Hmmm… rupanya memang keluhan Gimin bukan omong kosong. Saya riset di mbah google, keluarlah bermacam-macam pemberitaan mengenai kekesalan asosiasi pelaut Indonesia kepada rezim Jokowi.

Mulai dari harapan, sampai realitas kepemimpinan Jokowi. Garis besarnya hanya satu yaitu kurangnya kesejahteraan. Ketika kesejahteraan tercapai, pasti keamanan akan mengikuti. Lihat saja, jangankan tsunami buoy yang rusak atau hilang, kapal tankerpun bisa hilang di Indonesia.

Padahal Jokowi berjanji untuk memperbaiki sistem pertahanan maritim melalui drone pada tahun 2014. Sebagai Negara kepulauan terbesar di seluruh dunia, sudah berapa banyak penduduk Indonesia menjadi korban akibat keganasan laut.



Bahkan sekarang ada humor satir yang sering diungkapkan, “jangankan lawan Tiongkok atau AS di Laut China Selatan, lawan laut kita sendiri saja Indonesia kalah.” Lihat saja betapa kotornya laut Indonesia. Sampai beberapa saat yang lalu ditemukan ikan Paus mati di Wakatobi karena terlalu banyak makan sampah.

Belum lagi ditambah dengan insiden perompakan baik yang diangkat media maupun tidak. Salah satunya yang terheboh ketika Abu Sayaf menyandera pelaut Indonesia.

Apakah Menko Kemaritiman Indonesia kurang gagah? Apakah KASAL TNI kurang cermat? Atau Kepala Bakamla kurang pinter? Atau apakah Menteri Kelautan kurang tegas? Nggak juga. Mereka adalah putra putri terbaik di Indonesia dan sangat ahli dibidangnya.

Tapi ketika rapornya masih merah, berarti yang harus dipertanyakan adalah bagaimana komitmen Presiden Jokowi terhadap janji untuk menciptakan Indonesia menjadi poros maritim dunia. Semua visi dan misi Jokowi sangat bagus untuk didengarkan, bahkan untuk dimimpikan.

Namun realitanya bertolak belakang. Bukan karena Indonesia tidak mampu mencapainya. Tapi karena pemerintah tidak serius mengucapkannya. Sehingga pada akhirnya kita teringat celoteh Rocky Gerung dimana fiksi mengundang fantasi, begitu pula visi misi Jokowi nanti tidak lebih dari sekedar fiksi. (*)

[Oleh : Frank Wawolangi. Penulis adalah pemerhati hubungan internasional]

(*) Untuk membaca tulisan Frank Wawolang yang lainnya, silahkan KLIK DI SINI.

Pages:Previous page 1 2 3


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com