersimpati pada polisi, Netta menyebut reuni hanya akan diikuti 20 ribu orang. Gak perlu serius dan dikerahkan polisi untuk menjaga. Usamah bilang reuni sudah melenceng dan bermuatan politis.

Serangan ini pasti akan kembali terpental. Kredibilitas Usamah dan Netta kalah jauh dibanding TGB dan Yusril. Kalau TGB dan Yusril saja serangannya terpental, apalagi cuma kelas Usamah dan Netta.

Serangan itu berbalik. Orang rame-rame menelanjangi mereka. Jejak masa lalunya dibongkar. Kalau boleh memberi nasehat, coba segera siap-siap buat sekoci. Jangan sampai nanti ketika kapal karam, gak sempat lompat.

Publik dan umat kali ini akan mencatat baik-baik siapa kalian. Di era digital, jejak seseorang gampang dicari. Tidak seperti dulu, kalian bisa nyaman bersembunyi. (*)

[Oleh : Djadjang Nurjaman. Penulis adalah pengamat media dan ruang publik]

(*) Untuk membaca tulisan Djadjang Nurjaman yang lainnya, silahkan KLIK DI SINI.


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com