Oleh Nasruddin Djoha

Kita pasti sering dibuat geli-geli sebel kalau lihat tingkah paslon 01 termasuk para pendukungnya.

Sangat senang menyerang kubu sebelah dengan tudingan hoax, tapi mereka sendiri yang paling sering menebar hoax. Mulai dari paslonnya, sampai para buzzernya.

Senang sekali menuding kubu sebelah menggunakan isu agama, mereka sendiri yang paling bersemangat menggunakan dan mengeksploitasinya.

Mau bilang mereka maling teriak maling, kok kelihatannya terlalu kasar. Salah-salah kita diadukan sebagai penebar hoax. Paling apes dikasih penghargaan “hoax award,” seperti yang diberikan PSI kepada Prabowo, Sandi, dan Andi Arief. Jadi bagaimana dong?

Saat ini kita digemparkan oleh beredarnya tabloid Indonesia barokah yang dikirim ke masjid-masjid dan pesantren. Isinya memuji habis paslon 01 dan mendiskreditkan Prabowo-Sandi.

Kalau lihat isinya masuk kriteria hoax dan mengeksploitasi isu agama. Salah satunya soal tudingan Prabowo yang gak bisa salat. Jadi tabloid ini memenuhi dua kriteria sekaligus yang sering ditudingkan mereka ke kubu Prabowo: hoax dan isu agama.

Lho memang itu sudah jelas buatan kubu paslon 01? Bukti memang tidak ada. Tapi dari isinya, anak SD juga tau itu kerjaan siapa.

Biasanya kalau ada kasus beginian mereka akan cepat-cepat membalikkan tuduhan. Ini pasti buatan kubu Prabowo. Mereka sedang _playing victim,_ bermain sebagai korban. Supaya dikasihani. Supaya pemilih jatuh hati kepada Prabowo. “Dasar tukang hoax. Dasar tukang main isu agama.” Begitu mereka biasanya berteriak kencang.

Tuduhan begini sebenarnya sangat gampang dibalikkan. Seorang kepala kantor pos di Tulung Agung, Jatim menyebut biaya pengiriman tabloid itu sebesar Rp 1.4 miliar.

Itu baru biaya pengiriman lho. Belum biaya pembuatan, biaya cetak, biaya kantor dll. Pasti miliaran rupiah. Biasanya proyek-proyek politik seperti dananya juga tidak terkontrol dan angkanya sering digelembungkan.

Kalau dituduhkan ke Prabowo yang membiayai, pasti gak masuk akal. Boro-boro buat tabloid abal sampai milyaran. Biaya untuk alat peraga kampanye saja sering kesulitan. Mau jual aset untuk kampanye saja dipersulit. Calon pembelinya mundur teratur karena ditakut-takuti.

Kalau polisi mau serius mencari siapa tokoh di balik pembuatan tabloid Indonesia Barokah sebenarnya sangat mudah.

Biaya pengiriman sebesar Rp 1.4 milyar itu kemungkinan besar ditransfer melalui bank. Kalau bayar cash pasti menghitung uangnya di kasir sangat lama. Di kantor pos pasti juga ada CCTV.

Tinggal tangkap orangnya. Tanya siapa yang memerintahkannya. Gampang.

Sekarang kita tinggal berdoa. Mudah-mudahan pak Polisi mendapat hidayah dan diberi kekuatan untuk mengusut kasus ini. Bisa dipastikan tokoh yang bermain di baliknya, adalah tokoh besar. Tokoh yang punya duit. Tokoh yang punya kuasa. Tokoh yang berdiri dalam kegelapan sambil memainkan hoax dan isu agama.

Kalau kasusnya tidak diusut juga, kita tinggal berdoa. Lapor kepada Allah SWT yang jauh lebih berkuasa dibanding rezim yang kini tengah berkuasa. Biasanya doa orang yang didzalimi mustajab dan segera dikabulkan.

Tabloid Indonesia Barokah, tidak akan menjadi berkah. Baik yang membuat, mengedarkan, maupun yang memberi order. Duit dari setan, biasanya juga habis dimakan setan.

Nasruddin Djoha adalah pengamat sosial-politik.


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com