ANIES BASWEDAN, sekali lagi jadi sorotan. Dijadikan target operasi karena dianggap bisa jadi magnet. Diawasi karena bisa menggembosi. Segera diperiksa seperti sudah jadi terdakwa. Tapi rakyat pasti tak akan tinggal diam melihat lagi kedzaliman.

Sebel dan keki, itu bahasa yang lumrah melihat fakta yang tak ramah. Tapi, kita jangan buru-buru nafsu. Kita lihat dengan cermat. Kedzaliman terhadap Anies kali ini, bukan tidak mungkin jadi jebakan.

M. Nigara, penulis artikel.

Tengok saja bagaimana pemerintah membela KPU dan Bawaslu. Kritikan oposisi justru dianggap upaya perlemahan pada lembaga yang seharusnya netral dan independen. Lho, kok begitu?

Lihatlah bagaimana sikap penguasa soal dugaan adanya pertemuan tertutup antara tujuh sekjen partai koalisi 01 KPU (mengingatkan kita pada kasus 2014, juga terjadi pertemuan komisioner KPU dengan anggota DPR dari PDIP di sebuah restoran, di daerah Kebon Sirih).

Barangkali Luhut Merasa Keangkuhannya Belum Sempurna

Jadi, jika rapat tertutup kali ini benar-benar ada, tentu kita tak kaget lagi. Lalu, ancaman Bawaslu pada Anies Baswedan, Gubernur DKI yang melakukan salam dua jari di acara terbatas partai Gerindra. Itu acara terbatas dan Anies jelas didukung oleh Gerindra saat maju menjdi DKI-1.

Alih-alih menjawab pertanyaan itu, penguasa justru menuding oposisi sedang mendegrasi KPU dan Bawaslu. Sama seperti cara KPU menghindari pertanyaan oposisi terkait batalnya debat visi-misi capres-cawapres langsung .

Bukannya memberi jawaban atas Undang-undang, eee malah berkelit bahwa debat visi-misi dibatalkan karena tidak ketemunya dua pihak. Menurut Dahnil Simanjujtak (juru bicara 02), KPU bukannya menentukan sikap, eee malah menerima sikap.

Pages: 1 2 3 4Next page


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com