PETRUK dadi ratu. Itulah ungkapan yg tepat terhadap Jokowi. Mungkin secara pribadi Jokowi baik hati. Tapi untuk jadi presiden 270 juta jiwa dibutuhkan kualifikasi yang lebih lengkap daripada sekedar baik hati.

Kesalahan pertama, Jokowi tidak mampu mengendalikan elit parpol pengusung maupun parpol oposan. Sehingga secara politik dia tidak stabil.

Kesalahan kedua, Jokowi tidak mampu mengendalikan elit pengusaha dan pemodal. Banyak pemodal yg menginvestasikan pada kemenangan Jokowi. Investasi ini menjadi janji kampanye Jokowi setelah menjabat. Namun karena banyak proyek yg di dominasi bumn, sehingga banyak pengusaha tidak kebagian proyek, padahal sudah banyak menyumbang untuk kampanye Jokowi. Selain itu Jokowi gagal meyakinkan pengusaha karena kebijakan pajak yg menjerat leher, namun jaminan berusaha dilepas ke pasar. Pengusaha merasa Jokowi tidak memihak mereka.

Kesalahan ketiga, Jokowi tidak mampu mengendalikan birokrat. Jokowi berpikir. Kendalikan birokrat dapat dilakukan dari stick and carrot. Hadiah untuk yg berprestasi dan hukuman bagi yg melanggar. Dalam birokrasi Indonesia yg feodal di Indonesia, tidak dapat diaplikasikan seperti itu. Birokrat harus dirangkul dan diemong, diberikan contoh yg positif, diberikan sosok yg teladan. Pasti birokrat akan mengikuti.

Kesalahan keempat, Jokowi tidak mampu mengendalikan Ulama. Kesalahan Jokowi adalah terlalu banyak mengekspose dirinya sendiri. Sehingga ketika Jokowi melakukan kesalahan kecil atau ingkar janji, rakyat beralih ke ulama. Rakyat mulai religius dan menjaga jarak dengan Jokowi ketika Ahok terkena kasus Al Maidah. Jokowi lagi2 tidak tegas condong ke mana. Banyak ulama yang kecewa.

Kesalahan kelima, Jokowi tidak mampu mengendalikan TNI. TNI salah satu kekuatan penopang negara ini. Terutama angkatan darat. Jokowi tidak optimal memberikan kesejahteraan untuk TNI.

Kesalahan keenam. Jokowi tidak mampu mengendalikan investor asing dan kekuatan luar negeri. Contoh nyata kegagalan Jokowi adalah rupiah babak belur dan neraca perdagangan defisit parah. Belum lagi TKA asing yg marak mengambil pekerjaan WNI. Mungkin ini adalah kegagalan Jokowi yg paling telak.

Kesalahan ketujuh, Jokowi tidak mampu mengendalikan media. Sudah bukan rahasia lagi Jokowi banyak dipermak oleh media nasional. Tapi Jokowi meninggalkan media lokal dan media sosial. Banyak koran2 lokal masih objektif memberitakan kondisi lapangan era Jokowi yg hancur2an. Ketika disandingkan dengan media nasional yg bagus2 ttg Jokowi, berbeda jauh hasilnya. Akhirnya rakyat mulai mencari kebenaran ditempat lain, seperti media sosial atau media asing. Kondisi ini meruntuhkan legitimasi Jokowi sekaligus media mainstream.

Dan yang kedelapan adalah, Jokowi tidak mampu mengendalikan rakyat nya. Banyak kebijakan Jokowi tidak dituruti oleh rakyat Indonesia. Dimulai dari gagalnya tax amnesti mencapai target. Gagalnya pemerintah menangani hoax juga menjadi catatan. Karena pemerintah menerapkan standar ganda dalam penindakan hukum. Tindakan2 pembangkangan terhadap kebijakan Jokowi juga menjalar sampai ke pengusaha menengah. Ketika Jokowi memerintahkan untuk tidak melakukan monopoli beras, banyak beras yg ditimbun oleh mrk. Ketika Jokowi memerintahkan rs untuk terapkan Bpjs.banyak RS yang tidak mau ikut Bpjs. Bahkan ketika Jokowi mengajak untuk berternak kalajengking, tidak ada satupun rakyat baik pendukung jokowi atau prabowo mengikuti ajakan itu.

Maka daripada itu, menjadi logis mengapa Jokowi gagal dua periode.

[ Oleh : Frank Wawolangi, adalah wartawan senior indonesia ]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com