IKATAN DAI Aceh ingin adakan tes baca Qur’an bagi capres. Gak maen-maen, tes tersebut akan mereka adakan di masjid Baiturahman di pusat kota Aceh.

Lagi males memeriksa keabsahan para da’i tersebut. Jikalau ingin pun, pasti baunya gak jauh dari keterlibatan ormas Islam terbesar sejagat maya, katanya itu.

Tempo hari anak Gus Dur berkata, “jangan jadikan agama sebagai politik. Jangan baper..”.

Menantang Jokowi-Maruf Menerapkan Hukum Qur’an

Keluarga Gus Dur gen-nya itu satu. Ketika Yenni Wahid sudah nyatakan mendukung Jokowi-MA, maka seluruh keluarga besarnya pun ikut dukung Jokowi-MA. Gak tau dengan suaminya, apakah masih paham arti kader atau dia ingin tampil beda dengan ikut perintah istri tercinta.

Ketika anak bungsu Gus Dur bicara agama dengan rambut cepak nya, maka kita harus angguk-angguk setuju bahwa agama tidak boleh dibawa dalam politik. Apakah dia menyasar kubu Prabowo yang di kenal mereka selalu memainkan isu agama?

Atau kubu kakaknya sendiri yang harus mengemis pada ulama Madura ketika Jokowi berkunjung ke sana namun ulama tidak mau datang. Yenni berkata membawa nama bapaknya dan memohon agar ulama bersedia datang dan hadiri acara deklarasi di Madura.

Kemarin mengulas perkataan pendukung Jokowi yang berasal dari etnis keturunan, Juliana Tan.

Dia kecewa ketika seorang MA menjadi cawapres Jokowi. Dia kecewa karena dalam bayangan dia, pihak Jokowi pasti memanfaatkan latar belakang MA yang seorang ulama. Pastinya, politik agama akan dibawa oleh mereka dalam mencari dukungan pada jokowi. Dan penilaian Juliana Tan itu benar adanya jika kita melihat cara mereka menjual nama Jokowi dan MA.

Mereka hanya punya jualan membangun infrastruktur, setelah itu…gak ada lagi yang mereka jual. Mau jual ekonomi bagus, buktinya pertumbuhan ekonomi malah tekor dari apa yang dicanangkan bahwa 5 tahun memimpin akan tumbuh 7%. Saat ini pertumbuhan ekonomi hanya kisaran 5%.

Setiap 1% pertumbuhan ekonomi, sejatinya bisa menampung minimal 500 ribu pekerja baru. Artinya, pengangguran bisa di turunkan sebanyak 500 ribu orang banyaknya.

Paham di mana kekurangan mereka, lalu di buatlah isu yang baru. Yaitu tentang AGAMA. Lawan segala bentuk framing kubu Prabowo dengan masalah agama.

Ketika sandi membawa isu ekonomi, maka mereka membawa isu radikalisasi pada masyarakat.

Ketika Prabowo membawa isu kedaulatan negara yang sudah terjual, maka mereka lawan dengan isu pemimpin harus pandai menjadi imam sholat dan membaca Alquran.

Hingga puncaknya, di daerah yang mereka benci karena menganut perda syariah…lahir lah petisi dari da’i yang inginkan adanya TES BACA ALQURAN.

Rada susah kalau kita gak menyibak siapa da’i ini. Apa keterlibatan mereka pada penguasa hingga mencari apa tujuan mereka dengan adanya tes tsb.

Calon yang saat ini bertempur adalah calon yang sama di tahun 2014. Dulu tidak ada permintaan mereka, namun saat ini mereka meminta. Jika mau mencari tau, saya kok percaya bahwa ini ada peranan dari ormas agama terbesar di jagat Maya.

Anggaplah Jokowi itu pandai mengaji dan menjadi imam sholat. Lalu, setelah itu apa…?

Jokowi sudah 5 tahun memimpin, apakah dia sudah melaksanakan cara memimpin seperti dalam ajaran Alquran?

Ketua Bidang Infokom MUI Masduki Baidlawi berkata, “BISA BACA QURAN TAPI TAK SEJAHTERAKAN RAKYAT, BUAT APA?”

Seorang pemimpin yang di nilai bukan kain sarungnya, atau jilbab istrinya ketika berkunjung ke suatu daerah. Karena masyarakat juga udah tau lah…mana jilbab yang di pake musiman, mana sarung yang di pake buat pencitraan doank.

Seorang pemimpin menurut ajaran Islam, adalah yang mampu menerapkan keadilan bagi rakyatnya. Apakah Jokowi setelah hampir 5 tahun memimpin saat ini sudah ADIL?

Lebih mementingkan pembangunan jalan tol dari pada membangun jalan lintas provinsi atau jalan daerah yang terisolir, apakah itu adil? Mau bukti berapa kali untuk memperlihatkan bahwa banyak daerah yang belum mampu membangun jalan karena dana dari pusat tidak sesuai dari apa yang mereka ajukan.

Hukum yang terjadi saja sudah jelas tidak berpihak pada golongan yang sudah jelas teraniaya. Laporan akan cepat di proses dr kubu sendiri dan akan lambat jika berasal dari kubu yang di anggap lawan. Apakah ini ADIL?

Orang kaya mendapatkan subsidi, sebaliknya orang miskin di cabut subsidi. Apakah ini juga ADIL?

Finalnya, terjadi kesenjangan sosial yang cukup lebar antara si kaya dan si miskin yang memperjelas bahwa ADIL itu tidak ada pada diri seorang pemimpin melalui kebijakan yang telah ia keluarkan.

APAKAH ITU HASIL DARI PEMIMPIN YANG BISA NGAJI DAN JADI IMAM?

Membanggakan Jokowi bisa baca Alquran dan menjadi imam sebagai tolak ukur pemimpin yang hebat bagi saya malah merendahkan ISLAM itu sendiri. Seolah-olah agama ini telah melahirkan pemimpin yang sesuai dengan kriteria agama Islam. Apa benar begitu…?

Jika hasil yang dia torehkan selama ini adalah buktinya, ya saya gak terima aja kalau agama saya melahirkan manusia yang sebenarnya malah bertolak belakang dengan ajaran Islam dalam memimpin tapi di anggap hebat.

Bukan agamanya yang salah, tapi para manusia yang memuja pemimpin model begini yang SALAH.

Tersenyum membanggakan kemampuan baca Alquran dan jadi imam, tapi bukti kepemimpinan malah bertolak belakang dengan ajaran Alquran…seperti seorang pelacur yang memakai jilbab ketika mengikuti pengajian di lokalisasi tempat ia berada.

Terlihat syar’i dan alim..setelah selesai acara pengajian, ia kembali memakai pakaian terbuka dan mangkal di depan rumah sambil pamerkan paha. Lupa tausyiah yang ia ikuti, lupa tentang bacaan ayat yang pernah ia bunyikan. Pernyataan syar’i dan kostum yang ia kenakan hanya untuk memperlihatkan bahwa ia paham agama. Namun perbuatan, tidak mencerminkan demikian.

Sangat gampang mencari kepantasan sosok Jokowi apakah layak memimpin 2 periode atau tidak. Cukup lihat kinerja yang ia lakukan, maka kita bisa menilai bahwa dirinya tidak layak lagi. Gak perlu juga menambahkan kemampuan baca Alquran dan jadi imam. Justru ketika ia membanggakan hal itu, maka ia telah memperburuk Islam itu sendiri.

Pandai baca Alquran dan menjadi imam, ternyata gak membuat dirinya meng-anulir kebijakan mencabut subsidi TDL dan BBM.

Kita mencari PRESIDEN, bukan mencari PELACUR AGAMA.

Camkan itu..!

[Oleh : Setiawan Budi, pemerhati sosial Media dan politik]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com