ALLAHU AKBAR! Allah Maha Besar. Terima kasih ya Allah Engkau berikan Prabowo-Sandi untuk negeri ini. Terima kasih ya Rabbi, Engkau dengarkan doa kami. Ratusan ribu rakyat yang datang ke PPK-GBK, untuk menyambut kehadiran Prabowo-Sandi. Ratusan ribu umat dari berbagai golongan dan agama bersemangat menjemput perubahan.

Dahsyat. Hati saya bergetar, sepanjang pengetahuan saya, inilah kampanye terbesar. Bahkan dibanding kampanye 2009, saat SBY running untuk kedua kalinya, kini massa yang memenuhi komplek keolahragaan saya perkirakan 4-5 kalinya. Padahal waktu itu, SBY sedang memimpin dan sangat digandrungi rakyat (dibuktikan dengan tingkat kemenangan yang mencapai 60,80%).

Kebetulan saat itu saya masih bertugas di PPK-GBK. Semua kandidat gagal memenuhi stadion utama. Waktu itu kursi di stadion masih menggunakan kursi panjang bukan single sitter seperti sekarang. Jadi kepadatan bisa disamarkan. Tapi, dulu, jangankan di tribun atas, tribun bawah saja tidak seluruhnya terisi.

Semua capres yang menggunakan stadion, pasti memakai panggung. Di samping untuk berpidato, juga untuk hiburan. Sekali lagi, lapangan yang totalnya seluas di atas 42 ribu meter persegi, hanya di depan panggung saja yang terisi.

Tapi, Ahad (7/4/2019) pagi, tepatnya sejak dini hari, massa yang datang demikian dahsyat. Di bagian dalam, seluruh tribun dan selasar, dipadati umat. Kursi tribun sebanyak 73 ribu, semuanya terisi. Lapangan yang luasnya di atas 42 ribu meter persegi, jika asumsinya satu orang memerlukan space satu meter, maka diperkirakan masa yang duduk di bawah sebanyak 40-42 ribu orang. Lalu yang ada di selasar 4 lantai, bisa mencapai 20 ribuan, maka perkiraan 150 ribu.

Namun jumlah ini belum termasuk yang ada di ring road dalam. Tepat jam 07.00 Prabowo dengan jep terbuka berkeliling ring road untuk menyapa para pendukungnya. Pak Amien Rais, Mayjen TNI (purn) Musa Bangun, Drajat Wibowo, Ustadz Sambo, dan saya berada di jep ketiga dari empat mobil yang berkeliling, dua mobil lainnya terdepan dan paling belakang adalah fotografer. Jarak lingkar 1,7 km harus ditempuh hampir satu jam. Ini menunjukkan jumlah massa yang begitu padat. Luar biasa. Diperkirakan sekitar 300 ribu masa memadati ringroad.

Hebatnya, kawasan jalan masuk dari lingkar luar jalan Asia Afrika (barat), jl. Pintu Satu (selatan), Parkir Timur (Timur), dan jl. Gerbang Pemuda (Utara) masih dipadati pendukung yang akan masuk. Jadi, jika ditotal semua, perkiraan massa yang tumplek di PPK-GBK bisa mencapai 1 juta orang.

Gambaran lain, area parkir mobil di bagian dalam sudah tidak mampu menampung hingga Pak Amien pun harus berjalan kaki dari Asia-Afrika ke dalam stadion. Sepanjang jl. Asia Afrika hingga ke Moestopo di jl. Hangtuah dipadati parkir. Gerbang Pemuda hingga Slipi juga disesaki oleh kendaran yang berbaris untuk parkir.

Saya ikut sakit

Dalam pidato politiknya lebih dari 40 menit, Prabowo mengajak semua pendukungnya untuk tidak takut. Kita bersana-sama menjemput perubahan. “Kita bersama-sama berjuang dan berjuang bersama-sama. Mimpi saya sama dengan mimpi rakyat Indonesia!” tukasnya yang disambut pekik, sorak, dan takbir.

“Kalau kalian sakit, saya juga akan merasakan sakit. Pak Amien (Amien Rais) pasti juga merasakan sakit!” katanya lagi yang langsung disambut dengan pekik dahsyat seperti hendak meruntuhkan bangunan gedung yang dibangun 60 tahun lalu itu.

Nada yang sama juga disampaikan Imam Besar Habieb Riziek Shihab dari kota Makkah Almukaromah. HRS secara tegas mengatakan bahwa Prabowo-Sandi adalah pilihan ulama. “Prabowo adalah hasil ijtima ulama, kita wajib memenangkannya!” begitu menggelora suara sang pejuang yang sudah dua tahun mengungsi di tanah suci. HRS terpaksa mengambil langkah pindah sementara ke Makkah bukan karena kasus hukum (fitnah tentang chating tak sepantasnya), tapi ancaman nyata pada diri dan kekuarganya. Ingat, ada bom mobil di Cawang saat HRS sedang tablik akbar. Ada juga penembakan di rumahnya di Mega Mendung.

Acara diawali dengan shalat Subuh berjamaah yang diikuti tidak kurang dari 150 ribu orang. Diimami oleh KH. Sobri Lubis salah satu pimpinan FPI dan PA 212. Banyak ulama yang kemudian secara bergantian memimpin dzikir dan doa termasuk ustadz Al-Khathath.

Sekali lagi ya Allah, kami berterima kasih pada-Mu karena telah memberikan Prabowo untuk Indonesia. Terima kasih ya Allah, Engkau beri kami kemudahan, dan Engkau lindungi kami dari kedzaliman dan kemunkaraan.
Aamiin…

[ Oleh : M. Nigara, adalah Wartawan Senior Mantan Wasekjen PWI ]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com