INI ADALAH hari terakhir dari tahun 2018, tidak elok bagi penulis jika beberapa ‘singa medsos’ telah menulis catatan akhir tahun sementara penulis ‘abai’ mengabadikan pikiran penulis pada layar empat persegi yang bersinar ini.

Tulisan ini, juga tanggapan lepas atas unggahan manis dari Dr. Syahganda Nainggolan dan Hersubeno Arif, yang penulis belum mengenalnya, dan penulis yakin mereka (Dr. Syahganda Nainggolan dan Hersubeno Arif) juga belum mengenal penulis.

Catatan Akhir Tahun : Orang-orang Merdeka



Penulis mengenal Dr. Syahganda Nainggolan, Hersubeno Arif, Asyary Usman, Tony Rosyid, Naniek S Deyang, Zeng Wie Jian, dkk, melalui tulisan-tulisan mereka yang beredar luas di medsos. Imam Ali Karomallhu Wajhah, meminta kita mengidentifikasi orang berdasarkan amal bukan nama besar.

Membaca tulisan-tulisan mereka, penulis merasa ‘betapa besar’ nama mereka, setidaknya untuk ukuran ‘orang merdeka’ (meminjam istilah dari Dr. Syahganda Nainggolan) yang berani bicara lantang, mengupas fakta apa adanya, mengkritik dan menelanjangi rezim zalim, disaat seluruh media mainstream ‘koor’ menjadi salon politik pencitraan penguasa.

Penulis melihat, sosok-sosok yang disebutkan tadi adalah ‘singa-singa medsos’. Penulis tidak tahu pasti, apakah mereka juga ‘singa didunia nyata’. Sebab, beberapa orang yang penulis kenal banyak yang ‘garang’ didunia maya, laksana singa-singa lapar, ternyata didunia nyata tak lebih dari seekor kucing yang cuma bisa ‘mengeong’.

Yang jelas, reputasi mereka tidak bisa dikesampingkan. Berani mengaum di dunia medsos, disaat penguasa memasang pasal pukat harimau melalui pasal 28 ayat (2) UU ITE, adalah tindakan yang sangat luar biasa. Karenanya, penulis berani mengambil kesimpulan bahwa Dr. Syahganda Nainggolan, Hersubeno Arif, Asyary Usman, Tony Rosyid, Naniek S Deyang, Zeng Wie Jian, dkk, adalah ‘singa-singa lapar’ baik didunia maya maupun didunia nyata.

Auman singa-singa medsos ini tidak berarti, jika netizen tidak mengabarkan dan memviralkannya di Jejaring sosial media. Karena itu, penulis tidak saja memuji dan angkat topi kepada ‘singa-singa medsos’ tetapi juga kepada netizen yang memiliki suasana kebathinan dan aspirasi yang sama dengan tulisan-tulisan yang mereka buat, dan berani ikut memviralkannya.

Kekuatan kontrol publik itu terletak pada ‘viralisasi’. Jika konten tulisan itu viral, maka penenggak hukum akan kesulitan ‘memproses hukum ujaran kritis medsos’ apalagi delik yang dikenakan juga akan sumir, mengingat konten artikel dengan dalih apapun tidak bisa ditarik kedalam proses pidana biasa. Ada ‘UU jurnalistik’ yang menjadi bunker dan kekebalan hukum bagi penulis artikel, dari jerat pidana pasal pukat harimau UU ITE yang ditebar rezim melalui antek dan para penenggak hukum.

Karena itu selain mendorong tulisan-tulisan mereka agar viral di sosial media sebagai kontrol aktif terhadap rezim, setelah media mainstream mengambil peran sebagai ‘salon kekuasaan’, perlu juga umat ini didorong untuk ‘beternak singa’ lebih banyak lagi.

Ditengah-tengah umat ini harus didorong untuk melahirkan banyak penulis kritis yang jarinya bergerak atas dorongan akidah, ideologi dan semangat membela umat, bukan bekerja menulis untuk yang membayar. Saat wartawan media mainstream telah terkooptasi olah kekuasaan, diperlukan lebih banyak lagi penulis lepas untuk mengkonter Framing opini yang diciptakan penguasa untuk mengkhianati rakyat.

Penulis menginsyafi, menulis itu bukan hal yang mudah, bukan usaha instant yang bisa dicapai hanya dalam beberapa menit laksana merebus Mie. Dia perlu pelatihan dan pengalaman spiritual yang panjang, agar tulisan yang tertuang ‘memiliki rasa’. Namun jika tidak didorong sejak sekarang, kapan lagi ?

Sekali lagi, penulis sampaikan salam hormat kepada ‘singa-singa’ medsos dan para netizen yang turut serta membaca dan memviralkan tulisan mereka. Tanpa mereka, publik kebingungan untuk mencari ‘second opinion’ terhadap fakta Framing yang disuguhkan media dan penguasa. Padahal, secara tabiat alamiah publik akan selalu condong mencari kebenaran hakiki.

Meskipun penulis harus akui, pada beberapa isu kami berbeda pandangan. Tetapi pada konteks zalimnya pemerintahan Jokowi, penulis kira kami koor dan memiliki perspektif yang sama. Bahwa rezim ini, rezim zalim, rezim Jokowi tidak layak untuk dipertahankan.

Kolong langit, 31 Desember 2018.

[Oleh : Nasrudin Joha. Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com