PARA pemilih itu jenisnya ada tiga macam. Yang pertama, pemilih fanatik.

Kelompok ini tidak peduli apa yang dilakukan oleh jagoannya. Pokoknya semuanya baik. Kalau ada yang mengkritik mereka siap ganti menghardik.

Inilah kelompok yang oleh warga net dikatakan begini.

“Ada dua kelompok yang tidak bisa dikasih nasehat. Orang yang sedang jatuh cinta dan pendukung capres. Karena cinta buta sehingga tak peduli omongan orang.”

Golongan ini di barisan Prabowo banyak. Sedangkan di kubu Jokowi jauh lebih banyak.

Golongan ini tidak perlu dikasih kampanye. Bahkan tidak perlu ada debat Capres maupun Cawapres. Mau debat seratus kali juga tidak akan ada pengaruhnya sama sekali. Penjelasan visi misi juga tidak penting. Apalagi uraian program kerja.

Kelompok kedua, pemilih rasional.

Mereka memilih Prabowo atau Jokowi yang memakai penalaran. Akal sehat digunakan. Pertimbangan untung rugi diteliti dan dikaji. Bukan hanya untung buat dirinya sendiri tetapi untuk rakyat Indonesia.

Salah satu orang dari kelompok ini adalah Dahlan Iskan. Mantan Direktur Utama PLN. Juga menteri BUMN di era SBY.

Lima tahun lalu ia mendeklarasikan menjadi pendukung Jokowi. Bahkan acara dukungannya saat itu dilakukan secara kolosal di Sentul.

Yang hadir banyak. Dari berbagai kalangan. Karena dirinya memang tokoh serba bisa dan serba ada. Pengusaha, wartawan, mantan pejabat bahkan ia pemenang convensi presiden partai Demokat. Saat itu.

Dahlan mendukung Jokowi karena berharap mantan pengusaha mebel itu dapat memperbaiki ekonomi Indonesia. Mengerek pertumbuhan ekonomi hingga tujuh persen dan dapat mensejahterakan rakyat.

Nawa cita yang disodorkan Jokowi telah memantabkan Dahlan menjadi Jokower. Tapi tidak radikal.

Kali ini pilihan Dahlan berubah. Ia melabuhkan dukungannya kepada Prabowo. Itu yang terjadi di Surabya beberapa hari lalu. Alasannya rasional bukan idioligis.

Jokowi gagal menaikkan pendapatan perkapita rakyat Indonesia yang menurut perhitungannya bisa menjadi 7.000 dolar pada tahun ini. Bukannya naik, malah turun jadi 4.500 dolar. Padahal, lima tahun lalu sudah 5.000 dolar. Itu saja.

Sebagai pengusaha dan mantan menteri BUMN, Dahlan tahu betul bagaimana kinerja ekonomi itu dapat dipacu. Kesempatan lima tahun memimpin Indonesia ternyata tidak mampu mendongkrak ekonomi. Maka ia menggantungkan harapannya kepada sosok lain, Prabowo.

Jokowi sebenarnya sangat diuntungakan dengan Dahlan. Lewat opini yang setiap hari ia tulis di Disway. Selama satu tahun belakangan, mantan wartawan itu keliling dunia. Dan wilayah yang paling banyak dikunjungi adalah China. Hampir semua kota penting negara tirai bambu itu telah ia kunjungi.

Bukan hanya menjadi turis biasa. Dahlan selalu membuat tulisan yang mencerahkan dan memukau.

Bahkan boleh dikatakan ia termasuk China Maniak. Tulisannya tentang China selalu memuji kebaikan negara komunis itu. Pertumbuhan ekonominya, sistem politiknya yang efektif, alamnya yang menakjubkan, kemajuan teknologi yang luar biasa bahkan juga tentang wanita-wanita China yang cantik.

Saya sebenarnya agak gimana gitu, saat membaca tulisan Dahlan tentang China. Tetapi itu ternyata wajar. Sebab umur Dahlan dapat diperpanjang karena kehebatan dokter China. Yang telah berhasil mengganti hatinya dengan hati seorang remaja dari China.

Ia sukses transplantasi hati. Di salah satu rumah sakit di China. Tentu juga karena memang Allah belum menghendaki Dahlan sowan ke haribaan Nya.

Pada saat yang sama, kebijakan Jokowi juga pro China. Tenaga kerja China dibiarkan membanjiri negeri ini. Perusahaan China dipersilahkan membangun infrasruktur penting. Bahkan utang negara diperbanyak juga dari China.

Dengan penuh kesadaran Jokowi bergabung dengan proyek raksasa China, yaitu One Belt One Root (OBOR). Jalan sutera baru yang memfasilitasi banjirnya uang dari negerinya Xi Jing Ping itu.

Klop sebenarnya antara Jokowi dan Dahlan. Sama-sama suka dengan China. Tetapi akal sehat akhirnya tetap berbicara. Maka Dahlan keluar dari barisan Jokower dan memilih Prabowo. Pada pemilu ini.

Dahlan itu bak masinis. Gerbonganya panjang. Bahkan panjang sekali. Ada yang Dahlan maniak yang terkenal dengan Dahlanis, ada juga rombongan rasional seperti sang tokoh. Maka gerbong akal sehat akan migrasi, mengikuti lokomotifnya.

Terakahir golongan pemilih ketiga, adalah orang-orang pragmatis. Tidak peduli dengan akal sehat. Juga tak mengangap penting idiologi. Mereka lebih menyukai dirinya sendiri. Yang penting saya dapat sesuatu dari perhelatan akbar ini. Tak peduli siapa yang menang.

Golongan ini juga banyak. Ada rombongan birokrat aparatur negara ada pula pegawai BUMN. Karir pribadi lebih penting dari segala hiruk pikuk pemilu. Apa maunya pimpinan ia ikuti. Bahkan kalaupun harus ikut iuran untuk mensukseskan ia akan lakoni.

Golongan ini juga tersebar di masyarakat. Penunggu serangan fajar dan uang bayaran. Tak peduli siapa calegnya. Tak peduli siapa presidennya. Yang penting yang ngasih duit itulah yang dipilih.

Jumlah golongan ini ternyata juga amat banyak. Mereka itulah yang menyebabkan caleg kedodoran. Harus menyiapkan 1 juta amplop degan isi yang lumayan. Mereka menjadi penyebab pemilu biaya tinggi.

Mereka juga menjadi penyebab caleg stress ketika gagal terpilih. Dan mereka pula yang menyebebkan politisi menjadi koruptor. Akhirnya yang menang masuk penjara yang kalah masuk rumah sakit jiwa. Karena pemilih macam ini.

Nah, Anda pemilih macam mana?

[ Oleh : Anab Afifi, adalah CEO Bostonprice Asia ]


Tulisan opini di media ini boleh dikutip dan dipublikasikan di media lainnya. Terima kasih jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (media Opiniindonesia.com). Untuk pengiriman artikel dan kerjasama, hubungi : redaksi@opiniindonesia.com