Oleh Iramawati Oemar

Rezim otoriter di mana pun di belahan bumi ini, di jaman apa pun sepanjang sejarah manusia, punya sifat dan karakter yang sama: TAKUT KEKUASAANNYA BERAKHIR.

Untuk melanggengkan kekuasaan, mereka punya rumus yang sama, meski rumus itu selalu gagal. Namun sayangnya, mereka selalu saja tidak mau belajar dari sejarah. Itu sebabnya sejarah selalu berulang.

Dari kisah Fir’aun VS Musa dalam kitab-kitab suci agama samawi, hingga kisah klasik Romawi kuno ala film Gladiator.

Rumus yang gagal itu adalah : “Bungkam setiap orang yang bersuara berbeda, yang berani bersikap kritis”. Para penguasa otoriter tidak paham, ini bukan rumus matematika 2+2=4 dan 2×2 tetap 4.

Mereka bisa saja memenjarakan raga para “pembangkang”, namun pikiran dan perasaan tidak bisa dipenjara. Sebab pikiran dan perasaan itu abstrak, bebas ruang, tak berdimensi.

Maka, ketika pemilik mulut-mulut yang bersuara lantang dijebloskan ke dalam bui, ketika pemilik pikiran yang tulisan-tulisannya tajam menusuk dipenjarakan, sesungguhnya saat itulah suara mereka kian menggema di luar jeruji besi bui, saat itulah pikiran mereka makin meluas dipahami banyak orang diluar dinding penjara.

Dan… Pada saatnya pikiran-pikiran itu akan menyatukan perasaan yang sama. Lalu mulut-mulut itu akan menyuarakan hal yang sama: nyanyian perlawanan, maju tak gentar!!

Hukum alam memang begitu. Cobalah sumpal dengan jari, dengan kain, atau dengan potongan kayu sekalipun, sebuah selang yang airnya sedang mengalir. Niscaya pada batas tertentu sumpal itu akan terlepas dengan sendirinya, tak mampu menahan laju debit air yang kian besar saat disumpal.

Per/pegas yang coba ditekan, menyimpan energi kinetik yang besar, suatu saat pegas ini akan meletup ke atas, mendobrak tekanannya. Itu sudah hukum alam, tapi hanya dipahami oleh orang-orang yang mau berpikir.

Dalam perspektif agama, segala sesuatu jika sudah melampaui batas, maka Allah, Tuhan semesta alam, akan turun tangan. Doa-doa dan harapan orang-orang yang teraniaya akan naik ke langit. Dan saat itulah pertolongan Allah datang.

Maka, jika penguasa sudah melampaui batas, bersabarlah…, karena insyaa Allah pertolongan Allah sudah dekat.

“Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki. di tangan Engkau lah segala kebajikan. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Ingat, diberi kekuasaan belum tentu dimuliakan. Sebaliknya dipenjarakan belum tentu dihinakan. Mulia atau tidaknya adalah dari hasilnya.

Apalah gunanya menggenggam kekuasaan jika membawa kerusakan, menyebabkan kesengsaraan, menimbulkan perpecahan, mengakibatkan kebangkrutan, menurunkan wibawa, harkat dan martabat.

Buya Hamka telah mencontohkan, hidupnya mulia ketika di dalam penjara penguasa yang mencoba membungkamnya. Dan Buya Hamka TIDAK PERNAH BERKOMPROMI DENGAN KEKUASAAN. Sebab KEMULIAAN bagi beliau tidak identik dengan kekuasaan.

Iramawati Oemar adalah pegiat media sosial.


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com