SEKALI LAGI seorang sahabat membalas kiriman foto saya tentang kunjungan Prabowo ke ustadz Arifin Ilham dengan gambar Jokowi sedang berbisik dengan ustadz Atifin Ilham.

Tidak cukup sampai di situ, ia menambahkan keterangan: Gesturnya kayaknya lebih kuat yang di foto yang barusan saya kirim. Kayaknya Prabowo juga keduluan oleh Jokowi.

M. Nigara, penulis artikel.

Masih tulis sahabat saya yang nama dan identitasnya sengaja saya sembunyikan: Inilah tanda2 langsung dari Allah, bahwa Indonesia akan makmur dan menjadi lebih islami dipimpin oleh Jokowi.



Begitu menjenguk ustadz Arifin Ilham yang diberi cobaan sakit, sentuhan tangan Jokowi — atas kehendak Allah — langsung membuat ustadz Arifin bisa bangkit dan duduk dengan baik. Barakalllah pak Jokowi dan ustadz Arifin Ilham.

Matematika Politik Pilpres 2019 : Jokowi atau Prabowo

Saya langsung tertawa. Kok bisa ya? WA sahabat saya itu ada pendapat pribadinya ada juga mengutip dan menyimpulkan ‘gorengan’ (istilah yang ia sadap dari para pendukung 01). Sekali lagi saya tertawa. Sebegitunya kah?

Tanpa ia sadari, umat yang saat ini sudah berhadap-hadapan dengan petahana itu, tidak bisa lagi dibohongi. Tidak dengan gambar yang berbisik seolah-olah memperlihatkan kedekatan, lantas membuat pandangan umat goyah. Tidak seperti masa yang lalu. Itu pasti.

Apalagi dengan embel-embel ustadz Arifin bisa duduk dengan baik akibat disentuh Jokowi? Nauzubillah. Seolah-olah tangan sang capres 01 itu memiliki mukjizat, astaghfirullah.

Sekali lagi, umat yang ada di luar lingkaran 01, tidak bisa dipengaruhi apapun. Mereka sudah cerdas, sudah paham siapa yang menaikkan BBM 12 kali. Siapa yang membuat BPJS tak lagi bisa membayar puluhan rumah sakit karena uangnya dipakai membiayai infrastruktur. Umat juga paham, siapa yang membuat hutang kita (termasuk BUMN-BUMN) meroket bukan lagi menggunung

Jadi, jika dikirimi gambar itu, terus berharap petahana kebanjiran dukungan dari pendukung 02, rasanya terlalu naif. Terlalu merendahkan dan mendangkalkan soliditas pendukung 02 yang jelas-jelas murni bukan bayaran, bukan mendukung karena takut ancaman kasusnya dibuka (catatan, ada beberapa tokoh, agama lagi, memberikan dukungan karena sebelumnya ada kasusnya mencuat ke publik, kemudian lenyap).

Ya, kali ini Prabowo memperoleh dukungan sangat masif dan sangat militan ketimbang pilpres 2014. Bukti sederhananya, banyak komumitas, dimulai dari emak-emak justru memberi sumbangan bukan menerima bantuan dari Prabowo untuk bergerak. Beda dengan pendukung sebelah yang baru bergerak setelah disuntikan dana.

Apalagi jika kita ingat kasus kunjungan petahana ke Banten beberapa hari setelah kejadian tsunami yang menewaskan ratusan orang, menghancurkan ratusan bangunan dan kendaraan serta menimbulkan kerugian puluhan miliar rupiah.

Umat makin paham bahwa petahana lebih banyak show nya ketimbang kerjanya. Anies Baswedan saja yang secara struktural tidak bertanggung jawab, tapi hanya sehari setelah musibah, datang serta berkunjung dan menghibur para korban.

Lha, petahana yang datang setelah hari ke-4, tidak langsung menemui dan menghibur korban, tapi malah foto-foto di pantai. Foto tunggal, karena yang lain tidak boleh mendekat.

Umat masih ingat dan masih jelas merekam. Jadi, sekali lagi adegan foto dengan ustadz Arifin insyaa Allah tidak akan mempengaruhi apa-apa bagi umat di luar pendukungnya.

Sahabat saya yang satu ini memang sangat kritis. Jika kita tidak mengenalnya dengan baik, kita bisa salah sangka. Krtisasinya pada Prabowo bisa ditafsirkan bahwa sesungguhnya dia adalah pendukung petahana.

Tapi dia bersumpah tidak akan mendukung petahana. Hanya saja ia masih butuh pendalaman untuk meyakini bahwa Prabowolah yang kelak akan ia pilih. “Jadi, saya akan terus mengkritisi untuk memperoleh feedback positif,” katanya. (*)

[Oleh : M. Nigara. Penulis adalah wartawan senior, mantan Wakil Sekjen PWI]

(*) Untuk membaca tulisan M. Nigara lainnya, silahkan KLIK DI SINI.


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com