ENTAH APA yang melatarbelakangi ide lomba baca Qur’an untuk pasangan capres. Yang jelas, eksplisit kubu Jokowi – Ma’ruf (Joma’) merasa digdaya dalam hal baca Qur’an. Joma’ merasa diatas angin dalam ihwal membaca Qur’an.

Saya sendiri masih belum menemukan benang merah, antara membaca qur’an dengan kapasitas memimpin sebuah negara. Bahwa membaca Qur’an adalah sarat wajib kapasitas seorang muslim, karena dalam bacaan Sholat ada bacaan Qur’an, iya. Tapi standardisasi kepemimpinan, ini mesti diperdalam.

Test Ala Orang Panik (1)

Suasana pilpres saat ini memang terkesan aneh. Bukannya menawarkan janji atau kampanye politik, tapi kubu Joma’ sibuk tawarkan foto edisi teranyar. Dari foto bercengkrama dengan tol, selvie lagi sholat, kunjungan ke Kiyai, bahkan terakhir foto makan bersama Joma’ menjadi Amunisi andalan kampanye.

Sepertinya, TKN Joma’ benar-benar kehilangan ide. Alih-alih menyiapkan program memukau, TKN Joma’ justru sibuk cari angle photo untuk edisi terbaru. Selvie sholat dan bercengkrama dengan tol dianggap sudah basi. Mulailah mereka menggali anggle poto yang lebih futuristik.

Setelah itu, foto itu diedarkan para cebong dengan capture beragam. Seolah, dengan mengunggah foto kegiatan Joma’ sudah hebat tuh calon. Terus, netizen disuruh menafsirkan sendiri foto itu. Aneh kan ?

Sekarang begini saja, saya beri ide Joma’ agar menawarkan program yang substantif. Jadi bukan sekedar lomba baca Qur’an, tapi lomba menerapkan hukum Qur’an.

Kalau diawal langsung menerapkan hukum Qur’an secara kaffah pasti kerepotan. Oke, saya beri satu tantangan Hukum Quran, coba terapkan hukum haramnya riba’.

Capres Jokowi kan Kiyai, anggota Dewan Syariah Nasional. Pasti paham hukum haramnya riba. Coba terapkan hukum haramnya riba dengan menghilangkan seluruh bunga (interest) dalam sistem perbankan nasional. Dan tidak mencari pinjaman luar negeri atau asing berbasis riba.

Jadi jangan lecehkan bacaan Qur’an hanya untuk pencitraan politik, ajang lomba-lombaan, tapi hukumnya ditelantarkan. Saya tantang pasangan Joma’ untuk mengharamkan riba dalam transaksi perbankan nasional sekaligus tidak ngutang duit riba dari luar negeri.

Saya tidak meminta Jokowi tidak ngutang, itu sulit bahkan mustahil, Karena tabiat dasar Jokowi itu tukang ngutang. Sampe beli saham freeport saja pake duit ngutang.

Saya hanya tantang Jokowi : Silahkan ngutang, yang penting jangan utangan riba’. Carilah utangan yang halal, kalau benar mau menerapkan hukum Quran.

Klo tidak mau atau tidak mampu, maka wacana baca Qur’an itu hanya untuk sum’ah (sombong), ajang gagah-gagahan belaka. Tentu rakyat, tak ingin disuguhi parodi politik gagah gagahan. Tak mau solusi pencitraan. Karena penderitaan rakyat itu nyata, bukan sandiwara. [].

[Oleh : Nasrudin Joha. Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com