Oleh Igor Dirgantara

Jelang pembebasannya (24 Januari 2019), Ahok menulis di akun Instagram-nya meminta pendukungnya tidak lagi memanggilnya Ahok, tetapi BTP (Basuki Tjahja Purnama). Lebih jauh, Ahok mengatakan bahwa saat ini dia tengah belajar menguasai diri sendiri. Menurutnya, jika terpilih lagi sebagai Gubernur DKI Jakarta, dia akan semakin arogan dan kasar, dan semakin menyakiti hati banyak orang. Sekali lagi, Ahok kemudian memohon maaf kepada semua yang merasa pernah disakiti. Ahok menerima tuntutan terhadapnya, menghentikan semua upaya hukum untuk melawan kasusnya, dan menjalani penuh proses tahanan, bukan semata mengakui kesalahan, tetapi sebagai pesan komunikasi bahwa dia memang ingin mengakhiri masalah ini.



Sekarang Ahok sudah bebas dari penjara setelah 21 bulan mendekam di Rumah Tahanan Markas Komando Brigadir Mobil, Depok, sejak Mei 2017 karena kasus hukum (penistaan agama) di Kepulauan Seribu. Peristiwanya terjadi jelang Pilkada DKI Jakarta 2017, kala Ahok Gubernur DKI Jakarta. Ahok menjalani hukumannya setelah ditetapkan sebagai tersangka (16 November 2016). Kebebasan Ahok diikuti dengan banyak pendapat dan himbauan agar dia menjauh dulu dari aktivitas politik (terutama dari kubu petahana), padahal hak politiknya tidak pernah dicabut oleh pengadilan, layaknya seorang koruptor. Realita ini kemudian diikuti sebaran gambar pose 3 jari Ahok yang viral di berbagai media saat melakukan proses administrasi sebelum kebebasannya di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Menurut Twitter dari staf Ahok, pose BTP itu adalah ungkapan bukan nomor 1 atau 2, tapi 3, alias netral terhadap pilihan head to head capres-cawapres 2019. Kedua, buat pendukung NKRI, pose 3 jari Ahok dianggap sebagai simbol sila ketiga Pancasila, yaitu menjaga Persatuan Indonesia – dari ketegangan kompetisi politik 2019. Ketiga, untuk penggiat demokrasi pose 3 jari Ahok seperti ingin mengingatkan bahwa pencoblosan Pemilu 2019 tinggal tiga bulan lagi (jangan golput). Keempat, pose 3 jari itu dipandang oleh kubu oposisi merupakan tanda bahwa Ahok mulai tidak yakin dengan capres petahana Jokowi – yang dulu pernah bersama saat awal memimpin DKI Jakarta. Begitu juga sebaliknya. Kelima, bagi kubu PDIP hal itu bisa juga dikaitkan dengan angka 3 sebagai nomor urut PDIP di Pemilu 2019. Namun, semua partai politik pendukung Jokowi-Maruf Amin termasuk PDIP seperti ogah menerima Ahok sebagai kader jelang Pemilu 2019. Paradoks. Ada ketakutan dipersepsikan sebagai parpol ‘penadah’ penista agama. Bagi Sekjen PDIP, jika saat ini Ahok bergabung, maka tidak akan menambah elektabilitas PDIP. Apalagi saat ini cawapres petahana (Mahruf Amin) adalah tokoh ulama penting yang dulu berseberangan dengan Ahok saat terjadinya kasus Al-Maidah 51. Belum lagi di kubu petahana juga ada sosok seperti Ali Mochtar Ngabalin atau pengacara seperti Kapitra Ampera dan lain-lain yang nota bene aktif berpartisipasi dalam aksi 411 dan 212 yang keras melawan Ahok.

Menurut pengamat hukum dari Universitas Melbourne, Tim Lindsey,
figur Ahok sebenarnya sudah dianggap pendukungnya sebagai simbol pluralisme dan toleransi, tetapi Jokowi mengabaikan apa yang dilihatnya sebagai kekurangan dan menunjukkan betapa lemahnya pemerintahan Jokowi dalam membela keberagaman demi ambisi kekuasaan. Benar bahwa pembebasan Ahok terjadi di saat tingginya sensitivitas di tahun politik. Artinya, jika Ahok mendukung petahana diprediksi akan berdampak kemungkinan munculnya kembali penguatan terhadap isu politik identitas. Sekalipun terjadi polemik pembatalan, ada dugaan bahwa pembebasan Abu Bakar Ba’asyir bisa menangkal kemungkinan dampak negatif (kecemasan) dari pembebasan Ahok.

Begitulah, Ahok begitu dipuja oleh pendukungnya, bahkan dikagumi lawannya. Namun begitu juga dia dipermainkan oleh kekuasaan politik. Melawan musuh yang terang benderang masih jauh lebih baik ketimbang kawan yang berpura-pura dekat tetapi fatamorgana. Teman atau lawan, tergantung sikon dan kalkulasi politik. Benar jika Ahok mengatakan ingin belajar untuk menguasai dirinya sendiri vis a vis kekuasaan yang dipenuhi pencitraan. Ada kekecewaan terbersit dari wajahnya. Mungkin terhadap kekuasaan, atau mungkin juga terhadap mantan istrinya. Berusaha tegar dalam sepi yang tidak pernah mau ia ditunjukan. Sekarang Ahok memang bebas tetapi tanpa punya pilihan politik. Kecuali memang pilihan untuk bersama keluarga, dan wanita yang sekarang dia cintai dan ingin dinikahinya: Bripda Puput Nastiti Devi. Selamat menempuh hidup baru (lagi).

Igor Dirgantara adalah pengelola Survei & Polling Indonesia (SPIN)


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com