PERNYATAAN Jokowi tentang dia mengikuti Pilgub DKI tanpa biaya apapun pada debat capres 17 Januari 2019 yang lalu, ternyata mendapat reaksi dari berbagai kalangan, bukan saja kubu capres 02 yang bereaksi, namun Teuku Umar pun merasa gerah dan malu seperti mendapat tamparan dari petugas partai yang bernama Jokowi sehingga pertentangan terjadi di kubu capres 01 dalam hal ini PDIP, karena mereka merasa dipermalukan di depan Hashim Djojohadikusumo dan Prabowo Subianto.

Terlepas dari perbedaan pandangan politik dan dukungan capres, Teuku Umar merasa sebagai petugas partai seharusnya Jokowi tidak mengeluarkan pernyataan yang kontroversial dan mengundang polemik.

Menurut sumber yang dapat dipercaya di Teuku Umar, ibu suri sangat malu dan terpukul atas pernyataan Jokowi tersebut, karena bagaimanapun ibu suri masih menghargai budi baik dan jasa-jasa Prabowo Subianto maupun adiknya Hashim Djojohadikusumo.

Dan Teuku Umar merasa pernyataan Jokowi tersebut sebagai blunder politik bagi PDIP.

Seperti diketahui bahwa sejarah berkiprahnya Jokowi di pentas politik nasional diawali dengan kerjasama partai pengusung Jokowi-Ahok pada Pilgub DKI 2012 yang lalu adalah Gerindra dan PDIP.

Bahwa pada awalnya ibu suri menolak mengusung Jokowi, karena belum mengenal betul siapa Jokowi, namun karena Prabowo Subianto sudah dikenal baik oleh ibu suri dan Prabowo Subianto sanggup menanggung biaya politik, dukungan operasional politik dengan segala konsekuensi biayanya maka ibu suri (megawati) “luluh” dan menyetujui permintaan Prabowo Subianto agar Ibu Suri dan PDIP bersama Gerindra mendukung Jokowi-Ahok sebagai Cagub-Cawagub DKI pada saat itu.

Konsekuensi logis dari permintaan tersebut maka pada mulanya segala pembiayaan dirumuskan ditanggung bersama 50:50, namun dalam perjalanan waktu, segala pembiayaan dibebankan pada Prabowo Subianto, dan diambil alih dalam hal ini oleh adik Prabowo Subianto yang bernama Hashim Djojohadikusumo sebesar 90% dari total pembiayaan Pilkada DKI tersebut yang mencakup dana operasional, atribut APK dan baju kotak2, kaos, dan lain sebagainya, sedangkan untuk dana saksi diharapkan ditanggung bersama secara gotong royong.

Berangkat dari kesepahaman tersebut maka Jokowi-Ahok melenggang menuju kursi DKI-1 dan DKI-2. Tanpa Jokowi-Ahok mengeluarkan biaya politik dari kantong pribadi mereka.

Sebelumnya pada saat-saat negoisasi untuk menjadikan Jokowi-Ahok di DKI, setiap minggu Jokowi dan Ahok secara bergantian datang menemui Hashim Djojohadikusumo membicarakan hal-hal berkenaan dengan pembiayaan mereka untuk maju menjadi cagub dan cawagub DKI, dan keduanya mengeluh menyatakan pada Hashim bahwa mereka tidak punya dukungan apa-apa baik dukungan politik maupun pembiayaan dari manapun, sehingga Hashim Djojohadikusumo mengambil alih segala pembiayaan Pilkada DKI yang menyangkut Jokowi-Ahok sebagai calon melawan incumbent Foke yang didukung berbagai parpol dan pengusaha-pengusaha papan atas.

Berangkat dari komitmen Hashim Djojohadikusumo tersebut yang sebelumnya juga tidak mengenal betul siapa itu Jokowi maupun Ahok dan khusus untuk Jokowi, Hashim Djojohadikusumo baru kenal karena diperkenalkan oleh Nicholay Aprilindo seorang aktivis pada tahun 2008.

Secara singkat sejarahnya yaitu Jokowi minta kepada Nicholay untuk berkenalan dengan Hashim Djojohadikusumo, dan tepatnya pada bulan November 2008, Hashim Djojohadikusumo dibawa ke rumah jabatan Jokowi sebagai Walikota Solo di Lodji Gandrung Solo oleh Nicholay dan diperkenalkan pada Jokowi, dari pertemuan perkenalan itu Jokowi menjual program kerakyatannya yaitu memindahkan pedagang pasar secara manusiawi tanpa kekerasan tanpa satpol PP, namun dilakukan dengan negosiasi, makan bersama puluhan kali, sampai pada pemindahan pedagang pasar memakai kirab kereta kencana dan tumpengan, selain itu Jokowi juga menjual kecintaannya untuk merawat bangunan-bangunan bersejarah.

Oleh karena Hashim Djojohadikusumo sangat tertarik dengan program kerakyatan tersebut dan oleh karena Jokowi mempromosikan dirinya sebagai walikota terbaik sedunia dan mendapat penghargaan walikota terbaik sedunia, maka dari hal itulah Hashim tertarik dengan program-program pro rakyat dari Jokowi selama 2 periode menjadi Walikota Solo.

Dari awal muasal pertemuan pada bulan November 2008 tersebut, Hashim Djojohadikusumo menjadi tertarik untuk menjadikan Jokowi menjadi Gubernur Jawa Tengah pada awalnya, namun dalam perjalanan waktu atas kesepakatan negosiasi Hashim dengan Prabowo, maka Jokowi dibawa ke Jakarta untuk menjadi Gubernur DKI untuk bertarung melawan Foke pada Pilkada DKI 2012.

Dari komitmen serta jasa dan budi baik kakak beradik Prabowo Subianto dan Hashim Djojohadikusumo tersebut membuat Teuku Umar luluh dan mau mendukung serta mau mengusung Jokowi sebagai Gubernur DKI.

Adapun dalam perjalanan waktu segala pembiayaan politik untuk Pilkada DKI dibebankan pada Hashim Djojohadikusumo dan Prabowo Subianto, karena Hashim yang memperkenalkan dan membawa Jokowi, sedangkan Prabowo yang membawa dan memperkenalkan ahok.

Berdasarkan pada fakta dan bukti tersebut, tentunya Ibu Suri (Megawati Soekarnoputri) sebagai pemilik PDIP yang juga adalah seorang ibu dan mempunyai hati ibu, merasa marah dan malu ketika petugas partainya yang bernama Jokowi menyangkali jasa dan budi baik Prabowo-Hashim pada saat debat Capres 17 Januari 2019 yang lalu.

Akibat dari pernyataan Jokowi tersebut mau tidak mau untuk menutup rasa malu tersebut maka petugas partai lainnya yaitu Sekjen PDIP harus mengklarifikasi dengan malu-malu mengakui bahwa betul Jokowi menggunakan dana Pilgub DKI dari Hashim Djojohadikusumo tapi dipoles dengan pernyataan “dana gotong royong”, karena sebagai partai pengusung Jokowi-Ahok sebagai Gubernur dan Wagub DKI adalah Gerindra dan PDIP.

Inilah hikmah pelajaran yang dapat diambil oleh para politisi agar dalam berpolitik harus ada etika dan budi pekerti yang mengakui jasa orang lain.

[ Oleh : Nicholay Aprilindo, adalah PenulisPemerhati Polhukam LPSPH2K ]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com