DEMI Allah, saya tidak pernah takut dengan kecurangan. Rakyat telah membangun benteng-benteng yang kokoh melaui doa. Dan, berjuta kali doa yang tulus untuk perubahan Indonesia dikumandangkan. Saya haqqul yakin bahwa Allah SWT telah mendengar doa-doa mayoritas rakyat Indonesia.

Meski demikian, saya tetap terkejut juga dengan skandal besar surat suara yang telah dicoblos di Malaysia. Jumlahnya sangat signifikan, ratusan ribu. Jujur, kok segitu gilanya mereka melakukan hal itu.

Kecurangan yang selama ini ditakutkan adalah mengubah hasil melalui tekhnologi elektronik. Artinya, kecurangan berlevel tinggi. Tapi apa yang terjadi di Malaysia, kecurangan konfensional. Kecurangan berlevel primitif.

Saya jadi teringat obrolan saya dengan DR. Margarito Kamis, akhli Tatanegara, pekan lalu melalui telpon. “Bang, hati-hati, kecurangan bukan hanya bisa terjadi pada level tinggi, tapi juga bisa terjadi pada level sangat konvensional,” katanya.

Margarito lalu menuturkan kisahnya berdasarkan pembicaraan dia dengan kawan-kawannya di Ternate. “Mereka bilang kecurangan bisa terjadi saat pembacaan kertas suara. Gambar yang tercoblos siapa dan yang diumumkan siapa,” katanya lagi. “Saksi-saksi tidak bisa berbuat apa pun kecuali mengiyakan, ” tuturnya. “Intimidasi, ancaman, dan sogokan, bisa menjadi penyebabnya,” lanjut nara sumber langganan ILC itu.

Masih kata Margarito, kalau 10 hasil saja yang diselewengkan di setiap TPS, maka dari 800 ribu TPS akan terhimpun 8 juta suara tambahan hasil kecurangan. Kecurangan model begini harus di antisipasi. “Terus terang orang hanya konsentrasi pada level tinggi, padahal yang model begini sangat mudah dan terhindar dari perhatian!” tegas Margarito yang menyatakan tidak keberatan obrolannya itu saya jadikan bahan tulisan.

Gila

Awalnya apa yang dikisahkan sahabat saya itu, saya anggap kurang tepat. Jujur, hati saya berkata: “Masak sih segila itu?”

Tapi, begitu kasus skandal di Malaysia itu muncul, saya jadi yakin bahwa apa yang dikisahkan sahabat saya itu bukan sesuatu yang mustahil. Artinya, kecurangan dilakukan di semua level dengan cara apa saja.

Khusus di Malaysia itu, saya jadi teringat obrolan santai di sebuah restoran, di Kuala Lumpur. Suatu malam, di bulan Agustus 2017. Saya diundang oleh chief demission kontingen SEAG Indonesia, Azis Syamsuddin, untuk makan malam dengan Dubes RI, untuk Malaysia.

Sambil makan, terjadi obrolan penuh canda. Sang Duta Besar berseloroh: “Kalo Jokowi menang lagi, dan saya yakin pasti menang, maka saya akan jadi Menlu,” katanya sambil tertawa. Untuk itu, ia mengaku akan melakukan kerja optimal agar masyarakat Indonesia yang ada di Malaysia mayoritas memilih Jokowi kembali.

Saya tidak ingin mengaitkan obrolan itu dengan skandal memalukan itu, tapi persepsi anda tak mungkin saya batasi. Yang sulit dihindari oleh sang dubes, dari surat suara yang tercoblos itu, catatan: jumlahnya belum pasti, ada yang menyebut puluhan bahkan ada pula yang menyebut ratusan ribu, paslon 01 sudah tercoblos dan calegnya putra dubes itu sendiri dari partai Nasdem.

Belum selesai keterkejutan saya tentang kegilaan itu, muncul lagi kegilaan lain. Di berbagai medsos, bahkan di youtube kubu 02 dianggap yang sengaja melakukan hal itu untuk menutupi hasil perhitungan lembaga survey. “Supaya mereka tidak malu kalau kalah, maka dibuatlah sandiwara itu!” tukas seseorang yang terdengar suaranya saja di youtube.

Sungguh, kegilaan demi kegilaan ini semakin lama menjadi semakin menggema. Sungguh satu langkah fitnah yang keji. Kubu 02 sendiri tidak langsung menyebut skandal di Malaysia adalah pasti dibuat oleh TKN. Namun bahwa itu adalah menguntungkan kubu 01, itu adalah fakta.

Selain kekuatan rakyat yang selama ini sudah terbangun, maka skandal di Malaysia semakin menambah besar kekuatan itu. Apalagi, Kamis (11/4/2019) malam di tvone terjadi dialog indah Prabowo-Ustadz Abdul Somad.

UAS secara tegas menyatakan dukungannya pada Prabowo. Langkahnya itu bukan asal-asalan atau ikut-ikutan, tapi dari hasil berbagai jalan keagamaan. Ia juga dibisiki oleh para ulama yang tidak ada dalam ingar-bingar berita. “Hatinya bersih,” kata UAS.

Ya, Allah tidak akan tertipu oleh siapa pun. Kita boleh sama melakukan shalat, berdoa, dan apa pun. Allah tahu mana yang tulus dan mana yang fulus. Allah tahu mana yang sungguh-sungguh dan mana yang berpura-pura. Mana air mata mengiba, mana air mata buaya!

Insyaa Allah Prabowo Presiden!

[ Oleh : M. Nigara, adalah Wartawan Senior Mantan Wasekjen PWI ]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com